Uni Eropa Ragukan Legalitas Board of Peace

Sabtu, 24 Januari 2026 - 18:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Buntu di Gaza. Dewan Perdamaian bentukan Presiden Donald Trump mendesak DK PBB untuk menuntut pelucutan senjata Hamas sebagai prasyarat rekonstruksi, sementara Hamas menuding laporan tersebut penuh dengan kebohongan. Dok: Istimewa.

Buntu di Gaza. Dewan Perdamaian bentukan Presiden Donald Trump mendesak DK PBB untuk menuntut pelucutan senjata Hamas sebagai prasyarat rekonstruksi, sementara Hamas menuding laporan tersebut penuh dengan kebohongan. Dok: Istimewa.

BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Keraguan Eropa terhadap inisiatif “Dewan Perdamaian” (Board of Peace) Donald Trump ternyata bukan sekadar sentimen politik, melainkan masalah hukum yang serius. Sebuah dokumen internal rahasia mengungkap bahwa sayap kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE) telah membunyikan alarm bahaya.

Reuters telah melihat dokumen analisis tertanggal 19 Januari tersebut. Pihak berwenang membagikannya kepada negara-negara anggota UE. Di dalamnya, Layanan Tindakan Eksternal Eropa (EEAS) menyatakan kekhawatiran mendalam tentang “konsentrasi kekuasaan” di tangan Trump.

Para diplomat UE menilai piagam Dewan Perdamaian tersebut bermasalah secara fundamental.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Piagam tersebut menimbulkan kekhawatiran di bawah prinsip-prinsip konstitusional UE,” tulis dokumen tersebut. Lebih jauh, mereka menegaskan bahwa otonomi tatanan hukum UE bertentangan dengan pemusatan kekuasaan mutlak pada sang ketua.

Penyimpangan Mandat PBB

Analisis tersebut juga menyoroti pergeseran misi yang signifikan. Awalnya, Dewan Keamanan PBB pada bulan November mengizinkan mandat yang semata-mata berfokus pada konflik Gaza.

Baca Juga :  Diplomasi Kopi: Cara Indonesia Memperkenalkan Budaya Lewat Secangkir Minuman

Namun, dokumen UE mencatat bahwa Dewan Perdamaian versi Trump ini “menyimpang secara signifikan” dari mandat tersebut. Trump merancangnya untuk memulai dari Gaza, lalu meluas untuk menangani konflik global lainnya. Padahal, peran ini seharusnya menjadi ranah PBB.

Trump sendiri tidak menutupi ambisinya. “Begitu dewan ini terbentuk sepenuhnya, kita bisa melakukan hampir apa saja yang kita inginkan,” ujarnya pada hari Kamis. Ia menambahkan akan melakukannya “bersama dengan PBB”. Menurutnya, potensi PBB belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ketua Seumur Hidup dan Syarat $1 Miliar

Struktur dewan ini memang unik dan kontroversial. Piagam menetapkan Trump sebagai ketua seumur hidup (chaired for life). Sementara itu, aturan membatasi masa jabatan negara anggota selama tiga tahun. Namun, mereka bisa mendapatkan keanggotaan permanen dengan membayar $1 miliar (Rp 15,7 triliun) untuk mendanai kegiatan dewan.

Baca Juga :  Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC

Dokumen UE secara spesifik mengkritik ketentuan bahwa pilihan tingkat partisipasi negara anggota memerlukan persetujuan ketua.

“Hal ini merupakan campur tangan yang tidak semestinya terhadap otonomi organisasi setiap anggota,” tegas analisis tersebut.

Antonio Costa: “Keraguan Serius”

Setelah pertemuan para pemimpin Eropa pada Kamis malam, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyampaikan sikap blok tersebut dengan hati-hati namun tegas.

“Kami memiliki keraguan serius tentang sejumlah elemen dalam piagam Dewan Perdamaian, terkait dengan cakupannya, tata kelolanya, dan kompatibilitasnya dengan piagam PBB,” kata Costa kepada wartawan.

Meskipun demikian, Costa menyatakan UE tetap “siap bekerja sama” dengan AS untuk implementasi Rencana Perdamaian Gaza. Syaratnya, dewan tersebut harus bertindak sebagai administrasi transisi sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.

Sikap skeptis ini menjelaskan mengapa beberapa negara besar UE, termasuk Prancis dan Spanyol, secara terbuka menolak bergabung. Mereka memilih menjaga jarak dari struktur kekuasaan yang mereka anggap melanggar kedaulatan organisasi sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Reuters

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komplotan Pembobol Toko di Tanggamus Dibekuk, Diduga Beraksi di Puluhan TKP
Inggris Gagal Tundukkan Ghana pada Laga Kedua
Jejak Transaksi Jadi Kunci Penangkapan Pelaku Penyekapan YTT di Bandung
Dua Peserta SPPI Meninggal Saat Latsarmil, Kemhan Evaluasi Total Program
Sabu 815 Gram Disembunyikan dalam Sepatu, Dua Pria Diciduk di Bandara Kualanamu
Prediksi Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Langit Cerah, Waspada Hujan Sore
Ini Penampakan Wajah Taufik Hidayat Saat Ditangkap Polisi Jadi Sorotan Publik
Taufik Hidayat Ditangkap, Dedi Mulyadi Minta Pelaku Penyekapan YTR Dihukum Berat

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:46 WIB

Komplotan Pembobol Toko di Tanggamus Dibekuk, Diduga Beraksi di Puluhan TKP

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:46 WIB

Inggris Gagal Tundukkan Ghana pada Laga Kedua

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:18 WIB

Jejak Transaksi Jadi Kunci Penangkapan Pelaku Penyekapan YTT di Bandung

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:02 WIB

Dua Peserta SPPI Meninggal Saat Latsarmil, Kemhan Evaluasi Total Program

Rabu, 24 Juni 2026 - 06:48 WIB

Sabu 815 Gram Disembunyikan dalam Sepatu, Dua Pria Diciduk di Bandara Kualanamu

Berita Terbaru

Kegagalan lini serang Tiga Singa. Inggris mendominasi penguasaan bola namun gagal mengonversi peluang emas menjadi gol saat menghadapi Ghana. Dok: (AP Photo/Petr David Josek)

SPORT

Inggris Gagal Tundukkan Ghana pada Laga Kedua

Rabu, 24 Jun 2026 - 07:46 WIB