Teror di Tanah Inggris: Scotland Yard Buru Proksi Kriminal

Jumat, 23 Januari 2026 - 14:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Siaga keamanan di Perth. Otoritas kepolisian Australia memberlakukan zona eksklusi di Terminal 1 Bandara Perth guna menginvestigasi laporan tas tak bertuan yang memicu penumpukan penumpang pada Rabu siang. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Siaga keamanan di Perth. Otoritas kepolisian Australia memberlakukan zona eksklusi di Terminal 1 Bandara Perth guna menginvestigasi laporan tas tak bertuan yang memicu penumpukan penumpang pada Rabu siang. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Jejak operasi intelijen asing yang menggunakan penjahat bayaran mulai tercium di Inggris. Komando kontra-terorisme Scotland Yard kini mengambil alih penyelidikan atas serangkaian serangan “sangat tertarget” terhadap dua disiden Pakistan yang hidup di pengasingan.

Polisi menduga serangan ini memiliki ciri khas operasi negara asing yang menggunakan “proksi kriminal” untuk membungkam kritik mereka di luar negeri.

Target utamanya adalah pendukung vokal mantan Perdana Menteri Pakistan yang kini dipenjara, Imran Khan. Salah satu korban, Mirza Shahzad Akbar (48), mantan anggota kabinet Khan, menceritakan kisah horor yang menimpa keluarganya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Malam Natal Berdarah

Serangan bermula pada Malam Natal. Di Chesham, Buckinghamshire, dua pria mendobrak rumah seorang disiden dan melakukan vandalisme.

Pada saat yang sama, di Cambridgeshire, teror menghampiri Akbar. “Saya membuka pintu dan seorang pria bertopeng mulai meninju saya setelah bertanya ‘apakah kamu Shahzad Akbar?’,” ungkapnya kepada The Guardian.

“Saya pasti mendapat 25-30 pukulan di wajah. Pria itu tampak terlatih… gerakan kakinya seperti petinju, hanya mengincar wajah saya.”

Baca Juga :  Anggota Damkar Dibegal di Jakpus, Dihajar Batu hingga Luka Parah - Ini Kronologinya

Akbar berhasil mendorong penyerang keluar, namun trauma mendalam tertinggal. “Anak-anak dan istri saya… mereka diteror dan menjerit,” tambahnya. Korban mencatat bahwa penyerangnya tampak berkulit terang atau putih, menguatkan dugaan penggunaan preman lokal bayaran.

Eskalasi: Senjata Api dan Zat Kimia

Atas saran polisi, Akbar dan keluarganya bersembunyi. Namun, teror berlanjut saat ia kembali sebentar ke rumahnya pada 31 Desember.

Hanya enam menit setelah Akbar pergi, CCTV merekam dua pria bertopeng. “Satu orang dengan senjata api menembak lurus ke jendela depan; tiga tembakan meletus dan menembus jendela,” kata Akbar. Pria lainnya mencoba membakar rumah dengan melempar kain berapi, namun gagal karena tetangga memergoki mereka.

Serangan ketiga terjadi pada 10 Januari. Pelaku menyemprotkan bahan kimia ke dinding luar, memecahkan jendela dengan batang besi, dan meninggalkan grafiti rasis.

“Mengejek” Inggris

Meskipun polisi telah menangkap satu pria berusia 34 tahun di Essex terkait insiden penembakan, Akbar merasa para dalang di balik serangan ini sedang “mengejek” Inggris.

Baca Juga :  Inggris Kembali Gabung Erasmus+, Pelajar Bisa Kuliah Gratis di Eropa

“Mereka mencoba menakut-nakuti dan mengintimidasi saya, dan saya cukup takut,” aku Akbar, yang juga pernah menjadi korban serangan air keras yang tak terpecahkan pada 2023. “Saya takut akan nyawa saya dan nyawa keluarga saya.”

Pejabat kontra-teror memperingatkan peningkatan serangan di Inggris oleh proksi kriminal yang bertindak atas nama negara-negara seperti Rusia, Iran, dan China. Namun, sumber keamanan menyebut bahwa Pakistan sebelumnya tidak pernah masuk dalam radar investigasi semacam ini, apalagi yang melibatkan senjata api.

Kritik untuk Kemlu Inggris

Sikap diam pemerintah Inggris menuai kritik tajam. Kelompok hak asasi manusia Reprieve, yang mendukung Akbar, menyebut kebisuan Kementerian Luar Negeri (Foreign Office) sebagai hal yang “memekakkan telinga”.

“Pemerintah harus secara terbuka mengutuk serangan mengerikan ini dan memperjelas bahwa tidak ada ruang untuk intimidasi kekerasan di tanah Inggris,” tegas juru bicara Reprieve.

Hingga kini, detektif Scotland Yard masih membuka segala kemungkinan mengenai motif di balik tiga insiden tersebut, sementara Akbar tetap hidup dalam persembunyian di negara yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal
Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot
Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Berita Terbaru

Peta baru industri hiburan interaktif. Krisis memori RAM global, kebijakan tarif impor, serta inflasi mengakhiri era konsol gaming murah 500 dolar AS secara permanen. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Krisis Memori dan Tarif Global Dorong Harga Gawai Gaming

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:00 WIB

Lini tayangan terlengkap bulan Agustus. Disney+ menyajikan konten bervariasi mulai dari Pokemon, tayangan spin-off Star Wars, hingga siaran langsung e-sports. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Minggu, 2 Agu 2026 - 11:00 WIB

Siasat baru pertahanan udara Ukraina. Zelenskyy mendesak Trump memediasi izin penggunaan jaringan Starlink untuk menggempur target di dalam wilayah Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:00 WIB