Tragedi Wang Fuk Court: 168 Nyawa Melayang, Korban Mulai Masuki Reruntuhan Apartemen Hong Kong

Selasa, 21 April 2026 - 10:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mencari sisa kenangan. Warga korban kebakaran apartemen paling mematikan di Hong Kong mulai masuk ke reruntuhan rumah mereka guna mencari barang berharga di bawah pengawasan ketat aparat keamanan pada Senin pagi. Dok: REUTERS/Tyrone Siu.

Mencari sisa kenangan. Warga korban kebakaran apartemen paling mematikan di Hong Kong mulai masuk ke reruntuhan rumah mereka guna mencari barang berharga di bawah pengawasan ketat aparat keamanan pada Senin pagi. Dok: REUTERS/Tyrone Siu.

TAI PO, POSNEWS.CO.ID – Suasana haru menyelimuti distrik Tai Po saat ratusan warga kembali ke bekas tempat tinggal mereka yang kini hanya menyisakan puing hitam. Pemerintah secara resmi membuka akses terbatas bagi para korban kebakaran apartemen Wang Fuk Court untuk pertama kalinya sejak bencana bulan November lalu.

Dalam konteks ini, langkah tersebut bertujuan guna memberikan kesempatan bagi warga untuk mengambil barang berharga yang mungkin selamat. Oleh karena itu, otoritas menerapkan pengamanan berlapis guna menjamin keselamatan para penghuni di tengah struktur bangunan yang rapuh.

Protokol Keamanan dan Batas Waktu Tiga Jam

Otoritas Hong Kong menetapkan aturan yang sangat ketat bagi setiap pengunjung. Setiap warga wajib mengenakan masker, helm, dan sarung tangan pelindung sebelum memasuki flat mereka. Selain itu, petugas membatasi durasi kunjungan maksimal hanya tiga jam bagi setiap keluarga.

“Saya harap semua orang mematuhi aturan tiga jam ini,” tegas Wakil Sekretaris Utama Hong Kong, Warner Cheuk. Sekitar 1.000 staf, termasuk petugas pemadam kebakaran, bersiaga guna mendampingi estimasi 6.000 pengunjung hingga 4 Mei mendatang. Langkah ini sangat krusial mengingat kondisi fisik bangunan yang mengalami kerusakan struktural parah setelah terbakar selama dua hari penuh.

Baca Juga :  Zambia Cabut Pajak BBM guna Lindungi Ekonomi dari Dampak Perang Iran

Kesaksian Warga dan Beban Ekonomi Lansia

Steven Chung (50) merupakan salah satu dari 270 warga yang datang pada hari Senin. Ia keluar dengan membawa beberapa lukisan dan peralatan komputer yang masih utuh. Meskipun demikian, Chung merasa sangat cemas mengenai masa depannya. “Saya khawatir menemukan hunian yang terjangkau setelah ini,” ujarnya kepada wartawan.

Banyak korban yang terdampak merupakan kelompok lansia yang rentan secara ekonomi. Data dari Midland Realty menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga penghuni apartemen tersebut berusia di atas 65 tahun. Akibatnya, kehilangan tempat tinggal subsidi ini menjadi pukulan finansial yang sangat berat bagi mereka di tahun 2026 ini.

Investigasi Skandal Konstruksi dan “Bid-Rigging”

Bulan-bulan setelah kebakaran tidak meredakan kemarahan publik Hong Kong. Masyarakat mendesak transparansi mengenai penyebab api yang begitu cepat melalap tujuh menara berlantai 31 tersebut. Komite independen kini sedang melakukan serangkaian sidang terbuka.

Baca Juga :  Skandal Epstein Guncang Inggris: Mantan Dubes Peter Mandelson Ditangkap Polisi

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, tim hukum panel tersebut menyalahkan faktor manusia atas kegagalan sistem keselamatan kebakaran. Terlebih lagi, muncul bukti kuat mengenai praktik kecurangan tender (bid-rigging) yang melibatkan perusahaan konstruksi dalam proyek pembangunan apartemen tersebut. Pemerintah bahkan mengeluarkan peringatan keras bagi pihak-pihak yang mencoba “mempolitisasi” bencana kemanusiaan ini.

Menanti Kepastian Ganti Rugi

Pemerintah Hong Kong melalui Biro Perumahan telah memutuskan untuk tidak melakukan pembangunan kembali di lokasi tersebut. Pada akhirnya, alasan ketidakpastian struktur dan durasi waktu yang lama menjadi pertimbangan utama pembatalan proyek rekonstruksi.

Dengan demikian, fokus saat ini adalah proses buy-out atau pembelian kembali unit dari para pemilik. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar HK$4 miliar guna menyelesaikan masalah kepemilikan ini. Dunia internasional kini memantau seberapa adil Hong Kong dalam memberikan keadilan bagi 168 nyawa yang hilang dalam salah satu kebakaran apartemen terburuk di abad ke-21 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hangat dan Penuh Makna, Prabowo-Titiek Rayakan Ultah ke-67 Bersama Keluarga
Batas Kebebasan Bicara Disorot, Pigai: Ada Risiko Hukum Jika Ganggu Stabilitas
Kebakaran Hebat Hanguskan 1.000 Rumah, 9.000 Warga Sabah Mengungsi
Diduga Sopir Main HP, Bus Calon Haji Terguling di OKU Timur – 8 Penumpang Terluka
Heboh di Dumai, 56 PMI Nyaris Dikirim Ilegal ke Malaysia – 7 WNA Diamankan
Prakiraan Cuaca Hari Ini, Jakarta Cerah Pagi – Hujan Guyur Bogor hingga Bekasi Sore
17.000 Pasukan Gabungan Mulai Latihan Balikatan 2026
KPK Beberkan Modus Kotor Proyek, Panjer, Suap – hingga Fee untuk Menang Tender

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 10:29 WIB

Tragedi Wang Fuk Court: 168 Nyawa Melayang, Korban Mulai Masuki Reruntuhan Apartemen Hong Kong

Selasa, 21 April 2026 - 09:14 WIB

Hangat dan Penuh Makna, Prabowo-Titiek Rayakan Ultah ke-67 Bersama Keluarga

Selasa, 21 April 2026 - 08:35 WIB

Batas Kebebasan Bicara Disorot, Pigai: Ada Risiko Hukum Jika Ganggu Stabilitas

Selasa, 21 April 2026 - 08:23 WIB

Kebakaran Hebat Hanguskan 1.000 Rumah, 9.000 Warga Sabah Mengungsi

Selasa, 21 April 2026 - 08:12 WIB

Diduga Sopir Main HP, Bus Calon Haji Terguling di OKU Timur – 8 Penumpang Terluka

Berita Terbaru

Tragedi di pesisir Borneo. Kebakaran dahsyat menghancurkan pemukiman kampung air di Sandakan, memaksa ribuan warga marginal kehilangan tempat tinggal di tengah tantangan infrastruktur keselamatan yang kronis. Dok: AP.

INTERNASIONAL

Kebakaran Hebat Hanguskan 1.000 Rumah, 9.000 Warga Sabah Mengungsi

Selasa, 21 Apr 2026 - 08:23 WIB