WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Bayang-bayang konflik Arktik menyelimuti pertemuan elite global di Davos, Swiss. Pada hari Selasa (21/1), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim pesan tegas: “tidak ada jalan mundur” (no going back) dari tujuannya untuk mengendalikan Greenland.
Trump, yang dijadwalkan bergabung dengan para pemimpin Eropa di Forum Ekonomi Dunia, menolak untuk mengesampingkan pengambilan paksa pulau Arktik tersebut. Ia bahkan menyerang sekutu NATO saat para pemimpin Eropa berjuang merumuskan respons terpadu.
Dalam unggahan di Truth Social pasca-pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Trump menulis, “Greenland sangat penting bagi Keamanan Nasional dan Dunia. Tidak ada jalan mundur – Mengenai hal itu, semua orang setuju!”
Ketika wartawan di Gedung Putih bertanya seberapa jauh ia bersedia bertindak, Trump menjawab singkat namun dingin: “Kalian akan tahu nanti.”
Sinyal Campuran: Ancaman dan Kompromi?
Namun, di tengah retorika kerasnya, Trump juga melontarkan sinyal yang lebih lunak. Dalam konferensi pers selanjutnya, ia menyatakan optimismenya akan solusi diplomatik.
“Kami akan menyusun sesuatu di mana NATO akan sangat senang dan kami akan sangat senang,” ujarnya. Ia menambahkan keyakinannya bahwa “segala sesuatunya akan berjalan cukup baik.”
Meskipun demikian, ambisi Trump untuk merebut kedaulatan Greenland dari sesama anggota NATO, Denmark, mengancam akan mengurai aliansi yang telah menopang keamanan Barat selama beberapa dekade.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Eropa Melawan Balik: “Kami Lebih Suka Rasa Hormat”
Di Davos, para pemimpin Eropa berusaha memproyeksikan kekuatan benua tersebut. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pesan tersirat namun tajam.
“Kami percaya bahwa kami membutuhkan lebih banyak pertumbuhan, kami membutuhkan lebih banyak stabilitas di dunia ini, tetapi kami lebih memilih rasa hormat daripada para penindas (bullies),” tegas Macron di panggung Davos.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen tetap tak tergoyahkan. Ia menegaskan tidak akan menyerah pada tuntutan Trump atau meninggalkan Greenland.
“Presiden Amerika sayangnya tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer, dan oleh karena itu kita semua juga tidak dapat mengesampingkannya,” katanya kepada wartawan, menyiratkan kesiapan pertahanan.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menggambarkan situasi ini sebagai “perubahan seismik”. Menurutnya, tekanan AS ini membuat Eropa perlu membangun “bentuk baru kemandirian Eropa” untuk mengurangi ketergantungan keamanan pada Washington.
Jalan Keluar: Berbagi Keamanan?
Di tengah kebuntuan, sebuah solusi alternatif muncul. Presiden Lithuania Gitanas Nauseda menyarankan jalan tengah kepada Reuters. Menurutnya, sebuah perjanjian tentang pembagian tanggung jawab (sharing responsibility) untuk keamanan Arktik dan Atlantik Utara bisa menjadi jalan keluar dari ketegangan ini tanpa harus ada aneksasi wilayah.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mencoba meredam kekhawatiran pasar. Ia menepis ketakutan akan perang dagang dan menyebut reaksi pasar sebagai “histeria” semata.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















