Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump memicu perdebatan hukum besar mengenai wewenang panglima tertinggi dalam menyatakan perang. Trump mengeklaim bahwa gencatan senjata telah menghentikan permusuhan terhadap Iran. Langkah ini ia ambil guna memperkuat argumen bahwa pemerintah tidak memerlukan izin anggota parlemen untuk melanjutkan operasi di kawasan tersebut.

Trump mengirimkan surat resmi kepada pimpinan Kongres pada hari Jumat. Hari tersebut merupakan batas waktu bagi presiden untuk datang ke Kongres terkait perang Iran. “Permusuhan yang bermula pada 28 Februari 2026 telah berakhir,” tegas Trump dalam suratnya. Ia menyebut tidak ada lagi aksi saling tembak dengan Iran sejak gencatan senjata berlaku.

Resolusi Kekuatan Perang 1973 dan Batas 60 Hari

Berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang 1973, seorang presiden hanya dapat melancarkan aksi militer selama 60 hari tanpa izin Kongres. Setelah masa itu berakhir, presiden harus mengakhiri operasi atau meminta otorisasi khusus. Muncul juga opsi perpanjangan 30 hari jika terdapat kebutuhan militer yang mendesak terkait keselamatan pasukan.

Trump memberikan notifikasi resmi kepada Kongres dua hari setelah serangan udara pertama pada akhir Februari lalu. Hal ini memulai perhitungan waktu 60 hari yang jatuh tempo pada 1 Mei. Oleh karena itu, manuver Trump mengenai gencatan senjata bertujuan untuk menyiasati tenggat waktu tersebut tanpa harus tunduk pada kontrol legislatif.

Baca Juga :  Serangan Udara di Gaza dan Penembakan Remaja di Tepi Barat Picu Duka Mendalam

Penolakan Demokrat: Blokade Laut Adalah Permusuhan

Para politisi Demokrat di Kongres segera menepis narasi gencatan senjata tersebut. Mereka menegaskan bahwa undang-undang tahun 1973 tidak mengenal pengecualian berdasarkan gencatan senjata sepihak. Selain itu, pengerahan kapal-kapal AS untuk memblokade ekspor minyak Iran merupakan bukti nyata bahwa permusuhan masih berlangsung.

“Presiden Trump tetap tidak memiliki strategi atau jalan keluar untuk perang yang terencana dengan buruk ini,” ujar Senator Jeanne Shaheen. Sebagai pimpinan Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, ia menyebut batas waktu tersebut sebagai ambang hukum yang jelas. Menurutnya, Trump sengaja mengabaikan kedaulatan hukum demi mempertahankan ambisi militernya.

Debat Konstitusional: Hak Panglima Tertinggi

Di sisi lain, Trump secara terbuka menganggap undang-undang kekuatan perang tersebut tidak konstitusional. Banyak presiden dari kedua partai sebelumnya juga berpendapat serupa. Mereka menilai aturan itu melanggar kekuasaan presiden sebagai panglima tertinggi sesuai Konstitusi AS.

Baca Juga :  Trump Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Eropa Akibat Sengketa Selat Hormuz

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami memiliki gencatan senjata, jadi itu memberi Anda waktu tambahan,” ujar Trump sebelum bertolak menuju Florida. Pakar hukum mencatat bahwa masalah ini belum pernah diputuskan secara final oleh pengadilan. Hal ini memberikan ruang bagi presiden untuk bertindak secara unilateral di tengah kebuntuan politik Washington.

Skenario “Jam Baru” Jika Perang Meletus

Masyarakat internasional kini menanti langkah Trump selanjutnya jika pertempuran kembali pecah. Jika permusuhan fisik berlanjut, Trump dapat mengeklaim dimulainya periode 60 hari yang baru. Strategi “intermiten” atau terputus-putus seperti ini sering dilakukan oleh presiden terdahulu untuk menghindari pengawasan Kongres.

Singkatnya, krisis ini bukan hanya soal Iran, melainkan soal keseimbangan kekuasaan di Amerika Serikat. Di tahun 2026 yang penuh gejolak geopolitik, interpretasi kreatif terhadap undang-undang lama menjadi senjata utama eksekutif untuk menjalankan kebijakan luar negeri yang agresif tanpa hambatan legislatif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku
Imigrasi Soetta Gagalkan 23 Calon Haji Nonprosedural ke Jeddah, Total 42 Orang Dicegah
Trump Sebut Angkatan Laut AS Bertindak Seperti Bajak Laut
Cuaca Jabodetabek Minggu 3 Mei 2026, Hujan Lebat Guyur Sejumlah Wilayah
6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:54 WIB

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:24 WIB

Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:11 WIB

Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terbaru

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Ketegangan di jantung Eropa. Pentagon resmi mengumumkan penarikan sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman sebagai balasan atas kritik keras Kanselir Friedrich Merz terhadap kepemimpinan Donald Trump dalam perang Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:54 WIB