Suriah Membara Lagi: Tentara Pemerintah Rebut Tabqa, Pasukan Kurdi Terusir

Minggu, 18 Januari 2026 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kesepakatan damai Maret 2025 runtuh. Tentara Suriah ambil alih bendungan strategis dan ladang minyak, sementara AS dan Prancis serukan de-eskalasi. Dok: France 24.

Kesepakatan damai Maret 2025 runtuh. Tentara Suriah ambil alih bendungan strategis dan ladang minyak, sementara AS dan Prancis serukan de-eskalasi. Dok: France 24.

DAMASKUS, POSNEWS.CO.ID – Peta kekuatan di Suriah kembali bergeser secara dramatis. Tentara Suriah berhasil mengambil alih kendali atas sebagian besar wilayah utara negara itu pada hari Sabtu (17/1). Langkah ini secara efektif mengusir pasukan Kurdi dari wilayah yang telah mereka kuasai secara otonom selama lebih dari satu dekade.

Media pemerintah melaporkan kemenangan strategis tersebut. Tentara resmi mengambil alih kota Tabqa beserta bendungan di sebelahnya. Selain itu, mereka juga menguasai Bendungan Freedom—sebelumnya bernama Bendungan Baath—di sebelah barat kota Raqqa.

Kemajuan militer ini terjadi meskipun Amerika Serikat telah menyerukan penghentian serangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pengkhianatan” di Sungai Efrat

Pemerintah Damaskus tampaknya memperluas cengkeramannya di wilayah yang dikelola Kurdi. Ironisnya, hal ini terjadi tak lama setelah Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, mengeluarkan dekrit yang mengakui bahasa Kurdi sebagai bahasa nasional dan memberikan pengakuan resmi kepada kelompok minoritas tersebut.

Namun, di lapangan, implementasi kesepakatan integrasi Maret 2025 macet total.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi mengklaim telah menarik diri dari wilayah tersebut pada Sabtu pagi sebagai “gestur niat baik”. Namun, mereka kemudian menuduh pasukan Suriah melanggar perjanjian dengan terus merangsek ke timur menuju kota-kota dan ladang minyak yang tidak termasuk dalam kesepakatan.

Baca Juga :  Trump Sebut Anggota Parlemen Muslim Gila dan Desak Deportasi

“Damaskus telah melanggar perjanjian baru-baru ini dan mengkhianati pasukan kami,” tegas pernyataan SDF. Bentrokan pun meletus di selatan Tabqa.

Sebagai balasan, media pemerintah Suriah melaporkan pada hari Minggu bahwa pasukan Kurdi meledakkan dua jembatan utama di atas Sungai Efrat, termasuk jembatan Alrashid di kota Raqqa, untuk menghambat laju tentara.

Perebutan Emas Hitam dan Listrik

Konflik ini bukan hanya soal wilayah, tapi juga sumber daya. Perusahaan Minyak Suriah (Syrian Petroleum Company) menyatakan bahwa tentara Suriah telah merebut ladang minyak Rasafa dan Sufyan. Ladang-ladang ini kini siap beroperasi kembali.

SDF sebelumnya mundur ke arah kota Tabqa, yang memiliki bendungan hidroelektrik sebagai sumber listrik krusial. Ketika tentara Suriah mengumumkan niat untuk merebut Tabqa, SDF melawan keras karena menganggap kota itu tidak termasuk dalam kesepakatan awal.

AS Terjepit di Antara Dua Sekutu

Situasi ini menempatkan Amerika Serikat dalam posisi sulit. Washington harus menyeimbangkan dukungan bertahun-tahun untuk SDF—yang berjuang melawan ISIS—dengan dukungan barunya untuk Presiden Sharaa, pemimpin pemberontak yang menggulingkan diktator Bashar al-Assad pada akhir 2024.

Baca Juga :  Rekrutmen Disabilitas Polri Diperluas, Jabatan Struktural Mulai Dibuka

Brad Cooper, kepala Komando Pusat militer AS, mengeluarkan pernyataan tertulis yang mendesak pasukan Suriah untuk “menghentikan tindakan ofensif apa pun”. Pesawat koalisi pimpinan AS bahkan terbang di atas kota-kota yang menjadi titik konflik dan melepaskan suar peringatan.

Utusan AS Tom Barrack dilaporkan terbang ke Erbil, Irak utara, untuk bertemu dengan komandan SDF Mazloum Abdi dan pemimpin Kurdi Irak Masoud Barzani guna meredakan ketegangan. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyerukan gencatan senjata.

Ketakutan Akan Kekerasan Sektarian

Kekerasan terbaru ini memperdalam garis patahan antara pemerintah Sharaa yang ingin menyatukan kembali negara, dan otoritas Kurdi lokal yang waspada terhadap pemerintahan pimpinan Islamis tersebut.

Ketakutan Kurdi semakin dalam akibat trauma kekerasan sektarian tahun 2025. Saat itu, pasukan yang bersekutu dengan pemerintah menewaskan hampir 1.500 warga Alawit di Suriah barat dan ratusan warga Druze di Suriah selatan, beberapa di antaranya dieksekusi mati.

Kini, otoritas Kurdi masih memegang wilayah mayoritas Arab di timur yang menjadi rumah bagi ladang minyak dan gas terbesar Suriah. Namun, para pemimpin suku Arab di sana telah memberi sinyal kepada Reuters bahwa mereka siap mengangkat senjata melawan Kurdi jika tentara Suriah memberikan perintah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terbaru

Valve membongkar rahasia sensor kapasitif Grip Sense pada Steam Controller. Fitur ini mengendalikan gyro, weapon wheel, dan navigasi menu tanpa tombol fisik tambahan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Valve Ungkap Fitur Tersembunyi Grip Sense di Steam

Minggu, 9 Agu 2026 - 06:00 WIB

Respawn Entertainment resmi menghentikan operasional Apex Legends di Nintendo Switch generasi pertama mulai Season 30 demi memaksimalkan potensi Nintendo Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Respawn Hentikan Dukungan Apex Legends di Nintendo

Sabtu, 8 Agu 2026 - 17:20 WIB