TOWTON/YORKSHIRE, POSNEWS.CO.ID – Desa Towton, yang terjepit di antara York dan Leeds di utara Inggris, tampak tenang hari ini. Tidak ada museum megah, hanya sebuah salib di pinggir jalan. Namun, di tanah inilah sejarah mencatat salah satu hari paling kelam bagi bangsa Inggris.
Pada 29 Maret 1461, Pertempuran Towton meletus. Sejarah mencatat momen itu sebagai hari paling berdarah dalam riwayat Inggris. Namun, buku sejarah di sekolah sering kali melewatkan detail mengerikan dari abad ke-15 ini.
Renovasi bangunan pada tahun 1996 akhirnya mengungkap kebenaran baru. Saat pekerja merenovasi Towton Hall, mereka menemukan sesuatu yang mengerikan di bawah lantai: kerangka manusia. Arkeolog yang datang terkejut bukan main. Bukan hanya karena jumlahnya, tetapi karena cara brutal kematian orang-orang ini dan metode penguburan mereka.
Kita sering mengira perang modern abad ke-20 adalah puncak kekejaman. Namun, temuan di Towton membuktikan bahwa manusia telah lama bersikap buas.
Rebut Tahta: Lancastrian vs Yorkist
Pertempuran ini adalah puncak dari perseteruan dua keluarga raksasa: Lancastrian dan Yorkist. Keduanya mengklaim takhta Inggris.
Kubu Lancastrian membela Raja Henry VI. Lawan politiknya menganggap Henry tidak mampu memimpin atau bahkan gila. Di sisi lain, kubu Yorkist, yang dipimpin oleh Richard Plantagenet (dan kemudian putranya, Edward, yang baru 18 tahun), merasa berhak atas mahkota.
Sebelum Towton, perang di Inggris biasanya berskala kecil, melibatkan ratusan atau ribuan orang amatir, dan jarang memakan banyak korban jiwa. Towton mengubah segalanya. Kedua belah pihak mengerahkan pasukan raksasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Estimasi korban tewas sangat mencengangkan: 28.000 orang dari 75.000 prajurit yang bertempur. Sebagai konteks, jumlah pasukan ini mewakili 10% dari seluruh pria usia produktif di Inggris saat itu. Kehilangan 28.000 nyawa dalam satu hari adalah angka yang melumpuhkan demografi bangsa.
Senjata Pembunuh: Poleaxe dan Peluru Awal
Analisis forensik pada kerangka menceritakan kisah horor di medan perang. Para prajurit ini tidak mati dengan mudah. Musuh membacok, memanah, atau kuda menginjak-injak mereka hingga tewas.
Arkeolog bahkan menemukan timah komposit dan bagian dari senjata api kuno, menandakan penggunaan peluru paling awal di Inggris. Namun, senjata paling mematikan hari itu adalah poleaxe.
Senjata besi panjang dan berat ini memiliki ujung tajam, bilah kapak di satu sisi, dan paku tajam (mirip obeng kembang raksasa) di sisi lain. Para ahli menduga senjata inilah yang menghabisi sebagian besar pasukan Lancastrian yang melarikan diri saat barisan mereka pecah.
Ritual Penghapusan Identitas
Yang paling membingungkan para ahli adalah tingkat “overkill” atau pembunuhan berlebihan. Bukti kerangka menunjukkan banyak korban menerima belasan pukulan, padahal dua atau tiga pukulan awal sudah cukup membunuh mereka.
Apakah ini kemarahan di medan perang atau ritual pasca-kematian? Para ahli belum yakin. Namun, kebiadaban ini menunjukkan munculnya konsep baru tentang musuh: bukan sekadar lawan untuk dibunuh, tetapi seseorang yang harus kehilangan identitasnya secara total.
Berbeda dengan praktik penguburan suci abad pertengahan, pasukan pemenang melucuti pakaian mayat-mayat di Towton dan melempar mereka begitu saja ke dalam lubang massal untuk mendehumanisasi korban. Ini kontras dengan kuburan massal abad pertengahan lain di Wisby, Swedia (1361), di mana masyarakat menguburkan prajurit secara utuh lengkap dengan baju zirah mereka.
Tampaknya, kebiadaban kubu Yorkist berhasil menanamkan ketakutan. Edward IV memenangkan pertempuran dan berhasil mempertahankan takhtanya selama 22 tahun ke depan. Di Towton, tulang-belulang itu kini berbicara, mengingatkan kita bahwa kebrutalan terorganisir bukanlah fenomena baru.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















