KOPENHAGEN/BERLIN, POSNEWS.CO.ID – Pemimpin Denmark dan Greenland membentuk front persatuan yang kokoh pada hari Selasa (13/1). Mereka menolak mentah-mentah segala klaim eksternal atas Greenland. Penolakan ini terjadi hanya satu hari sebelum pembicaraan berisiko tinggi di Washington.
Selanjutnya, sikap keras ini beriringan dengan peringatan tajam dari Jerman. Berlin menegaskan bahwa langkah Amerika Serikat untuk “memperoleh” pulau Arktik tersebut sangat berbahaya. Akibatnya, hal itu akan menciptakan “situasi yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya” dalam sejarah NATO.
Sebelumnya, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menggelar konferensi pers bersama pada Selasa sore. Mereka menyampaikan pesan tegas dan bersatu. Intinya jelas: Greenland tidak untuk dijual.
“Satu Bangsa Tidak Bisa Dibeli”
Frederiksen membingkai sikap ini sebagai masalah prinsip fundamental. Oleh karena itu, ini bukan sekadar urusan teritorial.
“Ini bukan hanya tentang Greenland atau Kerajaan. Sebaliknya, ini tentang fakta bahwa perbatasan tidak boleh berubah dengan paksa,” tegasnya. “Selain itu, satu bangsa tidak bisa dibeli. Dan ini tentang memastikan bahwa negara kecil tidak perlu takut pada negara besar.”
Lebih lanjut, ia menambahkan, “Kami berdiri tegak bukan hanya untuk diri kami sendiri. Namun, kami berdiri untuk tatanan dunia yang menjadi landasan demokrasi generasi sebelumnya.”
Kemudian, Frederiksen berbicara langsung kepada rakyat Greenland melalui kamera. “Saudara-saudara Greenland yang terkasih, ketahuilah bahwa kita berdiri bersama,” ucapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan posisi rakyatnya. “Greenland tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat,” katanya. Ia menambahkan bahwa tujuan mereka tetaplah dialog damai berdasarkan kerja sama. Namun, dialog itu harus menghormati posisi konstitusional dan hak menentukan nasib sendiri.
Pertemuan Panas di Washington
Ketegangan ini memuncak menjelang pertemuan diplomatik tingkat tinggi. Rencananya, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt akan menghadiri pembicaraan di Washington. Mereka akan bertemu Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada hari Rabu (14/1).
Media lokal Denmark melaporkan bahwa pembicaraan ini berlangsung di tengah ketegangan. Pasalnya, sejak kembali menjabat pada tahun 2025, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan keinginannya. Ia ingin “memperoleh” Greenland. Bahkan, Trump tidak menyampingkan penggunaan kekuatan.
Situasi Belum Pernah Terjadi di NATO
Reaksi keras juga datang dari Eropa daratan. Pada hari Selasa, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius angkat bicara. Ia menyebut ambisi AS untuk mengendalikan Greenland sebagai ancaman bagi integritas aliansi.
“Ini akan menjadi situasi yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah NATO,” ujar Pistorius. Ia menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers bersama Perwakilan Tinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, di Berlin.
Selanjutnya, Kallas menambahkan bahwa negara-negara anggota sedang mendiskusikan situasi ini. Mereka menyiapkan “alat di tangan kami” untuk menanggapi ambisi pemerintahan Trump. Namun, ia tidak merinci detailnya.
Di sisi lain, Pistorius menegaskan kembali dukungannya terhadap kedaulatan Denmark. Ia menekankan bahwa keamanan Greenland adalah tanggung jawab kolektif NATO. Oleh karena itu, ia mendesak peningkatan perlindungan kolektif untuk pulau tersebut.
Solidaritas Nordik
Dukungan untuk Denmark mengalir deras dari tetangganya. Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store menulis dukungan di platform media sosial X.
“Panggilan telepon yang baik dengan rekan-rekan Nordik malam ini: Kami berdiri bersama Kerajaan Denmark,” tulisnya. “Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan masalah mengenai Denmark dan Greenland.”
Senada dengan itu, Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson juga menyuarakan solidaritasnya. “Baru saja berbicara dengan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, bersama dengan rekan-rekan Nordik kami. Kami berdiri di belakang Denmark dan Greenland,” tegasnya.
Sebagai informasi, Greenland adalah pulau terbesar di dunia. Wilayah ini berstatus otonom di dalam Kerajaan Denmark. Meskipun Kopenhagen memegang kendali atas pertahanan, Amerika Serikat tetap mempertahankan pangkalan militer di pulau tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















