Starmer Tegur Raksasa Teknologi: Situasi Ini Tidak Boleh Berlanjut Demi Keamanan Anak

Jumat, 17 April 2026 - 18:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konfrontasi di Downing Street. PM Inggris Keir Starmer memperingatkan bos Meta, TikTok, dan Google untuk segera merombak sistem keamanan mereka atau menghadapi larangan total bagi pengguna di bawah 16 tahun. Dok: Istimewa.

Konfrontasi di Downing Street. PM Inggris Keir Starmer memperingatkan bos Meta, TikTok, dan Google untuk segera merombak sistem keamanan mereka atau menghadapi larangan total bagi pengguna di bawah 16 tahun. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyampaikan peringatan keras kepada para pemimpin perusahaan teknologi global. Starmer menegaskan bahwa pola operasional media sosial saat ini harus berubah secara fundamental guna melindungi generasi muda.

Starmer memanggil tokoh-tokoh senior dari Meta, TikTok, Google, pemilik Snapchat, dan X ke kantornya pada Kamis pagi. Pertemuan ini menjadi krusial saat pemerintah mempertimbangkan pembatasan akses internet yang sangat ketat bagi anak-anak.

Ancaman Risiko dan Perlindungan Anak

Dalam pertemuan tersebut, Starmer secara eksplisit menyatakan kegelisahannya terhadap dampak digital bagi anak-anak. Menurutnya, media sosial saat ini menempatkan anak-anak pada risiko yang tidak dapat diterima.

“Situasi ini tidak boleh berlanjut. Hal ini harus berubah karena media sosial membahayakan anak-anak kita,” tegas Starmer kepada para eksekutif teknologi. Ia berpendapat bahwa dunia yang melindungi anak—meskipun melalui pembatasan akses—jauh lebih baik daripada dunia yang membiarkan bahaya sebagai harga partisipasi digital.

Opsi Larangan Gaya Australia dan Konsultasi Publik

Pemerintah Inggris kini sedang melakukan konsultasi intensif mengenai batas usia pengguna media sosial. Salah satu opsi utama yang muncul adalah penerapan larangan gaya Australia bagi remaja di bawah 16 tahun. Saat ini, mayoritas aplikasi populer hanya menetapkan batas usia minimal 13 tahun bagi pengguna di Inggris.

Baca Juga :  Bisnis Perang: Menyoroti Kompleks Industri Militer

Selain pembatasan usia, pemerintah juga mengincar fitur-aplikasi yang memicu kecanduan. Fitur infinite scrolling atau gulir tanpa batas menjadi salah satu target regulasi. Starmer menuntut adanya “perubahan dunia nyata” guna memastikan platform digital benar-benar aman bagi anak-anak. Meskipun sebelumnya sempat skeptis, Starmer kini tampak lebih terbuka terhadap ide larangan total tersebut.

Tekanan Politik dan Penolakan Amandemen

Posisi Starmer semakin terjepit oleh desakan dari internal partainya sendiri. Lebih dari 60 anggota parlemen baru-baru ini menandatangani surat yang mendesak pemberlakuan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Banyak pihak memprediksi Starmer akan meresmikan kebijakan ini setelah proses konsultasi selesai pada musim panas mendatang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, anggota parlemen (MP) baru saja menolak usulan amandemen dari House of Lords mengenai gerbang usia pada aplikasi. Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Anak Usia Dini, Olivia Bailey, menyatakan bahwa konsultasi adalah jalan terbaik. “Konsultasi memungkinkan kami menangani berbagai layanan dan fitur secara lebih luas daripada sekadar amandemen yang sempit,” ujar Bailey di hadapan parlemen.

Baca Juga :  Bumi Mendidih: 2025 Tahun Terpanas Ketiga

Penguatan Ofcom dan Penunjukan Ian Cheshire

Otoritas London juga terus menekan Ofcom selaku regulator komunikasi nasional. Ofcom memegang mandat utama dalam mengimplementasikan Undang-Undang Keamanan Online (Online Safety Act). Tahun lalu, Sekretaris Teknologi Liz Kendall memperingatkan bahwa badan pengawas tersebut berisiko kehilangan kepercayaan publik jika gagal mengatasi bahaya daring secara sistemik.

Guna memperkuat taji regulator, pemerintah menunjuk Ian Cheshire sebagai ketua baru Ofcom bulan ini. Cheshire, yang merupakan mantan pimpinan Channel 4, diharapkan mampu memimpin penertiban platform media sosial dengan lebih agresif. Hingga saat ini, pihak Google menolak berkomentar mengenai pertemuan di Downing Street tersebut, sementara Meta dan TikTok masih dalam proses konfirmasi.

Menanti Keputusan Musim Panas

Masa depan kedaulatan digital anak-anak di Inggris kini bergantung pada hasil konsultasi pemerintah beberapa bulan ke depan. Pada akhirnya, Starmer harus membuktikan bahwa ia mampu menyeimbangkan inovasi teknologi dengan tanggung jawab moral terhadap warganya.

Dunia internasional kini memantau apakah Inggris akan benar-benar mengikuti jejak Australia dalam menutup pintu media sosial bagi remaja. Di tahun 2026 yang penuh disrupsi informasi, ketegasan regulasi menjadi variabel kunci guna menjamin kesehatan mental generasi masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Berkas Kasus Ijazah Jokowi Dikirim ke Kejati, 5 Tersangka Lanjut Proses Hukum
Serbu Promo Ancol, Masuk Cuma Rp120 Ribu per Mobil Tanpa Batas Penumpang
Karyawan Minimarket Bobol Brankas Rp52 Juta, Habis 3 Jam untuk Judi Online
Efek Dominan AI: Snap Inc. Pangkas 1.000 Karyawan guna Kejar Profitabilitas
Polisi Tangkap Mantan Suami Pembunuh Wanita di Pondok Pakulonan Serpong
Masa Depan Kendaraan Listrik di Indonesia: Infrastruktur vs Kesiapan Masyarakat
PC vs Laptop di Era Kerja Remote: Mana yang Lebih Worth It untuk Jangka Panjang?
Mengenal Metaverse di Tahun 2026: Masihkah Relevan atau Hanya Sekadar Tren?

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 20:04 WIB

Berkas Kasus Ijazah Jokowi Dikirim ke Kejati, 5 Tersangka Lanjut Proses Hukum

Jumat, 17 April 2026 - 19:44 WIB

Serbu Promo Ancol, Masuk Cuma Rp120 Ribu per Mobil Tanpa Batas Penumpang

Jumat, 17 April 2026 - 19:24 WIB

Karyawan Minimarket Bobol Brankas Rp52 Juta, Habis 3 Jam untuk Judi Online

Jumat, 17 April 2026 - 18:24 WIB

Starmer Tegur Raksasa Teknologi: Situasi Ini Tidak Boleh Berlanjut Demi Keamanan Anak

Jumat, 17 April 2026 - 16:14 WIB

Efek Dominan AI: Snap Inc. Pangkas 1.000 Karyawan guna Kejar Profitabilitas

Berita Terbaru