MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Roda diplomasi untuk mengakhiri perang empat tahun di Ukraina berputar semakin cepat. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, membawa kabar optimis setelah melakukan pembicaraan telepon penting pada Kamis (25/12/2025).
Zelenskyy berbicara selama satu jam dengan utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner. Menurutnya, diskusi tersebut melahirkan “ide-ide baru” yang segar untuk mendekatkan perdamaian nyata.
“Itu adalah percakapan yang sangat baik. Kami membahas banyak detail dan ide bagus,” tulis Zelenskyy di aplikasi Telegram. Lantas, ia menyebutkan adanya kemajuan terkait format pertemuan dan garis waktu (timeline) perdamaian.
Draf 20 Poin dan Masalah Wilayah
Fokus utama pembicaraan adalah draf rencana perdamaian 20 poin yang baru saja Ukraina ajukan awal pekan ini. Dokumen ini merupakan versi “ramping” dari rencana awal 28 poin.
Sebelumnya, draf 28 poin menuai kritik keras karena dianggap terlalu menguntungkan Moskow. Rencana lama itu menuntut Kyiv menyerahkan wilayah dan membatasi kekuatan militernya.
Meskipun draf baru lebih solid, Zelenskyy mengakui masih ada ganjalan besar. Pertanyaan kunci mengenai kedaulatan wilayah masih belum terpecahkan.
“Pertemuan dengan Trump akan sangat kami perlukan untuk menyelesaikan masalah paling sensitif ini,” tegas Zelenskyy.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, kepala negosiator Ukraina, Rustem Umerov, terus bekerja keras. Ia dijadwalkan menggelar putaran pembicaraan lanjutan dengan negosiator AS untuk memastikan langkah-langkah yang diambil realistis dan efektif.
Kremlin Analisis Dokumen, Kecam Eropa
Di Moskow, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengonfirmasi penerimaan dokumen tersebut. Saat ini, pihak Rusia sedang menganalisis proposal pengakhiran konflik yang dibawa oleh utusan khusus mereka, Kirill Dmitriev, dari Amerika Serikat.
Namun, nada bicara Moskow terdengar berbeda saat menyinggung Eropa. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, melancarkan serangan verbal kepada Benua Biru.
Ia menuduh negara-negara Eropa terus bertaruh pada konflik yang berkepanjangan. Menurutnya, Eropa tidak mempedulikan perdamaian dan hanya sibuk memikirkan dana yang mereka transfer ke Ukraina.
“Satu-satunya kesibukan mereka adalah dana yang seolah-olah mereka transfer ke Ukraina, lalu mereka dapatkan kembali,” sindir Zakharova.
Tawaran Pakta Non-Agresi ke NATO
Di tengah kritik tersebut, Zakharova justru menyodorkan tawaran mengejutkan. Ia menegaskan bahwa Rusia selalu terbuka untuk bekerja sama dengan Barat, asalkan ada penghormatan penuh terhadap hukum internasional.
Bahkan, Rusia siap memberikan jaminan keamanan konkret bagi tetangganya. Moskow bersedia mengonfirmasi secara formal bahwa mereka tidak memiliki rencana agresif terhadap negara-negara NATO dan Uni Eropa.
“Rusia siap memformalkan komitmen tersebut dalam bentuk dokumen tertulis yang mengikat secara hukum,” janji Zakharova.
Ia menekankan bahwa dokumen tersebut harus menjadi instrumen hukum internasional yang komprehensif. Dengan begitu, ketakutan Eropa akan ekspansi Rusia bisa mereda, membuka jalan bagi arsitektur keamanan baru di kawasan tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















