Dilema Energi Dunia: Candu Batubara dan Janji Mahal Teknologi

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ultimatum energi di Eropa Tengah. PM Robert Fico mengancam akan menghentikan pasokan listrik darurat bagi stabilitas jaringan Ukraina sebagai balasan atas terhentinya aliran minyak mentah melalui pipa Druzhba. Dok: Istimewa.

Ultimatum energi di Eropa Tengah. PM Robert Fico mengancam akan menghentikan pasokan listrik darurat bagi stabilitas jaringan Ukraina sebagai balasan atas terhentinya aliran minyak mentah melalui pipa Druzhba. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah riuhnya diskusi global tentang energi terbarukan, batubara diam-diam masih memegang takhta tertinggi dalam pembangkitan listrik dunia. Angka terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) menampar kita dengan realitas pahit: China bergantung pada batubara untuk 79% listriknya, Australia 78%, dan Amerika Serikat 45%. Bahkan Jerman, yang sering menuai pujian sebagai pionir hijau, masih menggunakan 41% batubara—angka yang setara dengan rata-rata global.

Ketergantungan ini bukan tanpa alasan. Banyak negara duduk di atas cadangan batubara raksasa yang mudah diakses. Selain itu, 70% produksi baja dunia membutuhkan batubara, begitu pula pembuatan plastik dan rayon. Pembangkit listrik tenaga batubara memberi makan nafsu energi dunia yang rakus, namun mereka memuntahkan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah yang mengejutkan.

Warga kota mungkin mengeluh tentang tagihan listrik bulanan, namun mereka sering menutup mata terhadap fakta bahwa tagihan itu tidak mencakup biaya lingkungan dari 6-7 juta metrik ton CO2 buangan pembangkit lokal mereka. Saat langit berubah kelabu dan suhu melonjak, manusia menghadapi dilema klasik: menginginkan udara bersih sekaligus listrik murah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harapan pada Penangkapan Karbon (CCS)

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah memperingatkan bahwa kenaikan suhu bumi sebesar 2° Celsius adalah ambang batas bahaya serius. Kita harus memangkas emisi karbon sebesar 80% dalam 30 tahun ke depan, bahkan saat para ahli memprediksi permintaan energi naik 50%. Salah satu proposal utama untuk menjembatani kesenjangan ini adalah adopsi teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture and Storage atau CCS).

Baca Juga :  Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Industri minyak dan gas sebenarnya sudah mempraktikkan penyimpanan CO2, atau sekuestrasi, dengan memompanya ke ladang minyak untuk menjaga tekanan. Namun, menangkap CO2 dari pembangkit listrik masih menjadi tantangan besar.

Ada tiga bentuk utama CCS: post-combustion (paling disukai karena bisa diterapkan pada pembangkit lama), pre-combustion, dan oxy-firing. Meskipun dua metode terakhir lebih efisien, keduanya menuntut pembangunan pembangkit baru yang sangat mahal.

Biaya Mahal dan Risiko Limbah Raksasa

Banyak negara bernafsu memperbesar skala CCS, didukung lobi kuat dari profesional pertambangan. Namun, skeptisisme tetap tinggi. Masalah utamanya adalah biaya yang fantastis. Estimasi konservatif menempatkan harga listrik dari pembangkit CCS lebih dari lima kali lipat harga eceran saat ini. Tanpa subsidi negara besar-besaran, konsumen tidak akan mau menanggung lonjakan harga ini.

Selain itu, energi yang dibutuhkan untuk menangkap CO2 justru memaksa kita membakar sepertiga lebih banyak batubara.

Masalah tidak berhenti di situ. Setelah ditangkap, operator harus mengompresi CO2 menjadi cairan superkritis untuk transportasi. Jika dunia mengadopsi CCS secara moderat saja, kita akan memproduksi 700 juta barel cairan limbah ini per hari. Sebagai perbandingan, produksi minyak dunia saat ini hanya sekitar 85 juta barel per hari. Artinya, kita akan mengubur limbah sebelas kali lebih banyak daripada minyak yang kita sedot.

Baca Juga :  Krisis Demografi Jepang: Angka Kelahiran 2025 Sentuh Titik Terendah dalam 126 Tahun

Risiko kebocoran juga menghantui. Gempa bumi bisa melepaskan kembali CO2 yang tersimpan di batuan rapuh. Yang paling mendasar, CCS hanya mengurangi emisi, tidak mengakhirinya.

Alternatif yang Lebih Masuk Akal

Untungnya, ada alternatif yang lebih masuk akal secara ekonomi. Pertama, mendesain ulang pembangkit batubara konvensional agar lebih efisien. Kedua, beralih ke gas alam murni. Menurut Administrasi Informasi Energi AS, biaya rata-rata pembangkitan listrik (Levelized Cost of Energy/LCOE) dari gas alam tanpa CCS jauh lebih murah, menjadikannya cara termurah menghasilkan energi bersih saat ini.

Ketiga, tenaga surya yang kian kompetitif. Data menunjukkan biaya energi dari pembangkit surya terus turun drastis, menyaingi bahan bakar fosil.

Namun, menonaktifkan seluruh infrastruktur batubara yang ada saat ini mungkin tidak realistis dalam waktu dekat. Selama batubara masih melimpah, teka-teki antara listrik murah dan udara bersih mungkin akan tetap tak terpecahkan untuk waktu yang lama.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terbaru