STOCKHOLM, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Swedia mengambil langkah drastis untuk mengembalikan fokus di ruang kelas. Pada hari Rabu (28/1), pemerintah mengumumkan rencana undang-undang baru. Rencana ini akan melarang penggunaan telepon seluler di seluruh sekolah dasar dan menengah.
Aturan ini berlaku bagi siswa hingga kelas sembilan, atau usia sekitar 15-16 tahun. Mekanismenya ketat. Siswa wajib menyerahkan ponsel saat tiba di sekolah pada pagi hari. Mereka baru bisa mengambilnya kembali saat jam sekolah berakhir.
Pemerintah mendasarkan keputusan ini pada data yang mengkhawatirkan. Pernyataan resmi pemerintah mengutip sebuah studi penting. Studi itu menunjukkan siswa Swedia lebih terganggu oleh alat digital di kelas dibandingkan rata-rata siswa OECD.
Kemenangan untuk Kesehatan Mental
Sebenarnya, sekitar 80 persen sekolah di Swedia sudah menerapkan larangan ponsel. Namun, kebijakan itu bergantung pada kepala sekolah masing-masing. Kini, pemerintah merasa perlu menjadikannya standar nasional yang mengikat.
Menteri Pendidikan Simona Mohamsson menegaskan urgensi aturan ini dalam konferensi pers. Ia menyebut larangan nasional sangat diperlukan. Tujuannya memastikan semua sekolah menjadi zona bebas ponsel tanpa terkecuali.
“Ini akan mengurangi gangguan di kelas,” ujar Mohamsson. Ia menggambarkan kebijakan ini sebagai “kemenangan bagi pengajaran dan kesehatan mental.”
Lebih jauh, Mohamsson menyoroti data mengejutkan. Siswa sekolah menengah di Swedia menghabiskan rata-rata hampir tujuh jam sehari di depan layar. Angka ini bahkan belum termasuk waktu layar selama jam sekolah. Ia berharap larangan ini juga akan membantu perjuangan orang tua di rumah. Mereka bisa lebih mudah mengurangi screen time anak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Putar Balik Strategi Digital
Jika parlemen menyetujui, larangan ini akan mulai berlaku pada awal semester musim gugur. Tepatnya pada bulan Agustus 2026. Aturan ini juga akan mencakup fasilitas penitipan anak setelah sekolah.
Langkah ini menandai perubahan arah signifikan bagi negara Skandinavia tersebut. Pada 2017, Swedia meluncurkan strategi “digitalisasi” nasional yang ambisius. Strategi itu berlaku dari PAUD hingga sekolah menengah. Saat itu, tablet dan laptop menggantikan banyak buku teks dan tulisan tangan.
Namun, sejak 2023, Swedia mulai memutar balik kebijakan tersebut (rolling back). Kritik keras bermunculan seiring menurunnya performa akademik siswa. Penurunan kemampuan membaca juga menjadi sorotan. Hal ini mendorong pemerintah kembali memprioritaskan buku fisik dan fokus tanpa gangguan digital.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: AFP


















