Sayap Tradisi di Langit Delhi: Menjaga Kabootarbaazi

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Melintasi waktu di langit India. Di tengah kepungan modernitas New Delhi, sekelompok pria terus melestarikan Kabootarbaazi, tradisi melatih merpati peninggalan era Mughal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dok: REUTERS/Bhawika Chhabra.

Melintasi waktu di langit India. Di tengah kepungan modernitas New Delhi, sekelompok pria terus melestarikan Kabootarbaazi, tradisi melatih merpati peninggalan era Mughal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dok: REUTERS/Bhawika Chhabra.

Di balik gang-gang sempit dekat Jama Masjid, Old Delhi, sekelompok pria berkumpul di atas atap rumah setiap sore. Mereka sedang mempraktikkan tradisi kuno peninggalan Kekaisaran Mughal yang dikenal dengan nama Kabootarbaazi.

Azhar Udeen (30) adalah salah satu praktisi yang setia menjaga warisan ini. Bersama adik laki-laki dan teman-temannya, ia rutin melepaskan lebih dari 120 ekor merpati dari berbagai jenis ras. Selain itu, mereka melatih burung-burung tersebut untuk terbang dalam berbagai formasi indah di langit New Delhi yang sibuk.

Kabootarbaazi: Dari Pesan Rahasia ke Hobi Komunitas

Istilah Kabootarbaazi berasal dari bahasa Hindi dan Urdu yang berarti permainan merpati. Dahulu, para Raja Mughal memberikan perlindungan dan dukungan penuh terhadap tradisi ini. Burung merpati saat itu memiliki peran vital sebagai pembawa pesan rahasia dan simbol kemegahan istana.

“Saya melihat kakek saya melakukan ini sejak saya masih kecil,” ujar Udeen. Oleh karena itu, ketertarikannya tumbuh secara alami seiring bertambahnya usia. Ia kemudian memperdalam ilmunya dari seorang ustaz atau guru untuk mempelajari teknik-teknik khusus dalam mengendalikan kawanan merpati.

Proses Pelatihan: Disiplin Melawan Angin

Melatih merpati untuk terbang lurus melawan angin dan kembali setelah menempuh jarak jauh bukanlah perkara mudah. Proses ini membutuhkan waktu sekitar empat bulan dedikasi penuh. Para pelatih menggunakan suara cambuk yang dipukulkan ke permukaan keras untuk menciptakan bunyi nyaring.

Bunyi tersebut berfungsi sebagai instruksi bagi burung-burung agar terbang lebih jauh dan tetap berada dalam kelompoknya. Meskipun demikian, tantangan sebenarnya adalah memastikan burung-burung tersebut memiliki navigasi yang kuat untuk kembali ke atap pemiliknya. Keterampilan ini memerlukan kesabaran tinggi dan pemahaman mendalam tentang karakter setiap jenis burung.

Ruang Tenang di Tengah Kota yang Padat

Bagi banyak warga di kawasan Old Delhi, pertemuan di atas atap ini sama pentingnya dengan pelatihan merpati itu sendiri. Praktisi mendeskripsikan Kabootarbaazi sebagai penawar stres yang ampuh. Di tengah kepadatan dan hiruk-pikuk kota, atap-atap rumah ini menjadi kantong ketenangan bagi komunitas.

Baca Juga :  Tragis! Husain Tewas Tertembak di Dalam Mobil, Polisi Buru Pengendara Motor di Polman

“Kami duduk bersama teman-teman dan murid-murid kami, sehingga semua ketegangan dari pekerjaan atau rumah menghilang,” jelas Kahlifa Mohsin, pelatih merpati lainnya. Dengan demikian, tradisi ini berfungsi sebagai jembatan sosial yang mempererat ikatan antarwarga tanpa memandang latar belakang ekonomi.

Menjaga Identitas di Era Digital

Di tahun 2026 yang serba digital, Kabootarbaazi tetap berdiri tegak sebagai identitas budaya Delhi. Meskipun kawasan elit kota hanya berjarak beberapa kilometer, tradisi ini membuktikan bahwa akar sejarah tetap memiliki tempat di hati masyarakat modern.

Singkatnya, melestarikan pelatihan merpati ini bukan sekadar soal burung yang terbang di langit. Ini adalah soal menjaga sejarah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi agar tidak hilang ditelan arus modernisasi yang semakin cepat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis
Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya
14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis
Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 16:21 WIB

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:14 WIB

Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:30 WIB

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Berita Terbaru

Putusan panggung hukum Buffalo. Juri federal menyatakan Hadi Matar bersalah atas aksi terorisme internasional terkait penikaman novelis Salman Rushdie. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis

Jumat, 31 Jul 2026 - 16:21 WIB

Tragedi kematian massal satwa liar. Otoritas Kenya mencurigai racun sianida pada buah tomat di perbatasan Taman Nasional Amboseli sebagai pemicu kematian 15 gajah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya

Jumat, 31 Jul 2026 - 15:14 WIB