Trump Usulkan Nasionalisasi Pemilu: Lawan Politik Khawatir Intervensi di Midterms 2026

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Seruan Presiden Donald Trump agar Partai Republik “menasionalisasi” pemilu memicu gelombang kritik di Washington pada Selasa (3/2/2026). Selain itu, para anggota parlemen dan pakar hukum menyebut usulan ini sebagai ancaman nyata terhadap tatanan konstitusional Amerika Serikat.

Dalam wawancara podcast bersama mantan Wakil Direktur FBI Dan Bongino, Trump kembali mengulangi klaim palsu bahwa pihak tertentu mencuri pemilu 2020 darinya. Oleh sebab itu, ia mendesak partainya untuk segera “mengambil alih” dan melakukan nasionalisasi pemungutan suara di setidaknya 15 lokasi tertentu, meskipun ia tidak merinci mekanisme pelaksanaannya.

Pushback Konstitusional dan Kekhawatiran “Januari 6”

Padahal, berdasarkan Konstitusi AS, pemerintah negara bagian—bukan pemerintah federal—yang memiliki wewenang penuh untuk mengawasi pemilu. Akibatnya, Ketua DPR Mike Johnson dan Pemimpin Mayoritas Senat John Thune tidak memberikan dukungan terhadap rencana pengambilalihan tersebut.

“Saya bukan pendukung federalisasi pemilu,” ujar John Thune kepada wartawan. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa desentralisasi kekuasaan memberikan perlindungan lebih aman dari risiko peretasan sistem. Sementara itu, pakar ilmu politik Brendan Nyhan memperingatkan bahwa retorika semacam ini berisiko memicu kekerasan serupa serangan Capitol 6 Januari 2021 jika publik membiarkan narasi tersebut terus berkembang.

Penggeledahan di Georgia dan Peran Tulsi Gabbard

Ketegangan pun semakin meningkat setelah FBI melakukan penggeledahan di kantor pemilu Fulton County, Georgia, guna mencari surat suara tahun 2020. Bahkan, kehadiran Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard dalam operasi domestik tersebut memicu alarm di kalangan Demokrat.

Senator Mark Warner menyatakan keterlibatan intelijen nasional dalam pemilu domestik sangat tidak biasa dan berbahaya bagi netralitas institusi. Alhasil, Warner menyebut tindakan ini sebagai bentuk politisasi badan intelijen. Namun, Gabbard berdalih bahwa kehadirannya merupakan permintaan langsung dari Trump untuk menganalisis keamanan sistem pemungutan suara elektronik yang menurutnya rentan manipulasi.

Baca Juga :  Selain Motor Listrik, Kejagung Temukan Mark Up Sepatu - Tablet dan TV Program MBG

RUU SAVE Act dan Ancaman Pendanaan

Di sisi lain, pihak Gedung Putih melalui Karoline Leavitt menegaskan bahwa Trump menginginkan Kongres segera meloloskan SAVE Act. RUU ini mewajibkan pemilih memberikan bukti kewarganegaraan AS dan identitas foto. Trump tetap meyakini adanya banyak kecurangan dan penyimpangan dalam pemilu Amerika.

Beberapa sekutu Trump bahkan mengancam akan menahan pendanaan federal bagi negara bagian yang menolak aturan baru tersebut. Pasalnya, setiap tahun pemerintah memberikan bantuan ratusan juta dolar untuk administrasi pemilu, termasuk keamanan siber dan pelatihan petugas. Banyak pihak memandang ancaman ini sebagai upaya pemaksaan pusat terhadap otoritas lokal menjelang pemilu paruh waktu November yang akan menentukan kontrol atas Kongres.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki
Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual
Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen
Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS
Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi
Rencana Gaza Trump Tetap Berlaku, Diskusi dengan Israel
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 13 Orang di Nizhnekamsk
Trump Tuntut Kompensasi dari Iran, Perumit Upaya Pembukaan

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:44 WIB

Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Rencana Gaza Trump Tetap Berlaku, Diskusi dengan Israel

Berita Terbaru