Resep Damai: Mengapa Demokrasi Tak Saling Serang

Selasa, 28 Oktober 2025 - 13:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Fakta mencolok: Negara demokrasi yang mapan hampir tidak pernah berperang satu sama lain. Apa rahasia di baliknya? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Fakta mencolok: Negara demokrasi yang mapan hampir tidak pernah berperang satu sama lain. Apa rahasia di baliknya? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Coba perhatikan peta konflik global. Kita melihat perang antara Rusia (otoriter) dan Ukraina; ketegangan di Timur Tengah; atau agresi Tiongkok (otoriter) terhadap Taiwan. Namun, ada satu fenomena sejarah yang sangat mencolok dan sulit dibantah: hampir tidak pernah ada perang antara dua negara yang sama-sama memiliki sistem demokrasi yang mapan.

Sebagai contoh, Prancis dan Jerman, yang berperang hebat di Perang Dunia, kini menjadi sekutu terdekat. Selain itu, Amerika Serikat, Kanada, dan seluruh Eropa Barat hidup dalam damai yang solid. Mengapa demikian? Teori Perdamaian Demokratis (Democratic Peace Theory) menawarkan penjelasan yang kuat.

Konsep Teori: Kompromi dan Biaya Perang

Teori ini berargumen bahwa negara demokrasi pada dasarnya bersifat damai, setidaknya terhadap sesama negara demokrasi. Ini bukan karena mereka malaikat, tetapi karena dua alasan struktural dan normatif yang fundamental.

  1. Norma Demokrasi: Di dalam negeri, negara demokrasi mengelola konflik melalui kompromi, negosiasi, dan debat publik, bukan dengan kekerasan. Akibatnya, para pemimpin terbiasa menghormati oposisi dan mencari solusi damai. Norma-norma ini kemudian terbawa ke panggung internasional. Saat berhadapan dengan negara demokrasi lain yang memiliki norma serupa, mereka cenderung menyelesaikan sengketa lewat diplomasi, bukan perang.
  2. Struktur Demokrasi: Berbeda dengan negara otoriter di mana seorang pemimpin bisa memutuskan perang sendirian, di negara demokrasi, pemimpin harus meminta izin. Mereka tidak bisa berperang tanpa persetujuan publik, parlemen, atau kongres. Tentunya, publik, sebagai pihak yang harus menanggung biaya perang (pajak, nyawa), cenderung sangat enggan berperang kecuali jika benar-benar terdesak. Struktur ini menciptakan “rem” alami terhadap agresi.
Baca Juga :  Skandal Rektor USU: KPK Selidiki Dugaan Korupsi Proyek Jalan di Sumut

Damai di Benua Biru

Contoh paling nyata dari teori ini adalah hubungan damai yang solid di antara negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara setelah Perang Dunia II. Wilayah yang tadinya menjadi pusat perang paling brutal di dunia kini menjadi zona damai yang paling stabil. Hal ini terjadi karena nilai-nilai demokrasi bersama dan institusi seperti Uni Eropa dan NATO menyatukan mereka.

Baca Juga :  Bagaimana Otoritas Dibangun dan Dipertahankan dalam Sebuah Negara

Perdamaian ini bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan perdamaian aktif yang berlandaskan kepercayaan dan interdependensi.

Kritik dan Kontroversi

Teori ini, meskipun kuat, bukannya tanpa kritik. Banyak yang berargumen bahwa orang-orang telah menyalahgunakan teori ini. Misalnya, apakah ini berarti negara demokrasi harus “mengekspor” demokrasi dengan paksa ke negara lain? Dalih ini sering digunakan untuk membenarkan intervensi militer, seperti invasi AS ke Irak, yang ironisnya justru menciptakan ketidakstabilan.

Meskipun kontroversial, fakta dasarnya tetap kuat: demokrasi adalah resep paling ampuh untuk perdamaian, setidaknya di antara mereka yang sama-sama menganutnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis
Iran Ancam Serangan Panjang dan Menyakitkan Terhadap Posisi AS
He Lifeng Serukan Penguatan Kerja Sama China-Belgia
Bocah 4 Tahun di Rokan Hilir Meninggal Diduga Diperkosa, Polisi Usut Tuntas

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:04 WIB

Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:58 WIB

Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:29 WIB

101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Menepis spekulasi. Pejabat senior Iran menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dalam kondisi kesehatan yang prima dan tetap menjalankan tugas negara secara aktif, membantah laporan mengenai cedera akibat serangan udara. Dok: Xinhua.

INTERNASIONAL

Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:04 WIB