RIYADH/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Sebuah intervensi diplomatik darurat berhasil menahan eskalasi militer di Timur Tengah. Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Oman mendesak Presiden AS Donald Trump untuk tidak melancarkan serangan udara terhadap Iran dalam kampanye lobi menit terakhir.
Peringatan keras dari sekutu lama AS ini tampaknya berhasil. Trump memutuskan untuk menahan serangan militer pada Rabu malam (14/1).
Ketakutan utama blok Arab ini jelas: serangan Washington akan memicu konflik besar dan tak terkendali di seluruh kawasan. Arab Saudi mengambil langkah paling tegas. Kerajaan tersebut menolak memberikan izin kepada AS untuk menggunakan ruang udaranya dalam melancarkan serangan apa pun.
Diplomasi Telepon Pangeran Faisal
Diskusi intensif terus berlanjut hingga Kamis. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, melakukan pembicaraan telepon maraton dengan rekan-rekannya dari Iran, Oman, dan Turki.
Hubungan Saudi-Iran, yang dulunya paling tegang di kawasan, kini berada di jalur pemulihan selama tiga tahun terakhir. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memainkan peran kunci. Ia rajin mengunjungi ibu kota Arab dan sengaja membiarkan media memotretnya saat mencicipi kuliner lokal sebagai simbol persahabatan.
Araghchi juga berhasil menelepon para pemimpin Arab untuk menjelaskan alasan Teheran di balik tindakan keras terhadap protes domestik. Meskipun negara-negara Teluk membenci campur tangan proksi Iran di Lebanon, Irak, dan Yaman, mereka memiliki ketakutan lain. Para pemimpin Arab tidak menginginkan preseden di mana protes jalanan berhasil menjatuhkan sebuah rezim otoriter.
Kerentanan Pangkalan AS di Qatar
Ketegangan ini juga mengungkap kerentanan aset militer AS. Pangkalan udara Al-Udeid di Qatar adalah yang terbesar milik AS di kawasan tersebut. Namun, saat ketegangan memuncak pada hari Rabu, AS justru menarik personel kunci dari pangkalan itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini terjadi setelah Teheran secara terbuka mengancam akan menghantam pangkalan AS jika mereka diserang. Negara-negara Teluk makin sadar bahwa pangkalan darat dan laut AS, yang dirancang untuk memproyeksikan kekuatan, kini justru menjadi sumber kerentanan.
Argumen Iran makin masuk akal bagi negara Teluk setelah insiden September lalu. Saat itu, Israel mengebom Doha dengan niat membunuh negosiator Hamas. Serangan tersebut meleset dari target utama tetapi menewaskan lima anggota tingkat rendah. AS, yang tidak tahu menahu soal serangan itu, harus meminta maaf langsung kepada Emir Qatar.
Turki dan Qatar Serukan Dialog
Juru bicara kementerian luar negeri Qatar, Majed al-Ansari, menegaskan posisi negaranya pada hari Selasa.
“Tantangan besar di kawasan ini mengharuskan kita semua kembali ke meja perundingan,” ujarnya.
Senada dengan Qatar, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan juga menyerukan dialog. “Mudah-mudahan Amerika Serikat dan Iran akan menyelesaikan masalah ini di antara mereka sendiri, baik melalui mediator, aktor lain, atau dialog langsung.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















