LONDON, POSNEWS.CO.ID – Jejak operasi intelijen asing yang menggunakan penjahat bayaran mulai tercium di Inggris. Komando kontra-terorisme Scotland Yard kini mengambil alih penyelidikan atas serangkaian serangan “sangat tertarget” terhadap dua disiden Pakistan yang hidup di pengasingan.
Polisi menduga serangan ini memiliki ciri khas operasi negara asing yang menggunakan “proksi kriminal” untuk membungkam kritik mereka di luar negeri.
Target utamanya adalah pendukung vokal mantan Perdana Menteri Pakistan yang kini dipenjara, Imran Khan. Salah satu korban, Mirza Shahzad Akbar (48), mantan anggota kabinet Khan, menceritakan kisah horor yang menimpa keluarganya.
Malam Natal Berdarah
Serangan bermula pada Malam Natal. Di Chesham, Buckinghamshire, dua pria mendobrak rumah seorang disiden dan melakukan vandalisme.
Pada saat yang sama, di Cambridgeshire, teror menghampiri Akbar. “Saya membuka pintu dan seorang pria bertopeng mulai meninju saya setelah bertanya ‘apakah kamu Shahzad Akbar?’,” ungkapnya kepada The Guardian.
“Saya pasti mendapat 25-30 pukulan di wajah. Pria itu tampak terlatih… gerakan kakinya seperti petinju, hanya mengincar wajah saya.”
Akbar berhasil mendorong penyerang keluar, namun trauma mendalam tertinggal. “Anak-anak dan istri saya… mereka diteror dan menjerit,” tambahnya. Korban mencatat bahwa penyerangnya tampak berkulit terang atau putih, menguatkan dugaan penggunaan preman lokal bayaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Eskalasi: Senjata Api dan Zat Kimia
Atas saran polisi, Akbar dan keluarganya bersembunyi. Namun, teror berlanjut saat ia kembali sebentar ke rumahnya pada 31 Desember.
Hanya enam menit setelah Akbar pergi, CCTV merekam dua pria bertopeng. “Satu orang dengan senjata api menembak lurus ke jendela depan; tiga tembakan meletus dan menembus jendela,” kata Akbar. Pria lainnya mencoba membakar rumah dengan melempar kain berapi, namun gagal karena tetangga memergoki mereka.
Serangan ketiga terjadi pada 10 Januari. Pelaku menyemprotkan bahan kimia ke dinding luar, memecahkan jendela dengan batang besi, dan meninggalkan grafiti rasis.
“Mengejek” Inggris
Meskipun polisi telah menangkap satu pria berusia 34 tahun di Essex terkait insiden penembakan, Akbar merasa para dalang di balik serangan ini sedang “mengejek” Inggris.
“Mereka mencoba menakut-nakuti dan mengintimidasi saya, dan saya cukup takut,” aku Akbar, yang juga pernah menjadi korban serangan air keras yang tak terpecahkan pada 2023. “Saya takut akan nyawa saya dan nyawa keluarga saya.”
Pejabat kontra-teror memperingatkan peningkatan serangan di Inggris oleh proksi kriminal yang bertindak atas nama negara-negara seperti Rusia, Iran, dan China. Namun, sumber keamanan menyebut bahwa Pakistan sebelumnya tidak pernah masuk dalam radar investigasi semacam ini, apalagi yang melibatkan senjata api.
Kritik untuk Kemlu Inggris
Sikap diam pemerintah Inggris menuai kritik tajam. Kelompok hak asasi manusia Reprieve, yang mendukung Akbar, menyebut kebisuan Kementerian Luar Negeri (Foreign Office) sebagai hal yang “memekakkan telinga”.
“Pemerintah harus secara terbuka mengutuk serangan mengerikan ini dan memperjelas bahwa tidak ada ruang untuk intimidasi kekerasan di tanah Inggris,” tegas juru bicara Reprieve.
Hingga kini, detektif Scotland Yard masih membuka segala kemungkinan mengenai motif di balik tiga insiden tersebut, sementara Akbar tetap hidup dalam persembunyian di negara yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















