Realitas Baru: Perjanjian Nuklir New START Berakhir

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Matahari di dalam wadah. Ilmuwan dunia kini berada di ambang revolusi energi dengan mencoba menjinakkan tenaga bintang melalui fusi nuklir, sebuah solusi yang menjanjikan listrik melimpah tanpa emisi karbon. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Matahari di dalam wadah. Ilmuwan dunia kini berada di ambang revolusi energi dengan mencoba menjinakkan tenaga bintang melalui fusi nuklir, sebuah solusi yang menjanjikan listrik melimpah tanpa emisi karbon. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID โ€“ Rusia menyatakan kesiapannya untuk menghadapi dunia tanpa batasan kontrol senjata nuklir setelah perjanjian New START berakhir pekan ini. Pejabat senior Moskow menegaskan hal tersebut saat melakukan kunjungan strategis ke Beijing pada Selasa (3/2/2026).

Kecuali kedua belah pihak mencapai pemahaman di menit-menit terakhir, Washington dan Moskow akan beroperasi tanpa batasan pada arsenal nuklir strategis jarak jauh mereka. Situasi ini merupakan yang pertama kalinya terjadi dalam lebih dari 50 tahun terakhir. “Ini adalah momen baru, realitas baruโ€”kami siap untuk itu,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, kepada kantor berita Rusia di Beijing.

Kegagalan Diplomasi dan Diamnya Washington

Perjanjian New START yang diteken pada 2010 ini membatasi jumlah hulu ledak strategis yang dikerahkan hingga 1.550 unit. Namun, Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengindikasikan bahwa ia akan membiarkan perjanjian tersebut kedaluwarsa. Terlepas dari usulan Rusia untuk mempertahankan batas tersebut selama satu tahun tambahan, Trump belum memberikan respons formal hingga saat ini.

Ryabkov menilai sikap diam Amerika Serikat sebagai sebuah jawaban yang jelas. “Kurangnya jawaban juga merupakan sebuah jawaban,” tegasnya. Akibatnya, para pendukung kontrol senjata di Moskow dan Washington khawatir hilangnya perjanjian ini akan menghancurkan kepercayaan dan kemampuan untuk memverifikasi niat nuklir lawan. Alhasil, risiko perlombaan senjata nuklir yang tak terkendali kini membayangi stabilitas global.

Peringatan dari Obama dan Medvedev

Mantan Presiden AS Barack Obama, yang menandatangani perjanjian tersebut bersama Dmitry Medvedev, mendesak Kongres AS untuk segera turun tangan. Melalui platform X, Obama memperingatkan bahwa berakhirnya New START akan menghapus diplomasi selama puluhan tahun secara sia-sia. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa langkah ini hanya akan membuat dunia menjadi tempat yang kurang aman.

Senada dengan Obama, Dmitry Medvedev juga menyuarakan kekhawatiran yang sama. Ia menyatakan bahwa dunia seharusnya merasa khawatir jika perjanjian tersebut berakhir tanpa adanya kejelasan mengenai langkah selanjutnya. Bahkan, Medvedev memberikan gambaran suram bahwa situasi ini akan mempercepat perputaran “Jam Kiamat” (Doomsday Clock).

Baca Juga :  Jelang Ramadan 1447 H, Satpol PP DKI Kerahkan 1.900 Personel Razia Miras Ilegal

Ketegangan China dan Ancaman di Greenland

Di sisi lain, Amerika Serikat telah menyarankan agar China bergabung dalam pembicaraan kontrol senjata sebagai kekuatan nuklir terbesar ketiga di dunia. Namun, Beijing secara tegas menunjukkan ketidaktertarikan untuk ikut serta dalam pakta tersebut. Ryabkov sendiri menyatakan bahwa Moskow sangat menghormati posisi China yang menolak keterlibatan tersebut.

Selain isu hulu ledak, Ryabkov juga meluncurkan ancaman terkait wilayah otonom Denmark, Greenland. Ia menegaskan bahwa jika Amerika Serikat nekat memasang sistem pertahanan rudal di Greenland, maka Rusia akan segera mengambil tindakan militer balasan. Ancaman ini menambah lapisan ketegangan baru bagi anggota NATO di kawasan Nordik seiring dengan runtuhnya arsitektur keamanan nuklir dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kaki Diborgol dan Dirantai, 3 Pemuda di Senen Diduga Disekap Selama Tiga Pekan
Jakarta Bangun Akses Bawah Tanah ke MRT, Hotel-Hotel Ikonik Terintegrasi
Pohon Tumbang Timpa Dua Mobil, Sudin Tamhut Jakarta Utara Sisir Pohon Berisiko
Teriak Minta Tolong, Pemuda Luka Bacok di Bekasi Diduga Jadi Korban Begal
Air Laut Menghitam di Tarumajaya, Nelayan Terpaksa Jadi Buruh dan Pemulung
Mengapa Kasus YTR Belum Disebut Penyiksaan? Ini Penjelasan Komnas Perempuan
Cuaca Jabodetabek 28 Juni 2026: Bogor dan Depok Berpotensi Hujan, Jakarta Berawan
54 Tim Ramaikan Turnamen Mobile Legends Hari Bhayangkara ke-80 di Jakarta Utara

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 11:00 WIB

Kaki Diborgol dan Dirantai, 3 Pemuda di Senen Diduga Disekap Selama Tiga Pekan

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:30 WIB

Jakarta Bangun Akses Bawah Tanah ke MRT, Hotel-Hotel Ikonik Terintegrasi

Minggu, 28 Juni 2026 - 09:17 WIB

Pohon Tumbang Timpa Dua Mobil, Sudin Tamhut Jakarta Utara Sisir Pohon Berisiko

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:24 WIB

Teriak Minta Tolong, Pemuda Luka Bacok di Bekasi Diduga Jadi Korban Begal

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:15 WIB

Air Laut Menghitam di Tarumajaya, Nelayan Terpaksa Jadi Buruh dan Pemulung

Berita Terbaru