WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump mengirimkan pesan ketegasan ke panggung internasional menjelang kunjungannya ke China. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan penuh untuk menyelesaikan konflik dengan Iran tanpa harus bergantung pada intervensi Presiden Xi Jinping.
“Saya rasa kita tidak membutuhkan bantuan apa pun terkait Iran. Kita akan memenangkannya dengan satu atau lain cara, baik secara damai maupun sebaliknya,” ujar Trump kepada wartawan pada Selasa siang. Pernyataan ini meredam ekspektasi bahwa agenda utamanya di Beijing adalah meminta bantuan diplomatik China guna menekan Teheran.
Kebuntuan Gencatan Senjata dan Manuver Teheran
Meskipun gencatan senjata sementara telah berlaku selama lebih dari sebulan, progres menuju perdamaian permanen masih nol besar. Bahkan, Teheran justru terlihat semakin memperkuat posisinya di Selat Hormuz.
Laporan intelijen menyebutkan Iran telah menjalin kesepakatan dengan Irak dan Pakistan guna mendistribusikan minyak dan gas alam cair (LNG) dari kawasan tersebut secara sepihak. Langkah ini dipandang sebagai upaya normalisasi kontrol Iran atas jalur air yang memasok seperlima kebutuhan minyak dunia. Meskipun demikian, Gedung Putih mengeklaim telah mencapai kesepahaman dengan China bahwa tidak boleh ada negara yang memungut “biaya tol” di perairan internasional tersebut.
Dampak Ekonomi: Harga Minyak dan Inflasi AS
Kebuntuan di Teluk langsung memicu guncangan hebat di pasar komoditas. Harga minyak mentah berjangka Brent melonjak hingga melampaui USD 107 per barel karena Selat Hormuz tetap tertutup bagi sebagian besar lalu lintas komersial.
Akibatnya, harga bensin di Amerika Serikat merangkak naik secara signifikan. Data terbaru menunjukkan harga konsumen pada bulan April mencatatkan kenaikan inflasi tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir. Kondisi ekonomi ini menjadi beban politik berat bagi pemerintahan Trump, mengingat pemilihan umum kongres akan berlangsung dalam waktu kurang dari enam hari.
Biaya Perang Membengkak Jadi USD 29 Miliar
Pentagon merilis data terbaru mengenai pengeluaran militer dalam konflik yang telah berlangsung selama sepuluh minggu ini. Biaya perang kini mencapai angka USD 29 miliar, melonjak USD 4 miliar dari estimasi bulan lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihak otoritas menjelaskan bahwa pembengkakan biaya ini terjadi akibat kebutuhan pemeliharaan peralatan serta biaya operasional tinggi bagi armada laut. Saat ini, kapal induk Abraham Lincoln terus bersiaga di Laut Arab guna menegakkan blokade. Militer AS melaporkan telah mengalihkan rute 65 kapal komersial dan melumpuhkan empat kapal lainnya yang mencoba melanggar blokade tersebut.
Defiance Iran: Perluasan Zona Konflik
Di pihak lain, otoritas Iran tetap menunjukkan sikap menantang. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara sepihak memperluas definisi wilayah Selat Hormuz menjadi zona yang membentang dari kota Jask di timur hingga Pulau Siri di barat.
Media pemerintah Iran juga menyiarkan latihan militer besar-besaran di Teheran yang berfokus pada persiapan menghadapi “serangan musuh.” Iran tetap pada tuntutannya, yakni pencabutan total blokade AS dan kompensasi kerusakan perang sebagai syarat penghentian permusuhan. Trump sebelumnya telah menolak poin-poin tuntutan tersebut dan menyebutnya sebagai dokumen “sampah.”
Ujian Kepemimpinan di Tahun 2026
Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing pekan ini tetap menjadi titik balik krusial bagi stabilitas global. Singkatnya, jika diplomasi gagal meredakan tensi, dunia berisiko menghadapi resesi energi yang lebih panjang dan eskalasi militer yang tidak terkendali.
Dengan demikian, masyarakat internasional kini memantau apakah sikap percaya diri Trump mampu menghasilkan terobosan nyata, ataukah krisis di Selat Hormuz akan terus mencekik ekonomi dunia hingga akhir tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












