Protes Ekonomi Iran Memasuki Hari Kelima yang Berdarah

Jumat, 2 Januari 2026 - 12:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Luka yang belum kering. Dua bulan pasca-serangan udara militer Amerika Serikat terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Iran Selatan, keluarga korban masih menuntut keadilan bagi 155 nyawa yang melayang di tengah kebuntuan diplomasi nuklir. Dok: Istimewa.

Luka yang belum kering. Dua bulan pasca-serangan udara militer Amerika Serikat terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Iran Selatan, keluarga korban masih menuntut keadilan bagi 155 nyawa yang melayang di tengah kebuntuan diplomasi nuklir. Dok: Istimewa.

TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Gelombang kemarahan publik kembali mengguncang Iran. Kini, protes terbesar dalam tiga tahun terakhir telah memasuki hari kelima pada Kamis, diwarnai laporan bentrokan mematikan antara demonstran dan pasukan keamanan. Bahkan, media yang berafiliasi dengan negara mengonfirmasi setidaknya dua orang tewas, sementara aktivis menggambarkan situasi di lapangan sebagai “medan perang”.

Meskipun media pemerintah bungkam mengenai identitas korban, saksi mata dan rekaman video yang beredar di media sosial menyingkap realitas brutal. Video-video tersebut secara jelas memperlihatkan pengunjuk rasa tergeletak tak bergerak di tanah sesaat setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan.

Lordegan Membara: Peluru Tajam vs Rakyat

Dua kematian tersebut kabarnya terjadi di kota barat daya Lordegan. Organisasi Hak Asasi Manusia Hengaw yang berbasis di Oslo melaporkan bahwa salah satu korban tewas akibat terjangan peluru tajam sebelum tim medis sempat memberikan perawatan.

Selanjutnya, kesaksian mengerikan datang dari Ebrahim Eshaghi, seorang pegulat Iran asal Lordegan yang kini menetap di Jerman. Ia terus memantau situasi melalui kontak langsung dengan demonstran di lapangan.

“Hari ini, orang-orang di kota saya turun ke jalan untuk menuntut hak-hak mereka,” ujar Eshaghi. “Sejauh ini, dua anak muda tewas dan lebih banyak lagi yang terluka. Oleh karena itu, kami meminta seluruh orang di dunia untuk menjadi suara kami. Republik Islam adalah musuh kita semua.”

Eskalasi Kekerasan dan Penangkapan Massal

Kelompok hak asasi manusia memperingatkan adanya eskalasi brutal dalam respons aparat. Sebagai buktinya, seorang saksi mata menggambarkan situasi kepada The Guardian: “Di sini seperti medan perang dan mereka [pasukan keamanan] menembak tanpa ampun.”

Di tengah kekacauan, aparat keamanan juga bergerak senyap di ibu kota. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa otoritas di Teheran menangkap 30 orang pada Kamis malam atas tuduhan “mengganggu ketertiban umum” di distrik Malard. Operasi ini jelas melibatkan koordinasi intelijen yang ketat guna membungkam perbedaan pendapat.

Runtuhnya Mata Uang Pemicu Kemarahan

Runtuhnya mata uang nasional pada awalnya memicu protes yang bermula di Teheran pada hari Minggu ini. Namun, api kemarahan dengan cepat menjalar ke kota-kota lain, sehingga mengubah tuntutan ekonomi menjadi seruan lantang untuk mengakhiri rezim.

Baca Juga :  Prabowo Minta Pejabat Tak Gelar Open House Lebaran 2026 Secara Mewah

Roya Boroumand, direktur eksekutif Abdorrahman Boroumand Center for Human Rights, menjelaskan akar masalahnya. “Orang Iran hidup di bawah garis kemiskinan dalam jumlah yang semakin besar dan tidak memiliki harapan akan perbaikan kondisi hidup yang berarti,” jelasnya. Menurutnya, kemarahan publik meledak akibat salah urus negara, korupsi, dan kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

Bayang-bayang Eksekusi Mati

Kekerasan jalanan ini terjadi dengan latar belakang yang lebih kelam. Faktanya, tahun 2025 mencatatkan rekor eksekusi mati tertinggi di Iran sejak 1989, dengan lebih dari 1.500 orang yang negara hukum mati.

Hussein Baoumi, direktur Amnesty, mengecam praktik ini sebagai alat teror negara. “Pemerintah melaksanakan eksekusi setelah pengadilan menggelar sidang yang sangat tidak adil di balik pintu tertutup, di tengah pola penyiksaan yang meluas dan pengakuan paksa,” tegasnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis
Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:30 WIB

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Berita Terbaru

Solusi gaming 1080p hemat energi. AMD merilis GPU Radeon RX 9050 berarsitektur RDNA yang hanya mengonsumsi daya 92 Watt. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

AMD Resmi Meluncurkan Kartu Grafis Radeon RX 9050

Jumat, 31 Jul 2026 - 10:00 WIB

Bencana dahsyat di barat daya Jepang. Gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, merenggut 14 nyawa warga dan memicu ledakan di pusat perbelanjaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:30 WIB

Bocoran unik gawai Microsoft. Seorang pengguna internet mengaku menemukan dan menguji prototipe Surface Laptop Ultra bertenaga APU NVIDIA RTX Spark N1X. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Netizen Temukan Prototipe Surface Laptop Ultra di Pinggir Jalan

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:16 WIB