Lebih dari Sekadar Lukisan: Menggali Sejarah Seni

Kamis, 25 Desember 2025 - 17:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Seni bukan cuma milik museum! Program pascasarjana ini bongkar batasan kaku sejarah seni. Simak kurikulum unik yang gabungkan arsitektur kuno, lukisan Prancis, hingga peran wanita yang terlupakan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Seni bukan cuma milik museum! Program pascasarjana ini bongkar batasan kaku sejarah seni. Simak kurikulum unik yang gabungkan arsitektur kuno, lukisan Prancis, hingga peran wanita yang terlupakan. Dok: Istimewa.

Dunia seni sering kali terkesan elitis dan eksklusif. Banyak orang mengira sejarah seni hanya membahas lukisan mahal di museum sunyi. Namun, Departemen Sejarah Seni yang beroperasi di bawah Fakultas Sejarah menawarkan perspektif yang menyegarkan.

Mereka membuka program pascasarjana satu tahun bertajuk “Sejarah Seni dan Budaya Visual”. Menariknya, program ini menyambut pelamar dari berbagai latar belakang akademis.

Anda tidak perlu memiliki gelar sarjana sejarah seni untuk mendaftar. Tujuannya jelas, mereka ingin mendefinisikan ulang batas-batas disiplin ilmu ini. Kursus ini mencakup objek dan media visual yang jauh lebih luas daripada kurikulum konvensional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melampaui Estetika Murni

Program ini menggabungkan gambar dan objek dari berbagai konteks, mulai dari ilmiah hingga populer. Lantas, mahasiswa diajak memahami bagaimana gaya visual pada periode dan tempat berbeda berhubungan erat dengan aspek estetika, intelektual, dan sosial budaya.

Inti dari program ini adalah mata kuliah wajib “Teori dan Metode”. Di sini, mahasiswa akan menyelami isu-isu metodologis utama. Mereka tidak hanya belajar tentang produksi seni, tetapi juga bagaimana orang merespons karya tersebut.

Baca Juga :  Pemerintah Buka Magang Digaji untuk Lulusan Baru Mulai 6 November, Cek Syarat dan Tips Lolosnya!

Para tutor akan membedah karya seni dari berbagai budaya. Hal ini bertujuan menunjukkan bahwa konteks adalah aspek yang sama pentingnya dengan metode artistik itu sendiri.

Dari Pemalsuan hingga Kubisme

Selain mata kuliah inti, mahasiswa wajib mengambil dua mata kuliah pilihan satu semester. Opsinya sangat beragam dan menantang pemikiran kritis.

Salah satu yang menarik adalah kursus “Keaslian dan Replikasi”. Mahasiswa akan mengeksplorasi ide tentang “yang asli” (the real) versus “yang palsu” (fraudulent) dalam kerangka lintas budaya.

Konteks sejarahnya terentang luas, mulai dari Yunani dan Romawi kuno hingga Tiongkok modern awal dan seni kontemporer. Bahkan, perjalanan ke museum menjadi bagian integral untuk melihat langsung objek-objek tersebut.

Bagi pencinta modernisme, kursus “Lukisan Prancis 1880-1912” menawarkan analisis mendalam. Fokusnya bukan sekadar melacak gaya, melainkan melihat bagaimana praktik artistik terkait erat dengan perkembangan zaman, termasuk munculnya sinema dan Kubisme.

Menggali Peran Wanita yang Terlupakan

Program ini juga menyoroti sisi sejarah yang sering terabaikan. Kursus “Wanita, Seni, dan Budaya di Eropa Modern Awal” mengeksplorasi peran wanita pada abad ke-15 hingga ke-17.

Setelah sekian lama terabaikan, kontribusi wanita dalam seni dan arsitektur akhirnya terungkap. Kursus ini meneliti karier seniman wanita profesional di Eropa Utara dan Selatan.

Baca Juga :  Gudang Dekorasi Pesta di Jaktim Terbakar, 15 Karyawan Selamat – Kerugian Rp1,7 Miliar

Selain itu, peran patron wanita terkenal seperti Isabella d’Este dan Catherine de Medici juga menjadi sorotan. Bagaimana mereka memengaruhi karier seniman dan persepsi luas tentang seni? Semua akan terjawab di sini.

Seni Abad Pertengahan dan Klasik

Bagi yang menyukai masa lalu yang lebih jauh, tersedia kursus “Seni Eropa Abad Pertengahan”. Mata kuliah ini membahas akar penemuan artistik dan metode pengajaran teknik pada masa itu.

Mahasiswa akan meneliti ruang lingkup orisinalitas di tengah sistem bengkel kerja (workshop) di mana seniman muda bekerja sebagai asisten.

Sementara itu, kursus “Resepsi Seni Eropa Klasik” melacak dampak penemuan barang antik klasik sejak abad ke-14. Seniman kontemporer saat itu merespons dengan berbagai cara: menyalin, merestorasi, atau menafsirkan ulang secara bebas.

Fokusnya mencakup patung marmer, lukisan vas, hingga arsitektur kuil Yunani kuno yang direplikasi menjadi suvenir bagi para pelancong abad ke-19.

Pada akhirnya, program ini menawarkan perjalanan intelektual yang kaya. Mahasiswa tidak hanya belajar melihat seni, tetapi juga memahami jiwa zaman yang melahirkannya. Disertasi 15.000 kata akan menjadi puncak pembuktian pemahaman mereka.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB