di Bawah Bayang-Bayang Perang: Putin Sebut Konflik Ukraina Mulai Berakhir

Minggu, 10 Mei 2026 - 14:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Retaknya kompromi Anchorage. Rusia menuduh Donald Trump melanggar kesepakatan puncak Alaska karena menghentikan mediasi damai demi fokus pada perang Iran. Dok: Istimewa.

Retaknya kompromi Anchorage. Rusia menuduh Donald Trump melanggar kesepakatan puncak Alaska karena menghentikan mediasi damai demi fokus pada perang Iran. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Presiden Vladimir Putin menyampaikan pesan optimisme sekaligus peringatan keras terhadap Barat dalam peringatan Hari Kemenangan di Lapangan Merah. Putin mengeklaim bahwa konflik di Ukraina kini mulai mereda, meskipun ia tetap mengecam dukungan NATO yang ia sebut sebagai “kekuatan agresif.”

Pernyataan ini muncul pada hari pertama gencatan senjata tiga hari yang dimediasi oleh Amerika Serikat. “Saya pikir konflik ini sedang menuju akhir, namun masalah ini tetap menjadi urusan yang serius,” ujar Putin kepada wartawan setelah upacara berakhir.

Parade Terkecil dalam Dua Dekade

Atmosfer peringatan kemenangan Uni Soviet atas Jerman Nazi tahun ini terasa sangat berbeda. Otoritas Rusia memangkas skala perayaan secara drastis menyusul rentetan serangan jarak jauh Ukraina ke wilayah Rusia dalam beberapa pekan terakhir.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk pertama kalinya dalam hampir 20 tahun, militer Rusia tidak menyertakan perangkat keras militer seperti tank dan rudal balistik dalam parade. Selain itu, daftar tamu mancanegara menyusut drastis. Hanya pemimpin dari Belarus, Malaysia, Laos, Uzbekistan, dan Kazakhstan yang hadir. Ketidakhadiran tokoh besar seperti Xi Jinping dari China, yang hadir tahun lalu, menjadi sinyal pergeseran dinamika diplomatik Moskow di tahun 2026.

Baca Juga :  Modus Gesek Kartu Kredit, Sindikat Pencuri Dompet Aktris Korea Jeon Hye Bin Digulung Polisi

Gencatan Senjata Trump dan Pertukaran Tawanan

Presiden AS Donald Trump meresmikan gencatan senjata ini mulai Sabtu hingga Senin mendatang. Trump berharap langkah ini menjadi “awal dari akhir” perang mematikan yang telah memasuki tahun kelima tersebut.

Meskipun demikian, implementasi di lapangan tetap goyah. Moskow dan Kyiv saling menuduh melakukan pelanggaran di sepanjang garis depan. Terkait rencana pertukaran 1.000 tawanan perang dari masing-masing pihak, Putin mengeklaim bahwa Rusia belum menerima proposal teknis apa pun dari pihak Ukraina hingga Sabtu siang. Kremlin juga menegaskan bahwa saat ini tidak ada rencana untuk memperpanjang durasi jeda tempur tersebut.

Syarat Ketat Pertemuan Putin-Zelenskyy

Terkait upaya rekonsiliasi, Putin menetapkan batas yang jelas bagi diplomasi langsung. Ia menyatakan kesediaan untuk bertemu Presiden Volodymyr Zelenskyy di negara ketiga dengan syarat yang sangat spesifik.

“Pertemuan itu harus menjadi titik final (penandatanganan), bukan proses negosiasi itu sendiri,” tegas Putin. Ia menuntut agar seluruh poin kesepakatan damai harus tuntas sebelum kedua pemimpin bertatap muka. Oleh karena itu, Moskow tetap menolak desakan Barat agar Rusia mundur sepenuhnya dari wilayah yang mereka klaim sebagai bagian dari kedaulatan Rusia.

Baca Juga :  AS Tuduh Rwanda Khianati Perjanjian Damai: Dukung Pemberontak M23 Rebut Kota Strategis Kongo

Kelelahan Publik dan Pemadaman Internet

Di balik kemegahan parade, warga Moskow mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan terhadap perang yang berkepanjangan. Guna mencegah serangan drone, pemerintah memberlakukan pemadaman internet kota secara berkala selama acara berlangsung.

“Saya tidak merasakan apa-apa. Saya butuh internet, dan saya tidak memilikinya,” ujar Elena (36), seorang ekonom di Moskow Pusat kepada AFP. Sikap dingin masyarakat ini mencerminkan dampak psikologis dari konflik yang telah menewaskan ratusan ribu orang tersebut. Singkatnya, peringatan 9 Mei 2026 ini lebih menonjolkan kewaspadaan keamanan daripada unjuk kekuatan militer seperti tahun-tahun sebelumnya.

Diplomasi yang Terpinggirkan

Proses perdamaian yang dimediasi AS saat ini menghadapi tantangan besar. Washington dilaporkan mulai mengalihkan fokus diplomatik dan sumber daya militernya ke arah perang melawan Iran yang juga sedang berkecamuk di Timur Tengah.

Dengan demikian, nasib Ukraina kini berada dalam ketidakpastian antara janji gencatan senjata Trump dan keteguhan posisi militer Putin. Masyarakat internasional kini menanti apakah jeda tiga hari ini mampu membuka celah bagi negosiasi yang lebih substansial sebelum perang ini merenggut lebih banyak nyawa di jantung Eropa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fakta Baru Kasus YTR, Pelaku Aniaya Korban Berulang Kali sejak 2024
Polri Rotasi 1.121 Perwira, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti
Satgas Mitigasi PHK Resmi Dibentuk, Fokus Cegah Gelombang Pemutusan Kerja
Polda Metro Jaya Ungkap Judol HOT51, Perputaran Uang Capai Rp559,8 Miliar
Bareskrim Sita Rp8,7 Miliar dan Tetapkan 287 WNA Tersangka Judi Online
Meta Resmi Rilis Kacamata Pintar Murah
Rusia Bantah Tekan Belarus: Hubungan Tetap Harmonis
Perancis Batasi Jam Kunjung Wisata dan Polandia Siaga

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 17:00 WIB

Fakta Baru Kasus YTR, Pelaku Aniaya Korban Berulang Kali sejak 2024

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:42 WIB

Polri Rotasi 1.121 Perwira, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:28 WIB

Satgas Mitigasi PHK Resmi Dibentuk, Fokus Cegah Gelombang Pemutusan Kerja

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:16 WIB

Polda Metro Jaya Ungkap Judol HOT51, Perputaran Uang Capai Rp559,8 Miliar

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:59 WIB

Bareskrim Sita Rp8,7 Miliar dan Tetapkan 287 WNA Tersangka Judi Online

Berita Terbaru