JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Aroma dupa menyeruak di udara, bercampur dengan keheningan doa yang khusyuk. Namun, suasana sakral itu tiba-tiba terusik. Bukan oleh roh jahat, melainkan oleh hutan tongkat narsis dan lensa kamera yang berebut angle terbaik.
Fenomena ini kini menjadi pemandangan umum dalam upacara adat besar di Indonesia. Entah itu Ngaben di Bali atau Rambu Solo di Toraja, ritual kematian yang seharusnya hening berubah menjadi panggung tontonan yang riuh.
Kamera ponsel wisatawan dan konten kreator mengepung para pemangku adat. Seketika, batas antara ibadah suci dan atraksi wisata menjadi kabur. Kita sedang menghadapi benturan keras antara nilai sakral dan nafsu viral.
Promosi Gratis dan Kebanggaan Lokal
Kita tidak bisa menutup mata terhadap dampak positifnya. Faktanya, kehadiran media sosial membawa angin segar bagi pariwisata daerah.
Video-video viral di TikTok atau Instagram berfungsi sebagai promosi gratis yang sangat efektif. Dunia menjadi tahu kekayaan budaya Nusantara yang eksotis. Lantas, ekonomi lokal bergerak karena kunjungan turis meningkat.
Selain itu, eksposur ini membangkitkan kebanggaan identitas pada generasi muda lokal. Mereka melihat budaya mereka dipuja oleh dunia. Akibatnya, semangat untuk melestarikan tradisi kembali menyala di kalangan milenial adat.
Desakralisasi: Hilangnya Jiwa Ritual
Di sisi lain, harga yang harus kita bayar sangatlah mahal. Ancaman terbesar adalah desakralisasi atau hilangnya nilai kesucian ritual.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran penonton yang agresif sering kali mengganggu kekhusyukan doa. Bahkan, terkadang ritual mengalami komodifikasi. Penyelenggara memodifikasi durasi atau tata cara upacara hanya demi memuaskan selera penonton yang tidak sabaran.
Ritual yang sejatinya adalah dialog manusia dengan Sang Pencipta, berubah menjadi pertunjukan teater semata. Jiwa spiritualnya menguap, menyisakan cangkang visual yang kosong.
Etika Turis yang Menabrak Batas
Konflik makin tajam saat privasi spiritual masyarakat adat berbenturan dengan etika turis yang buruk. Kita sering melihat wisatawan memanjat bangunan suci atau berpakaian tidak pantas demi konten.
Parahnya lagi, kamera sering menyorot wajah keluarga yang sedang berduka secara close-up tanpa izin. Bagi kreator, itu adalah momen emosional yang “menjual”. Namun bagi keluarga, itu adalah eksploitasi kesedihan yang tidak etis.
Masyarakat adat sering kali merasa serba salah. Mereka ingin ramah pada tamu, tetapi mereka juga ingin menjaga kesucian leluhur mereka.
Jalan Tengah: Zona Bebas Kamera
Pada akhirnya, kita harus mencari jalan tengah yang bijak. Mempromosikan budaya tidak harus dengan membunuh jiwanya.
Pengelola wisata dan desa adat perlu menerapkan aturan tegas. Misalnya, menetapkan “zona bebas kamera” di area inti ritual. Wisatawan boleh menonton, tapi harus dari jarak yang menghormati.
Edukasi bagi pengunjung adalah kunci. Kita harus paham bahwa kita adalah tamu di rumah ibadah orang lain, bukan sutradara di lokasi syuting. Ingatlah, budaya hidup karena nilainya, bukan sekadar karena viralnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















