Kabar Baik dari Gaza: Status Kelaparan Dicabut, PBB Peringatkan Risiko Masih Tinggi

Minggu, 21 Desember 2025 - 08:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kelaparan di Gaza resmi berakhir! Bantuan mulai masuk pasca-gencatan senjata. Namun, PBB peringatkan krisis pangan dan penyakit masih mengancam 1,6 juta jiwa. Dok: Istimewa.

Kelaparan di Gaza resmi berakhir! Bantuan mulai masuk pasca-gencatan senjata. Namun, PBB peringatkan krisis pangan dan penyakit masih mengancam 1,6 juta jiwa. Dok: Istimewa.

GAZA CITY, POSNEWS.CO.ID – Secercah harapan akhirnya menyinari Jalur Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mengumumkan berakhirnya status kelaparan (famine) di wilayah tersebut.

Perubahan positif ini terjadi berkat peningkatan akses bantuan kemanusiaan yang signifikan. Sebelumnya, inisiatif Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) PBB sempat mendeklarasikan status kelaparan pada Agustus lalu.

“Tidak ada wilayah yang diklasifikasikan dalam status Kelaparan,” tegas laporan terbaru IPC.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi membaik seiring berlakunya gencatan senjata antara Israel dan Hamas sejak 10 Oktober. Kesepakatan itu melonggarkan pembatasan barang dan bantuan masuk. Akibatnya, pasokan makanan mulai mengalir, meski distribusinya masih fluktuatif dan tidak merata.

Dari Bencana ke Darurat

Data terbaru menunjukkan penurunan angka penderitaan yang drastis. Empat bulan lalu, IPC melaporkan 514.000 orang atau seperempat populasi Gaza mengalami kelaparan ekstrem.

Kini, angka tersebut menyusut menjadi sekitar 100.000 orang yang masih dalam kondisi bencana (catastrophic). IPC bahkan memproyeksikan jumlah ini akan terus turun hingga tersisa 1.900 orang pada April 2026.

Baca Juga :  Peringatan Keras China di PBB: Cegah Jepang

Meskipun demikian, seluruh Jalur Gaza masih berstatus “Fase Darurat”, satu tingkat di bawah bencana. Sekitar 1,6 juta orang diperkirakan masih akan menghadapi kerawanan pangan level krisis hingga pertengahan tahun depan.

Ancaman Malnutrisi Anak dan Ibu Hamil

PBB tetap membunyikan alarm waspada. Tingkat kelaparan, malnutrisi, dan penyakit masih berada di level “mengkhawatirkan tinggi”.

IPC memprediksi hampir 101.000 anak balita akan menderita malnutrisi akut tahun depan. Lebih dari 31.000 di antaranya masuk kategori kasus parah yang butuh penanganan segera. Selain itu, 37.000 ibu hamil dan menyusui juga menghadapi risiko serupa.

“Hanya akses, pasokan, dan pendanaan dalam skala besar yang dapat mencegah kelaparan kembali,” bunyi pernyataan bersama badan-badan PBB.

Perang Narasi dan Blokade Bantuan

Pengumuman ini memicu reaksi beragam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menyambut baik laporan tersebut sebagai bukti bahwa tidak ada kelaparan di Gaza. Namun, ia menuduh IPC menyajikan gambaran yang menyimpang karena hanya mengandalkan data truk PBB.

Baca Juga :  Pelaku Pembunuhan Gadis 17 Tahun di Jabung Malang Ditangkap Saat Sembunyi di Kos

Di sisi lain, lembaga kemanusiaan Oxfam menuding Israel masih menghambat bantuan. Direktur Advokasi Oxfam Prancis, Nicolas Vercken, mengungkapkan fakta miris.

“Oxfam sendiri memiliki bantuan senilai $2,5 juta, termasuk 4.000 paket makanan, yang tertahan di gudang tepat di seberang perbatasan. Otoritas Israel menolak semuanya,” kecam Vercken.

Musim Dingin dan Penyakit Mengintai

Tantangan Gaza tidak berhenti pada urusan perut. Musim dingin membawa ancaman baru berupa banjir dan hipotermia. Lebih dari 70 persen populasi kini tinggal di tempat penampungan darurat yang tidak layak.

Akses air bersih dan sanitasi sangat terbatas. Akibatnya, praktik buang air besar sembarangan meningkatkan risiko wabah penyakit menular. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengaku “patah hati” melihat penderitaan yang terus berlanjut.

“Kami membutuhkan lebih banyak penyeberangan, pencabutan birokrasi, dan akses tanpa hambatan,” desak Guterres.

Komite Penyelamatan Internasional (IRC) turut memperingatkan agar kemajuan ini tidak disalahartikan. Jika akses bantuan kembali terhambat, risiko kelaparan dan kematian yang dapat dicegah akan kembali dengan cepat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tecno POVA 8 Resmi Meluncur dengan Alive Matrix Display
DPO KKB Papua Tewas Ditembak Aparat Saat Kabur ke Hutan
Polisi Tangkap Pengendara PCX Bawa Obat Keras Saat Razia di Tamansari
Presiden Brazil Lula da Silva Peringatkan Donald Trump
Trump Tunda Sidang Konfirmasi Jay Clayton di Tengah Krisis
Trump Sebut Xi Jinping dan Vladimir Putin Bersikap Netral
Rusia Hantam Ibu Kota Ukraina dengan Rudal Balistik
Serangan Militer Israel Tewaskan Seribu Warga Gaza

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 16:32 WIB

Tecno POVA 8 Resmi Meluncur dengan Alive Matrix Display

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:57 WIB

DPO KKB Papua Tewas Ditembak Aparat Saat Kabur ke Hutan

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:14 WIB

Polisi Tangkap Pengendara PCX Bawa Obat Keras Saat Razia di Tamansari

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:25 WIB

Presiden Brazil Lula da Silva Peringatkan Donald Trump

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:19 WIB

Trump Tunda Sidang Konfirmasi Jay Clayton di Tengah Krisis

Berita Terbaru

Dokter urologi menjelaskan gejala pembesaran prostat yang menyebabkan pria sering buang air kecil pada malam hari dan mengganggu kualitas hidup. (Posnews/ist)

KESEHATAN

Sering Bangun Malam untuk Kencing? Bisa Jadi Gejala BPH

Kamis, 18 Jun 2026 - 16:37 WIB

Lompatan besar seri POVA. Tecno resmi meluncurkan POVA 8 dengan inovasi layar belakang Alive Matrix Display dan kapasitas baterai monster 8000 mAh. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Tecno POVA 8 Resmi Meluncur dengan Alive Matrix Display

Kamis, 18 Jun 2026 - 16:32 WIB

Petugas Satgas Operasi Damai Cartenz dan Polres Yahukimo mengamankan lokasi penindakan terhadap DPO KKB di Distrik Dekai, Papua Pegunungan. (Posnews/Ist)

HUKRIM

DPO KKB Papua Tewas Ditembak Aparat Saat Kabur ke Hutan

Kamis, 18 Jun 2026 - 15:57 WIB