TAIPEI, POSNEWS.CO.ID – Temperatur politik di Asia Timur mendidih di awal tahun ini. Presiden Taiwan, Lai Ching-te, pada hari Kamis menegaskan tekad bulat wilayahnya untuk mempertahankan kedaulatan. Pernyataan tegas ini meluncur hanya dua hari setelah Beijing menembakkan roket ke arah pulau itu sebagai bagian dari latihan militer masif.
Saat menyampaikan pidato Tahun Baru secara langsung dari kantor kepresidenan di Taipei, Lai menekankan bahwa mata dunia kini menyorot rakyat Taiwan. Menurutnya, komunitas internasional menanti bukti apakah warga Taiwan memiliki nyali untuk mempertahankan diri dari ekspansi China yang kian agresif.
Tahun 2026: Titik Krusial
Lai menyoroti urgensi waktu dalam menghadapi ancaman geopolitik ini. Merujuk pada laporan AS yang memprediksi China akan memiliki kemampuan memenangkan perang perebutan Taiwan pada 2027, Lai memberikan penilaiannya sendiri.
“Tahun mendatang, 2026, akan menjadi tahun yang krusial bagi Taiwan,” ujarnya. Lebih jauh, ia memegang filosofi pertahanan yang realistis: Taiwan harus “menyusun rencana untuk kemungkinan terburuk, namun tetap berharap hasil terbaik.”
Anggaran Pertahanan $40 Miliar Terganjal
Di tengah ancaman nyata, Lai mendesak partai-partai oposisi agar menyingkirkan perbedaan politik sejenak. Ia meminta dukungan penuh untuk proposal peningkatan belanja pertahanan Taiwan sebesar $40 miliar.
Sayangnya, proposal vital ini masih macet di parlemen tempat kubu oposisi memegang kendali, terjebak dalam kebuntuan politik domestik. Padahal, Lai meyakini kesiapan militer merupakan kunci untuk mencegah miskalkulasi dari pihak Beijing.
Teror “Misi Keadilan 2025”
Lai menyampaikan pidatonya di tengah bayang-bayang latihan militer China bersandi “Justice Mission 2025” (Misi Keadilan 2025). Latihan ini mencatatkan rekor terbesar berdasarkan cakupan wilayah dan jarak terdekat dengan Taiwan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
China meluncurkan puluhan roket ke arah Taiwan serta mengerahkan armada kapal perang dan jet tempur dalam jumlah besar. Manuver ini memaksa otoritas Taiwan membatalkan puluhan penerbangan komersial domestik serta mengirim jet tempur dan kapal perang untuk memantau situasi. Taipei pun mengutuk aksi ini sebagai provokasi terang-terangan yang mengancam keamanan regional.
Faktor Pemicu: Paket Senjata AS
Eskalasi ini tidak muncul di ruang hampa. China memulai manuvernya 11 hari setelah Amerika Serikat mengumumkan paket senjata senilai $11,1 miliar untuk Taiwan—sebuah angka rekor baru. Untuk pertama kalinya, militer China secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menggelar latihan tersebut guna mencegah “intervensi luar”.
Syarat Dialog dan Retorika Penyatuan Xi
Meskipun bersiap menghadapi perang, Lai tetap membuka lebar pintu diplomasi. “Kami bersedia terlibat dalam pertukaran dan kerja sama dengan China atas dasar kesetaraan dan martabat,” tegas Lai. Syaratnya jelas: China harus mengakui keberadaan Republik China (Taiwan) dan menghormati cara hidup demokratis rakyatnya.
Sebaliknya, nada dari seberang selat tetap keras. Dalam pidato Tahun Barunya pada Rabu malam, Presiden China Xi Jinping mengulangi peringatan tajam kepada kelompok yang Beijing sebut sebagai “kekuatan separatis”. Xi kembali menegaskan narasi bahwa “penyatuan kembali” China dengan Taiwan merupakan hal yang mustahil terhentikan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















