WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Benteng terakhir independensi ekonomi Amerika Serikat kini berada di bawah pengepungan. Administrasi Presiden Donald Trump secara mengejutkan membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Langkah agresif ini langsung memicu badai kritik dari para ekonom top hingga senator Partai Republik sendiri.
Departemen Kehakiman AS melayangkan ancaman dakwaan terkait komentar Powell di Kongres mengenai renovasi gedung markas The Fed senilai $2,5 miliar. Namun, Powell tidak tinggal diam. Ia menyebut langkah tersebut sebagai “dalih” (pretext) semata.
“Ancaman tuntutan pidana ini adalah konsekuensi dari The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami untuk publik, bukan mengikuti preferensi Presiden,” tegas Powell dalam pernyataan terbukanya.
“Serangan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya”
Dampak dari manuver ini langsung terasa di pasar. Tingkat bunga obligasi jangka panjang AS melonjak, sebuah sinyal bahwa investor mulai cemas. Ironisnya, kenaikan biaya pinjaman ini justru bisa menjadi bumerang bagi upaya Trump mengatasi masalah keterjangkauan ekonomi.
Tiga mantan ketua The Fed—Janet Yellen, Ben Bernanke, dan Alan Greenspan—mengambil langkah langka dengan merilis pernyataan bersama. Mereka membunyikan alarm bahaya.
“Penyelidikan kriminal terhadap Powell adalah upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menggunakan serangan jaksa guna merusak independensi The Fed,” bunyi pernyataan tersebut. Mereka memperingatkan “konsekuensi negatif yang sangat tinggi” bagi inflasi jika bank sentral kehilangan otonominya.
Partai Republik Terbelah
Langkah Trump ini ternyata tidak mendapat dukungan bulat dari partainya sendiri. Senator Republik Thom Tillis menyebutnya sebagai “kesalahan besar”. Ia bahkan bersumpah akan menolak calon The Fed pilihan Trump sampai masalah hukum ini selesai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Senada dengan itu, Senator Lisa Murkowski menulis di X bahwa taruhannya terlalu tinggi. “Jika Federal Reserve kehilangan independensinya, stabilitas pasar kita dan ekonomi yang lebih luas akan menderita,” peringatnya.
Sebaliknya, Ketua DPR Mike Johnson memilih sikap pasif, mengatakan akan membiarkan proses tersebut “berjalan”. Menteri Keuangan Scott Bessent, menurut laporan Axios, secara pribadi memperingatkan Trump bahwa investigasi ini telah “menciptakan kekacauan”.
Motif di Balik Renovasi Gedung
Powell mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman telah melayangkan surat panggilan pengadilan (subpoenas) minggu lalu. Fokus resminya adalah dugaan penyalahgunaan dana pembayar pajak dalam proyek renovasi gedung.
Akan tetapi, waktu peluncuran penyelidikan ini menimbulkan kecurigaan. Powell akan menyelesaikan masa jabatannya sebagai ketua pada bulan Mei, namun ia berhak tetap di Dewan Gubernur hingga 2028. Analis menduga langkah hukum ini bertujuan menekan Powell agar mundur sepenuhnya atau tunduk pada keinginan Gedung Putih soal suku bunga.
Trump sendiri membantah mengetahui detail aksi Departemen Kehakiman tersebut kepada NBC News. “Saya tidak tahu apa-apa tentang itu, tapi dia [Powell] jelas tidak terlalu bagus di The Fed, dan dia tidak terlalu bagus dalam membangun gedung,” sindir Trump.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















