Israel Usir Puluhan Organisasi Bantuan dari Gaza, Krisis Kemanusiaan Memburuk

Rabu, 31 Desember 2025 - 05:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Gaza di ambang bencana baru! Israel hentikan izin ActionAid hingga MSF dalam 36 jam. 10 negara kecam keras di tengah badai musim dingin. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Gaza di ambang bencana baru! Israel hentikan izin ActionAid hingga MSF dalam 36 jam. 10 negara kecam keras di tengah badai musim dingin. Dok: Istimewa.

YERUSALEM,  POSNEWS.CO.ID – Krisis kemanusiaan di Gaza semakin mencekam. Pemerintah Israel mengeluarkan pengumuman mengejutkan pada Selasa (30/12/2025). Mereka akan menghentikan operasional puluhan organisasi bantuan internasional di wilayah tersebut dalam waktu 36 jam.

Daftar organisasi yang terkena dampak mencakup nama-nama besar seperti ActionAid, International Rescue Committee, dan Médecins Sans Frontières (MSF). Alasannya, kelompok-kelompok ini gagal memenuhi persyaratan baru yang ketat.

Israel menuntut penyerahan data pribadi staf Palestina dan internasional yang bertugas di lapangan. Tujuannya, menurut Kementerian Diaspora Israel, adalah untuk memastikan keamanan dan transparansi serta memutus hubungan dengan terorisme.

“Organisasi yang gagal memenuhi persyaratan akan ditangguhkan izinnya,” tegas kementerian tersebut.

10 Negara Asing “Sangat Prihatin”

Keputusan ini memicu reaksi global. Menteri Luar Negeri dari 10 negara, termasuk Inggris, Kanada, Jepang, dan Prancis, merilis pernyataan bersama yang keras. Mereka menyatakan “keprihatinan serius” atas memburuknya situasi kemanusiaan.

“Warga sipil di Gaza menghadapi kondisi yang mengerikan dengan hujan lebat dan suhu yang menurun saat musim dingin tiba,” bunyi pernyataan tersebut.

Baca Juga :  Warisan Dunia di Ujung Tanduk: Antara Pelestarian, Perang, dan Serbuan Turis

Para menteri menyoroti fakta bahwa 1,3 juta orang masih membutuhkan tempat berlindung darurat. Selain itu, lebih dari setengah fasilitas kesehatan lumpuh sebagian. Runtuhnya infrastruktur sanitasi juga membuat 740.000 orang rentan terhadap banjir beracun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu, mereka mendesak Israel untuk mencabut pembatasan impor barang “guna ganda” yang tidak masuk akal. Ratusan item medis vital dan peralatan hunian masih tertahan di perbatasan karena dituduh bisa digunakan untuk tujuan militer oleh Hamas.

Tuduhan Sniper Hamas di MSF

Ketegangan memuncak terkait tuduhan spesifik terhadap MSF. Kementerian Israel mengklaim investigasi mereka menemukan dua staf MSF memiliki hubungan dengan militan Palestina.

Seorang staf dituduh sebagai penembak jitu (sniper) Hamas, sedangkan satu lagi diduga anggota Jihad Islam Palestina. MSF membantah keras tuduhan mempekerjakan orang yang terlibat aktivitas militer secara sadar.

“Kami tidak pernah menerima keputusan tentang pendaftaran ulang,” ujar perwakilan MSF.

Baca Juga :  Gerebek Studio Porno ‘BangBus’ Bonnie Blue, Polisi Sita Kamera dan Mobil Pikap Bernuansa Vulgar

Situasi ini mengingatkan pada nasib UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina. Israel baru saja meloloskan undang-undang yang memutus akses listrik, air, dan perbankan bagi badan tersebut, meski Mahkamah Internasional telah membersihkan UNRWA dari tuduhan ketidaknetralan.

Bantuan Terhambat di Tengah Badai

Badan Koordinasi Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT) Israel membela keputusan pemerintah. Mereka mengklaim organisasi yang ditangguhkan tersebut belum menyuplai bantuan sejak gencatan senjata Oktober lalu.

Namun, realitas di lapangan berbeda. Badai ganas baru saja menghancurkan ribuan tenda pengungsi. Kebutuhan akan bantuan justru sedang berada di puncaknya.

Target pengiriman 4.200 truk bantuan per minggu sering kali gagal tercapai. Penyebabnya, proses bea cukai birokratis dan pemeriksaan ekstensif menghambat arus barang kemanusiaan, sementara kargo komersial diizinkan masuk lebih bebas.

Kini, dengan tenggat waktu 1 Januari yang semakin dekat, nasib jutaan warga Gaza yang kedinginan dan kelaparan bergantung pada apakah organisasi bantuan ini bisa bertahan atau dipaksa angkat kaki dari zona bencana.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengungkap Akar Kebencian Pasca-Tragedi Penembakan Bondi Beach
Afghanistan Tuduh Pakistan Serang Warga Sipil di Kunar
Cuaca Ekstrem di Jabodetabek, Siang Panas Sore Hujan Deras – Ini Kata BMKG
Banjir Belum Surut, 80 RT di Jakarta Masih Terendam Air – 3 Jalan Tergenang
Anggota Polisi Dilarang Live Streaming Saat Dinas, Ini Penjelasan Polri
Beli Pulsa Berujung Maut, Pria di Cengkareng Tewas Disabet Clurit
Astronom Temukan Atmosfer pada Dunia Es Terpencil 2002 XV93
Bareskrim Tangkap Red Notice Interpol Kasus Scam Online Jaringan Kamboja

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:39 WIB

Mengungkap Akar Kebencian Pasca-Tragedi Penembakan Bondi Beach

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:33 WIB

Afghanistan Tuduh Pakistan Serang Warga Sipil di Kunar

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:12 WIB

Cuaca Ekstrem di Jabodetabek, Siang Panas Sore Hujan Deras – Ini Kata BMKG

Selasa, 5 Mei 2026 - 13:56 WIB

Banjir Belum Surut, 80 RT di Jakarta Masih Terendam Air – 3 Jalan Tergenang

Selasa, 5 Mei 2026 - 13:38 WIB

Anggota Polisi Dilarang Live Streaming Saat Dinas, Ini Penjelasan Polri

Berita Terbaru

Ilustrasi, Mencari keadilan dan kohesi sosial. Sidang umum perdana Komisi Kerajaan Australia resmi berjalan untuk menyelidiki lonjakan antisemitisme dan mengevaluasi celah keamanan nasional setelah tragedi penembakan Hanukkah di Bondi Beach. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengungkap Akar Kebencian Pasca-Tragedi Penembakan Bondi Beach

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:39 WIB

Gagalnya kesepakatan damai. Afghanistan menuduh militer Pakistan meluncurkan serangan mematikan ke wilayah timur yang menargetkan fasilitas publik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Afghanistan Tuduh Pakistan Serang Warga Sipil di Kunar

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:33 WIB