Australia Membara: Gelombang Panas Panggang Victoria

Kamis, 8 Januari 2026 - 17:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suhu tembus 40 derajat Celsius, jutaan warga diperingatkan akan bahaya api yang

Suhu tembus 40 derajat Celsius, jutaan warga diperingatkan akan bahaya api yang "tak terkendali dan bergerak cepat". Dok: Istimewa.

MELBOURNE, POSNEWS.CO.ID – Sirine peringatan kembali meraung di tenggara Australia. Pada hari Kamis, petugas pemadam kebakaran mengeluarkan peringatan keras kepada jutaan warga mengenai bahaya kebakaran hutan tingkat “katastrofik”. Peringatan ini muncul saat petugas berjibaku memadamkan sejumlah titik api yang diperparah oleh gelombang panas ekstrem yang menyelimuti negara benua tersebut.

Prakiraan cuaca menunjukkan suhu akan melonjak melewati 40 derajat Celsius di beberapa bagian tenggara Australia. Akibatnya, kondisi ini memicu situasi kebakaran hutan paling berbahaya sejak tragedi “Musim Panas Hitam” (Black Summer) tahun 2019-2020 yang menghanguskan jutaan hektare lahan.

Kepala Otoritas Pemadam Kebakaran Negara Bagian (CFA), Jason Heffernan, menegaskan bahwa peringkat bahaya kebakaran di beberapa bagian negara bagian Victoria akan mencapai level tertinggi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Katastrofik adalah kondisi terburuk yang bisa terjadi,” ujarnya kepada wartawan. “Ini adalah kondisi kebakaran paling berbahaya yang bisa Anda harapkan—ketika api mulai menyala, ia langsung membesar dan menyebar. Keputusan yang Anda buat akan memengaruhi nyawa Anda dan keluarga Anda.”

Angin Kering dan Rencana Evakuasi

Situasi di lapangan kian kritis karena faktor angin. Komisaris Manajemen Darurat Tim Wiebush memperingatkan bahwa angin panas dan kering akan mengipasi kebakaran hutan menjadi “tidak terprediksi, tidak terkendali, dan bergerak cepat”.

Baca Juga :  Idul Adha 2026 Jatuh 27 Mei, PBNU dan Muhammadiyah Kompak Serentak

Merespons hal ini, Penjabat Perdana Menteri negara bagian Victoria, Ben Carroll, mendesak masyarakat untuk segera menyiapkan rencana evakuasi.

“Anda tidak akan tahu betapa keras suaranya, betapa berasapnya, dan betapa menegangkannya situasi itu sampai Anda benar-benar dikelilingi api,” kata Carroll. “Itu adalah lingkungan yang menakutkan yang tidak seorang pun harus lalui.”

Ancaman di Kota Besar dan Pedalaman

Saat ini, petugas pemadam kebakaran sedang berusaha mengurung titik-titik api yang tersebar di negara bagian Victoria dan New South Wales. Oleh karena itu, jutaan orang di dua negara bagian terpadat di Australia ini—termasuk di kota besar Sydney dan Melbourne—telah menerima peringatan untuk tetap siaga tinggi.

Pihak berwenang mengkhawatirkan sejumlah kecil properti telah hancur di dekat kota pedesaan Longwood, sekitar 150 kilometer di utara Melbourne.

Pakar cuaca pemerintah, Sarah Scully, menjelaskan bahwa sabuk panas “ekstrem” telah menetap di seluruh negeri. Parahnya, ancaman tidak hanya datang dari api di darat.

Baca Juga :  Aliansi Trump-Takaichi Tetap Solid di Tengah Badai Hukum

“Ada juga prakiraan badai petir kering (dry thunderstorms) di Victoria dan New South Wales bagian selatan,” jelas Scully. “Badai petir kering itu membawa sangat sedikit curah hujan, tetapi sambarannya bisa memicu kebakaran baru.”

Dampak Fatal pada Satwa Liar

Dampak gelombang panas ini sudah memakan korban di dunia satwa. Kelompok satwa liar setempat melaporkan bahwa ratusan bayi kelelawar mati awal pekan ini saat suhu yang mencekik melanda negara bagian Australia Selatan.

Kejadian ini membangkitkan trauma “Musim Panas Hitam” yang memusnahkan ribuan rumah dan menyelimuti kota-kota dengan asap beracun beberapa tahun lalu. Faktanya, para peneliti menemukan bahwa iklim Australia telah memanas rata-rata 1,51 derajat Celsius sejak 1910. Pemanasan ini memicu pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, baik di darat maupun di laut.

Ironisnya, di tengah krisis iklim yang nyata ini, Australia tetap menjadi salah satu produsen dan eksportir gas serta batu bara terbesar di dunia, dua bahan bakar fosil utama yang dituding sebagai biang keladi pemanasan global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pesta Gay Viral di Karawang Jadi Alarm Pengawasan Tempat Hiburan Malam
Kamar Indekos Jadi Markas Sabu, Pasutri di Bekasi Diciduk Polisi
Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian
Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi
Polda Metro Sikat 141 Curanmor, 317 Ditangkap – Muncul Pertanyaan Efektivitas Pencegahan
Paus Leo XIV Desak Penghormatan Migran dan Hukum Internasional
Rekrutmen Disabilitas Polri Diperluas, Jabatan Struktural Mulai Dibuka

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:48 WIB

Pesta Gay Viral di Karawang Jadi Alarm Pengawasan Tempat Hiburan Malam

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:24 WIB

Kamar Indekos Jadi Markas Sabu, Pasutri di Bekasi Diciduk Polisi

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:00 WIB

Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG

Rabu, 10 Juni 2026 - 06:53 WIB

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:46 WIB

Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi

Berita Terbaru

Kuasa hukum tersangka Sony Sonjaya, Krisna Murti. (Posnews/Ist)

NASIONAL

Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG

Rabu, 10 Jun 2026 - 08:00 WIB

Ilustrasi, Kondisi langit berawan di kawasan Jakarta saat BMKG memprediksi seluruh wilayah Jabodetabek mengalami cuaca berawan pada Rabu, 10 Juni 2026.
(Posnews/BMKG)

JABODETABEK

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Rabu, 10 Jun 2026 - 06:53 WIB

Pesan kemanusiaan dari Beirut. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyampaikan seruan langsung yang langka kepada Israel untuk menghentikan perang dan memulai jalur diplomasi resmi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi

Selasa, 9 Jun 2026 - 17:46 WIB