John Franklin: Ketika Dunia Modern Belajar dari Penjelajah Kutub

Sabtu, 3 Januari 2026 - 17:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Di dunia yang memuja kecepatan, kisah tragis John Franklin justru mengajarkan bahwa mereka yang lambat sering kali adalah yang paling selamat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Di dunia yang memuja kecepatan, kisah tragis John Franklin justru mengajarkan bahwa mereka yang lambat sering kali adalah yang paling selamat. Dok: Istimewa.

BERLIN, POSNEWS.CO.ID โ€“ John Franklin (1786-1847) mungkin paling dikenal dunia karena cara ia menghilang. Namun, di tangan novelis Sten Nadolny, penjelajah Inggris ini berubah menjadi ikon tak terduga bagi gerakan “keterlambatan” (slowness).

Franklin bergabung dengan Angkatan Laut pada usia belia, 14 tahun. Ia bertempur di garis depan Copenhagen dan Trafalgar. Setelah perdamaian pecah, ia mengalihkan fokusnya ke teka-teki Jalur Barat Laut yang mistis. Jalur ini, jika ada, akan menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik di atas benua Amerika.

Ekspedisi pertamanya ke Arktik adalah perjalanan darat yang melelahkan dari Teluk Hudson. Antara 1819 dan 1822, Franklin dan timnya menempuh 5.550 mil dengan berjalan kaki. Mereka sukses memetakan ratusan mil garis pantai yang sebelumnya tidak dikenal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, takdir berkata lain pada ekspedisi terakhirnya. Pada Mei 1845, Franklin berangkat dengan dua kapal, Erebus dan Terror. Konvoi itu terlihat memasuki Lancaster Sound pada bulan Juli, lalu lenyap. Dunia tidak mendengar kabar mereka lagi selama 14 tahun.

Baca Juga :  Eksperimen Listrik Nollet: Dari Rantai Manusia 1,6 KM hingga Penemuan Elektroskop

Interpretasi Ulang Nadolny: Lambat sebagai Kekuatan

Dalam memoar pribadinya, Franklin tampil sebagai sosok militer yang kaku dan minim introspeksi. Kekosongan karakter ini justru menjadi kanvas sempurna bagi Sten Nadolny. Dalam novelnya, The Discovery of Slowness, Nadolny memberikan Franklin sifat yang tidak tercatat dalam sejarah resmi: kelambanan atau ketenangan ekstrem.

Novel ini menggambarkan Franklin kecil yang gagal bermain tangkap bola karena reaksinya terlalu lambat. Alih-alih mengikuti ritme teman-temannya yang cepat, Franklin justru mencari lingkungan yang cocok dengan “cacat”-nya itu. Ia menemukannya di Arktik.

“Es adalah penggerak yang lambat,” tulis narasi tersebut. Es menuntut kesabaran. Penjelajah yang sukses di lintang tinggi biasanya bukan orang yang tergesa-gesa. Mereka memiliki ketenangan diri yang luar biasa, kapasitas untuk menahan kebosanan, dan bakat untuk tholingโ€”istilah Skotlandia untuk ketahanan menanggung penderitaan tanpa mengeluh.

Filosofi “Tidak Membuang Waktu”

Dalam novel, kelambanan berpikir Franklin memaksanya menghafal “armada kata-kata” sebelum berbicara. Awalnya, rekan-rekannya di Angkatan Laut mengejek metodenya yang “berpikir dulu, bertindak kemudian”.

Baca Juga :  Vince Zampella, Sang Bapak Call of Duty, Tewas Tragis di Usia 55

Namun, perlahan ia memenangkan rasa hormat mereka. Seorang letnan memujinya dengan kalimat paradoks: “Karena Franklin sangat lambat, dia tidak pernah membuang waktu.”

Resonansi di Dunia Modern

Sejak terbit di Jerman pada 1983, The Discovery of Slowness telah terjual lebih dari satu juta kopi. Buku ini menjadi fenomena budaya. Kelompok manajemen, gereja Protestan, hingga aktivis lingkungan mengadopsinya sebagai semacam “kitab suci” perlawanan.

Mereka melihat Franklin versi Nadolny sebagai antitesis budaya kecepatan pasca-modern. Kelompok ini menolak gagasan bahwa seseorang lebih baik hanya karena bisa melakukan sesuatu lebih cepat.

Dampaknya bahkan terlihat di jalanan Jerman. Pengendara bisa melihat tanda-tanda di pinggir Autobahn yang memproklamirkan “ketidak-tergesa-gesaan” (unhurriedness). Sebuah jurnal manajemen AS menyebut novel ini sebagai bacaan wajib bagi pemimpin yang peduli pada sistem berpikir.

Franklin mengajarkan kita aturan waktu yang sederhana namun mendalam: “Biasanya selalu ada tiga titik waktu: waktu yang tepat, waktu yang hilang, dan waktu yang prematur.” Terkadang, menjadi lambat adalah satu-satunya cara untuk sampai tepat waktu.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal
Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot
Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Berita Terbaru

Siasat baru pertahanan udara Ukraina. Zelenskyy mendesak Trump memediasi izin penggunaan jaringan Starlink untuk menggempur target di dalam wilayah Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:00 WIB

Eskalasi gempuran udara di ibu kota. Rusia menembakkan gelombang rudal balistik dan drone ke Kyiv, menewaskan tiga warga serta memicu ketidakpastian lisensi Patriot dari AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agu 2026 - 09:00 WIB

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB