WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Dunia kini berada dalam hitungan mundur menuju eskalasi perang yang parah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran. Ia menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz segera.
Jika tenggat waktu berakhir pada Senin malam tanpa hasil, AS akan menghancurkan pembangkit listrik Iran. Iran merespons ancaman tersebut dengan peringatan yang mengerikan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa infrastruktur energi regional akan menjadi target sah. Hal ini berlaku jika AS menyerang fasilitas energi milik Iran.
Hujan Rudal di Dimona dan Arad
Ketegangan mencapai titik didih baru pada Minggu dini hari. Rudal balistik Iran menghantam kota Arad dan Dimona di Israel selatan. Publik mengenal Dimona sebagai lokasi pusat nuklir rahasia Israel.
Serangan ini menandai kegagalan pertama teknologi pertahanan udara Israel di kawasan sensitif tersebut. Otoritas medis melaporkan sekitar 200 orang terluka akibat ledakan. Dua anak kecil kini berada dalam kondisi kritis. Iran mengeklaim serangan ini sebagai aksi balas dendam atas sabotase di fasilitas nuklir Natanz.
Rudal Jarak Jauh Iran Sasar Diego Garcia
Langkah militer Iran kian agresif dengan pengerahan rudal jarak jauh. Panglima militer Israel, Eyal Zamir, melaporkan peluncuran dua rudal balistik ke pangkalan Diego Garcia. Rudal tersebut memiliki jangkauan hingga 4.000 km menuju Samudra Hindia.
Menteri Kabinet Inggris Steve Reed mengonfirmasi jatuhnya satu rudal di laut. Pasukan sekutu berhasil mencegat satu rudal lainnya. Reed menyebut ancaman Trump terhadap pembangkit listrik Iran sebagai pendapat pribadi. Menurutnya, hal itu bukan kebijakan kolektif sekutu. Ia juga membantah klaim bahwa Iran berencana menyerang daratan Eropa saat ini.
Krisis Energi dan Ancaman “Senin Hitam”
Blokade Selat Hormuz memicu krisis minyak terburuk sejak tahun 1970-an. Harga gas di Eropa melonjak 35 persen dalam waktu sepekan. Analis pasar mewaspadai potensi terjadinya “Senin Hitam” (Black Monday). Pasar saham global mungkin anjlok jika ultimatum Trump berujung pada serangan fisik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihak Teheran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran umum. Namun, mereka melarang kapal yang berafiliasi dengan musuh Iran melintas. Koordinasi ketat Garda Revolusi (IRGC) secara praktis telah melumpuhkan arus logistik energi dunia. Jalur sempit tersebut kini mengalami kemacetan total.
Kerusakan Global dan Peringatan WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa perang mencapai tahap berbahaya. Direktur Jenderal WHO menekankan risiko besar serangan terhadap fasilitas nuklir. Serangan semacam itu mengancam kesehatan masyarakat dan keamanan lingkungan secara permanen.
Konflik ini juga terus meluas ke negara-negara tetangga. Serangan udara menghantam pusat logistik AS di bandara Baghdad. Sementara itu, militer mendeteksi rudal Iran yang melintas di langit Riyadh. Sebuah kecelakaan helikopter militer di Qatar juga menewaskan enam orang personel. Daftar korban jiwa dalam pusaran konflik 2026 ini kian panjang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















