JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Siapa sangka, ikan yang kini menjadi primadona di piring sushi mewah dulunya adalah musuh para nelayan. Sebelum tahun 1950-an, tidak ada pasar komersial untuk Tuna Sirip Biru Atlantik barat.
Faktanya, nelayan justru menganggap raksasa laut ini sebagai hama pengganggu. Alasannya, ukuran tubuh mereka yang besar sering kali merusak jaring tangkapan ikan lain.
Namun, nasib ikan ini berubah drastis pada era 1970-an dan 1980-an. Pasar sushi dan sashimi di Jepang berkembang pesat. Seketika, permintaan melonjak dan harga meroket. Ikan yang dulu dibenci kini menjadi “emas biru” yang diburu oleh armada penangkap ikan di seluruh dunia.
Biologi yang Rentan: Lambat Dewasa
Sayangnya, popularitas ini menjadi kutukan. Tuna sirip biru memiliki karakteristik biologis yang membuatnya sangat rentan terhadap penangkapan berlebihan (overfishing).
Berbeda dengan spesies lain yang tumbuh cepat, tuna ini tumbuh lambat dan berumur panjang hingga 20 tahun. Masalahnya, mereka baru bisa memijah (bertelur) saat mencapai usia sekitar delapan tahun.
Akibatnya, populasi mereka sulit pulih jika nelayan menangkapnya sebelum usia matang. Oleh karena itu, konservasi yang efektif sangat bergantung pada kerja sama internasional yang ketat.
Kisah Sukses AS vs Krisis Australia
Upaya penyelamatan stok tuna menunjukkan hasil yang beragam di berbagai belahan dunia. Amerika Serikat (AS) telah mengambil langkah agresif sejak awal 1980-an untuk mengelola perikanan Atlantik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasilnya, stok tuna sirip biru Atlantik barat kini tidak lagi mengalami penangkapan berlebihan. Regulasi ketat dan skema dokumentasi hasil tangkapan memastikan pemulihan stok berjalan positif.
Sebaliknya, kabar buruk datang dari belahan bumi lain. Di Mediterania Barat (sekitar Kepulauan Balearic Spanyol), hasil tangkapan anjlok hingga tersisa 15 persen dibanding satu dekade lalu.
Kondisi di Australia lebih memprihatinkan. Stok tuna sirip biru selatan berada di tingkat terendah dalam sejarah, yakni kurang dari 10 persen dari stok asli. Tampaknya, upaya mencegah eksploitasi di sana masih jalan di tempat.
Peternakan Tuna: Solusi atau Masalah Baru?
Tingginya nilai ekonomi mendorong ilmuwan mencari jalan pintas: budidaya atau farming. Visi mereka adalah menciptakan tangki raksasa di darat tempat tuna bisa bertelur sepanjang tahun.
Akan tetapi, realitas teknis sangat menantang. Larva tuna yang baru menetas sangat rapuh. Kepala mereka berat, sehingga mereka cenderung tenggelam. Jika menyentuh dasar tangki, mereka mati karena guncangan.
Tantangan terbesar lainnya adalah nafsu makan. Tuna sirip biru adalah predator rakus. Saat ini, peternakan tuna (tuna ranches) menangkap tuna muda di laut dan menggemukkannya di keramba jaring.
Biaya lingkungannya sangat mahal. Peternak membutuhkan sekitar 15 pon ikan pakan (seperti sarden atau makarel) hanya untuk menghasilkan tambahan 1 pon daging tuna. Rasio ini dinilai tidak efisien dan merusak rantai makanan laut.
Makan di Rantai Bawah
Pada akhirnya, beberapa ahli menyimpulkan bahwa budidaya mungkin bukan jalan terbaik. Memelihara predator puncak justru menghabiskan lebih banyak sumber daya laut.
Maka, solusi yang lebih bijak mungkin terletak pada piring makan kita. Manusia sebaiknya mengonsumsi ikan di rantai makanan yang lebih rendah (seperti sarden atau kerang). Biarkan tuna sirip biru berkeliaran bebas dan pulih secara alami, sembari kita hargai sebagai komoditas premium yang langka, bukan komoditas massal.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















