JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tenggara Newfoundland, terbentang dataran tinggi bawah laut seluas 93.200 kilometer persegi. Area ini dikenal sebagai Grand Banks. Di sinilah Arus Labrador yang dingin bertemu dengan Arus Teluk yang hangat.
Pertemuan dua arus raksasa ini mengangkat nutrisi dari dasar laut ke permukaan. Seketika, kondisi ini menciptakan salah satu tempat pemijahan ikan terkaya di dunia. Kehidupan laut tumbuh subur di perairan yang dangkal namun berbahaya ini.
Nelayan harus bertaruh nyawa menghadapi kabut tebal, gunung es, dan badai musim dingin yang ganas. Namun, kekayaan alam di balik ombak ganas itu terlalu menggoda untuk dilewatkan.
Jejak Viking dan Penemuan Cabot
Sejarah mencatat John Cabot sebagai penemu resmi area ini pada 1497. Namun, fakta sejarah menunjukkan cerita lain. Kapal-kapal Inggris dan Portugis sebenarnya telah menjelajahi perairan ini jauh sebelumnya.
Mereka mengikuti jejak pelayaran Viking kuno. Beberapa teks lama bahkan menyebut tanah bernama Bacalao atau “negeri ikan kod”. Setelah Cabot melaporkan kelimpahan ikan yang luar biasa, nelayan Eropa langsung menyerbu kawasan tersebut.
Prancis memelopori teknik perikanan “basah” sekitar tahun 1550. Mereka menggarami ikan kod langsung di atas kapal, sehingga bisa segera kembali ke Eropa dengan muatan segar.
Kehancuran Akibat Pukat Harimau
Puncak kejayaan Grand Banks terjadi pada abad ke-19 dan 20. Sayangnya, kemajuan teknologi justru membawa petaka. Penggunaan sonar dan kapal pukat pabrik raksasa (factory freezer trawlers) pada 1950-an memicu penangkapan ikan yang gila-gilaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Armada asing, termasuk dari Rusia, datang dengan kekuatan penuh. Mereka mengeruk ikan dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Akibatnya, stok ikan kod menipis drastis.
Pada akhir 1980-an, hasil tangkapan mulai anjlok. Pemerintah Kanada dan warga pesisir akhirnya sadar. Penangkapan ikan berlebihan (overfishing) telah menghancurkan sumber daya alam mereka.
Lantas, pada 1992, pemerintah Kanada mengambil langkah ekstrem. Mereka mendeklarasikan moratorium total untuk penangkapan ikan kod utara sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Tanda-Tanda Kehidupan Kembali
Setelah hampir dua puluh tahun pembatasan ketat, harapan mulai muncul. Dalam sepuluh tahun terakhir, ikan kod terlihat kembali ke Grand Banks dalam jumlah kecil.
Ilmuwan menduga kerusakan akibat pukat harimau mungkin tidak permanen. Ekosistem laut perlahan memulihkan diri jika manusia memberinya waktu istirahat yang cukup.
Meskipun demikian, kita harus tetap waspada. Stok ikan kod saat ini baru mencapai sekitar 10 persen dari level tahun 1960-an. Pemulihan penuh mungkin membutuhkan waktu satu atau dua dekade lagi.
Ancaman Baru: Emas Hitam
Di tengah pemulihan yang rapuh, Grand Banks menghadapi tantangan baru. Perusahaan minyak menemukan cadangan minyak bumi yang melimpah di wilayah tersebut.
Ladang minyak Hibernia yang raksasa mulai berproduksi pada 1997. Tercatat, sumur ini menghasilkan lebih dari 50.000 barel minyak mentah per hari.
Kini, risiko bencana ekologis mengintai. Aktivitas gempa bumi dan gunung es di Grand Banks berpotensi merusak infrastruktur minyak. Jika tumpahan minyak terjadi, “ladang ikan” yang baru saja mulai bernapas lega ini bisa mati kembali dalam sekejap.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















