WYOMING – Taman Nasional Yellowstone terkenal dengan geyser dan keindahan alamnya. Namun, di bawah permukaan tanah yang tenang itu, bersemayam raksasa tidur yang menakutkan: sebuah supervolcano.
Istilah ini merujuk pada pusat vulkanik yang pernah meletus dengan kekuatan magnitudo 8 pada Indeks Eksplosifitas Vulkanik (VEI). Letusan semacam itu memuntahkan lebih dari 1.000 kilometer kubik material.
Profesor George Peters menggambarkan skenario terburuknya. “Letusan besar akan melenyapkan sekelilingnya dalam radius ratusan kilometer dan menutupi sisa Amerika Serikat serta Kanada dengan abu tebal,” ujarnya.
Dampaknya bisa mematikan pertanian dan memicu pendinginan iklim global selama satu dekade. Meskipun terdengar mengerikan, ahli geologi Tony Masters menenangkan publik.
“Semua letusan VEI 8 terjadi puluhan ribu hingga jutaan tahun lalu. Letusan lain mungkin terjadi, tetapi sangat tidak mungkin dalam sejuta tahun ke depan,” jelas Masters.
Mitos Penemuan Satelit dan Fakta Lapangan
Kontroversi sempat menyelimuti sejarah penemuan kaldera raksasa ini. Media pernah menuduh Survei Geologi AS (USGS) lalai karena baru mengidentifikasi supervolcano tersebut setelah melihat foto satelit NASA.
Juru bicara USGS, Alice Wheeler, membantah keras klaim itu. Faktanya, ilmuwan USGS telah memetakan batas kaldera jauh sebelum era antariksa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dia melacak batas kaldera melalui kerja lapangan kuno, berjalan dengan palu dan lensa tangan,” tegas Wheeler. NASA pun sepakat bahwa rumor tersebut tidak berdasar.
Penemuan Reservoir Magma Raksasa
Kecemasan publik kembali memuncak setelah penemuan terbaru. Seismolog Universitas Utah menggunakan teknik tomografi seismik untuk memindai isi perut bumi.
Mahasiswa pascasarjana Julia Grey menjelaskan hasilnya. “Kami menemukan bahwa ada dua reservoir magma, satu dangkal dan satu dalam. Ternyata, ukurannya jauh lebih besar dari yang diyakini sebelumnya.”
Reservoir dangkal sudah diketahui sebelumnya. Namun, reservoir dalam adalah temuan baru yang mengejutkan. Reservoir ini membentang dari kedalaman 20 hingga 50 kilometer. Volumenya sekitar 4,5 kali lebih besar daripada kantong magma dangkal di atasnya.
Meskipun ukurannya masif, reservoir ini hanya mengandung sekitar 2 persen lelehan batuan (melt). Padahal, magma biasanya tidak akan meletus kecuali kandungan lelehannya melebihi 50 persen.
Siklus Kematian: Gunung yang Menua
Media massa dengan cepat mendramatisasi temuan ini. Sebaliknya, ilmuwan taman nasional Amy Brent menanggapi dengan tenang.
“Temuan ini tidak meningkatkan penilaian bahaya vulkanik. Justru, riset ini memberikan gambaran yang lebih baik tentang sistem magmatik,” katanya.
Banyak laporan independen mendukung pandangan bahwa Yellowstone mungkin sedang sekarat. Geolog pemerintah AS, Andrea Haller, menjelaskan bahwa aktivitas saat ini menunjukkan tanda-tanda siklus akhir.
“Kami mengamati banyak material di kamar magma yang mewakili batuan vulkanik daur ulang,” ungkap Haller.
Artinya, gunung ini mendaur ulang sisa-sisa letusan lama alih-alih memproduksi magma segar dari kerak bumi. Potensi pelelehan kerak di masa depan semakin menipis. Yellowstone diyakini sedang berada pada siklus kaldera ketiga dan terakhirnya menuju kematian geologis.
Pada akhirnya, meskipun statusnya “sekarat”, Yellowstone tetaplah entitas geologis yang aktif. Penutupan taman akibat aktivitas vulkanik minor mungkin masih akan terjadi, namun skenario kiamat supervolcano tampaknya masih jauh dari kenyataan di masa hidup kita.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















