Arab Saudi dan Sekutu Desak Trump Batalkan Serangan ke Iran

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Telepon berdering di Riyadh dan Washington. Ketakutan akan perang total membuat sekutu AS di Teluk bersatu menahan jari Trump dari tombol peluncuran rudal. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Telepon berdering di Riyadh dan Washington. Ketakutan akan perang total membuat sekutu AS di Teluk bersatu menahan jari Trump dari tombol peluncuran rudal. Dok: Istimewa.

RIYADH/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Sebuah intervensi diplomatik darurat berhasil menahan eskalasi militer di Timur Tengah. Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Oman mendesak Presiden AS Donald Trump untuk tidak melancarkan serangan udara terhadap Iran dalam kampanye lobi menit terakhir.

Peringatan keras dari sekutu lama AS ini tampaknya berhasil. Trump memutuskan untuk menahan serangan militer pada Rabu malam (14/1).

Ketakutan utama blok Arab ini jelas: serangan Washington akan memicu konflik besar dan tak terkendali di seluruh kawasan. Arab Saudi mengambil langkah paling tegas. Kerajaan tersebut menolak memberikan izin kepada AS untuk menggunakan ruang udaranya dalam melancarkan serangan apa pun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diplomasi Telepon Pangeran Faisal

Diskusi intensif terus berlanjut hingga Kamis. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, melakukan pembicaraan telepon maraton dengan rekan-rekannya dari Iran, Oman, dan Turki.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Cerah Berawan, Waspada Udara Lembap Tinggi

Hubungan Saudi-Iran, yang dulunya paling tegang di kawasan, kini berada di jalur pemulihan selama tiga tahun terakhir. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memainkan peran kunci. Ia rajin mengunjungi ibu kota Arab dan sengaja membiarkan media memotretnya saat mencicipi kuliner lokal sebagai simbol persahabatan.

Araghchi juga berhasil menelepon para pemimpin Arab untuk menjelaskan alasan Teheran di balik tindakan keras terhadap protes domestik. Meskipun negara-negara Teluk membenci campur tangan proksi Iran di Lebanon, Irak, dan Yaman, mereka memiliki ketakutan lain. Para pemimpin Arab tidak menginginkan preseden di mana protes jalanan berhasil menjatuhkan sebuah rezim otoriter.

Kerentanan Pangkalan AS di Qatar

Ketegangan ini juga mengungkap kerentanan aset militer AS. Pangkalan udara Al-Udeid di Qatar adalah yang terbesar milik AS di kawasan tersebut. Namun, saat ketegangan memuncak pada hari Rabu, AS justru menarik personel kunci dari pangkalan itu.

Langkah ini terjadi setelah Teheran secara terbuka mengancam akan menghantam pangkalan AS jika mereka diserang. Negara-negara Teluk makin sadar bahwa pangkalan darat dan laut AS, yang dirancang untuk memproyeksikan kekuatan, kini justru menjadi sumber kerentanan.

Baca Juga :  Donald Trump Berharap Kesepakatan di Tengah Ancaman Perang

Argumen Iran makin masuk akal bagi negara Teluk setelah insiden September lalu. Saat itu, Israel mengebom Doha dengan niat membunuh negosiator Hamas. Serangan tersebut meleset dari target utama tetapi menewaskan lima anggota tingkat rendah. AS, yang tidak tahu menahu soal serangan itu, harus meminta maaf langsung kepada Emir Qatar.

Turki dan Qatar Serukan Dialog

Juru bicara kementerian luar negeri Qatar, Majed al-Ansari, menegaskan posisi negaranya pada hari Selasa.

“Tantangan besar di kawasan ini mengharuskan kita semua kembali ke meja perundingan,” ujarnya.

Senada dengan Qatar, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan juga menyerukan dialog. “Mudah-mudahan Amerika Serikat dan Iran akan menyelesaikan masalah ini di antara mereka sendiri, baik melalui mediator, aktor lain, atau dialog langsung.”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang
Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:01 WIB

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America

Berita Terbaru

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB

Penderitaan di bawah kuasa geng. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengunjungi Haiti guna menyaksikan langsung krisis kemanusiaan dan pengungsian massal akibat dominasi geng Viv Ansanm. Dok: (AP Photo/Danica Coto)

INTERNASIONAL

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Jun 2026 - 14:48 WIB