SEOUL, POSNEWS.CO.ID – Pentagon membuat pergeseran strategis yang signifikan di Asia Timur. Sebuah dokumen kebijakan yang rilis pada hari Jumat (23/1) mengungkapkan bahwa Amerika Serikat memperkirakan peran yang “lebih terbatas” dalam menghalangi ancaman Korea Utara.
Sebaliknya, dokumen tersebut menegaskan bahwa Korea Selatan harus mengambil “tanggung jawab utama” untuk tugas pertahanan tersebut. Langkah ini kemungkinan akan memicu kekhawatiran baru di Seoul mengenai komitmen keamanan jangka panjang sekutu utamanya.
Saat ini, Korea Selatan menampung sekitar 28.500 tentara AS sebagai bagian dari pertahanan gabungan. Mengantisipasi peran yang lebih besar, Seoul telah menaikkan anggaran pertahanannya sebesar 7,5% untuk tahun ini.
“Korea Selatan mampu mengambil tanggung jawab utama untuk menghalangi Korea Utara dengan dukungan AS yang kritis namun lebih terbatas,” bunyi Strategi Pertahanan Nasional (National Defense Strategy) tersebut.
Modernisasi Aliansi atau Pengalihan Fokus?
Pentagon menyebut pergeseran ini konsisten dengan kepentingan Amerika dalam memperbarui postur kekuatan di Semenanjung Korea. Pejabat AS dalam beberapa tahun terakhir telah mengisyaratkan keinginan untuk membuat pasukan AS di Korea Selatan lebih fleksibel.
Tujuannya jelas: agar pasukan tersebut dapat beroperasi di luar semenanjung untuk merespons ancaman yang lebih luas, seperti membela Taiwan atau menahan jangkauan militer China yang terus tumbuh.
Pergeseran ini merupakan bagian dari apa yang Washington sebut sebagai “modernisasi aliansi” di bawah pemerintahan Trump.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lee Jae-myung: “Mentalitas Patuh” Harus Hilang
Menariknya, dorongan ini sejalan dengan visi pemimpin di Seoul. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, secara pribadi telah mendorong otonomi pertahanan yang lebih besar.
Pada bulan September lalu, Lee mengkritik keras ketergantungan negaranya. Ia menyebut pandangan bahwa pertahanan mandiri mustahil tanpa pasukan asing sebagai “mentalitas patuh” yang harus diubah.
Meskipun demikian, Kementerian Pertahanan Korea Selatan tetap berhati-hati. Dalam pernyataan hari Sabtu, mereka menegaskan bahwa Pasukan AS di Korea (USFK) tetap menjadi pusat aliansi dan akan terus berfungsi untuk mencegah agresi Korea Utara.
Hilangnya Kata “Denuklirisasi”
Satu detail mencolok dalam dokumen tersebut adalah ketiadaan kata “denuklirisasi”. Ini adalah makalah strategi besar kedua yang menghilangkan bahasa tersebut.
Padahal, pemerintahan Biden pada 2022 secara eksplisit menyatakan “denuklirisasi lengkap dan dapat diverifikasi” sebagai tujuan utama. Penghilangan ini menyiratkan bahwa Washington mungkin sedang beralih strategi: dari upaya penghapusan total menuju pengelolaan (managing) gudang senjata nuklir Korea Utara.
Fokus Utama: China
Dokumen setebal 25 halaman itu menegaskan prioritas Pentagon: membela tanah air dan memastikan China tidak mendominasi AS atau sekutunya di Indo-Pasifik.
“Ini tidak memerlukan perubahan rezim atau perjuangan eksistensial lainnya. Sebaliknya, perdamaian yang layak, dengan syarat yang menguntungkan bagi orang Amerika tetapi juga dapat China terima… adalah mungkin,” tulis dokumen tersebut.
Menariknya, dokumen ini tidak menyebut nama Taiwan secara eksplisit, meskipun ketegangan di selat tersebut menjadi salah satu pendorong utama fleksibilitas pasukan AS di kawasan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Guardian

















