Perjanjian New START Berakhir, Rusia Hadapi Ancaman Baru

Kamis, 5 Februari 2026 - 17:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berakhirnya era kontrol senjata. Setelah lebih dari setengah abad, batasan pada arsenal nuklir Rusia dan Amerika Serikat resmi menghilang, memicu kekhawatiran global akan perlombaan senjata yang tak terkendali. Dok: Istimewa.

Berakhirnya era kontrol senjata. Setelah lebih dari setengah abad, batasan pada arsenal nuklir Rusia dan Amerika Serikat resmi menghilang, memicu kekhawatiran global akan perlombaan senjata yang tak terkendali. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Rusia menyatakan kesiapannya untuk membuka dialog keamanan, namun tetap akan melawan setiap ancaman baru secara tegas. Pernyataan ini muncul setelah berakhirnya perjanjian kontrol senjata nuklir terakhir dengan Amerika Serikat pada pekan ini.

Masa berlaku Perjanjian New START resmi berakhir pada tengah malam, Kamis (5/2). Peristiwa ini menandai berakhirnya pembatasan hulu ledak dan rudal strategis kedua belah pihak setelah lebih dari setengah abad. Moskow menyayangkan sikap Amerika Serikat yang tidak menanggapi usulan Presiden Vladimir Putin untuk mempertahankan batas tersebut selama 12 bulan tambahan guna memberikan ruang bagi negosiasi lebih lanjut.

Kekecewaan Rusia dan Kesiapan Militer

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan kekecewaannya melalui pernyataan resmi yang menyebut bahwa Amerika Serikat sengaja mengabaikan usulan mereka. “Pihak kami menyayangkan pendekatan (AS) ini yang tampak keliru,” tulis kementerian tersebut.

Meskipun melontarkan kritik keras, Rusia tetap menunjukkan sikap yang seimbang antara ketegasan dan menahan diri. Moskow tetap siap mengambil langkah militer-teknis yang menentukan jika muncul ancaman tambahan terhadap keamanan nasional. Namun, di sisi lain, Rusia menyatakan tetap terbuka untuk menjajaki jalur politik dan diplomatik guna menstabilkan situasi strategis, asalkan dialog tersebut berlandaskan kesetaraan dan saling menguntungkan.

Baca Juga :  Perpol 10/2025 Disorot, Yusril Pastikan Komisi Reformasi Polri Kaji Ulang Aturan Baru

Peringatan dari Vatikan dan PBB

Menjelang berakhirnya perjanjian, tokoh-tokoh dunia menyerukan agar kedua negara tidak meninggalkan kendali nuklir. Paus Leo XIV, paus pertama kelahiran AS, meluncurkan imbauan mendesak agar kedua negara tidak membiarkan instrumen ini kedaluwarsa. “Sangat mendesak bagi kita untuk mengganti logika ketakutan dan ketidakpercayaan dengan etika bersama yang mampu mengarahkan pilihan demi kebaikan bersama,” ujar Paus dalam audiensi mingguannya di Vatikan.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal PBB AntΓ³nio Guterres menyebut berakhirnya New START sebagai momen yang sangat buruk bagi perdamaian dan keamanan internasional. Ia mendesak Rusia dan Amerika Serikat untuk segera merundingkan kerangka kerja kontrol senjata nuklir yang baru. Guterres menekankan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, dunia menghadapi situasi tanpa batas yang mengikat bagi dua negara yang menguasai mayoritas besar cadangan nuklir global.

Baca Juga :  Dari Beijing ke Milan: Estafet Semangat dan Inovasi Olimpiade

Risiko Penggandaan Arsenal Nuklir

Para ahli nuklir memperingatkan dampak teknis yang sangat besar dari berakhirnya pakta ini. Matt Korda, direktur dari Federation of American Scientists, menjelaskan bahwa tanpa perjanjian, Rusia maupun AS kini bebas menambah jumlah hulu ledak tanpa hambatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam skenario maksimal, masing-masing pihak dapat memasang ratusan hulu ledak tambahan pada rudal dan pesawat pengebom berat mereka. Hal ini berisiko menggandakan ukuran arsenal yang mereka kerahkan saat ini. Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan dirinya tidak khawatir dengan berakhirnya perjanjian tersebut. Gedung Putih menyatakan bahwa Trump akan memutuskan langkah selanjutnya terkait kontrol senjata nuklir sesuai dengan lini masa dan pertimbangannya sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kejagung Tegaskan ABK Terdakwa 2 Ton Sabu Berhak Ajukan Pleidoi di PN Batam
Ibu ABK Terdakwa 2 Ton Sabu Menangis, Minta Prabowo Hentikan Hukuman Mati
Cuaca Jabodetabek 21 Februari 2026, Berawan Tebal Hingga Hujan Ringan
Kreasi Minuman Segar Tanpa Gula Berlebih untuk Berbuka
Krisis Kesatuan Kanada: Alberta Gelar Referendum Batasi Imigran
Kronologi KA Bandara Soetta Tabrak Truk Trailer di Tangerang Terekam CCTV
Pemerintah Wacanakan Komnas HAM Punya Kewenangan Penyidikan Kasus HAM Berat
Begal Modus Pura-pura Diludahi di Cempaka Putih, Motor Pemuda Sukabumi Raib

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 05:51 WIB

Kejagung Tegaskan ABK Terdakwa 2 Ton Sabu Berhak Ajukan Pleidoi di PN Batam

Sabtu, 21 Februari 2026 - 05:19 WIB

Ibu ABK Terdakwa 2 Ton Sabu Menangis, Minta Prabowo Hentikan Hukuman Mati

Sabtu, 21 Februari 2026 - 04:53 WIB

Cuaca Jabodetabek 21 Februari 2026, Berawan Tebal Hingga Hujan Ringan

Jumat, 20 Februari 2026 - 18:55 WIB

Kreasi Minuman Segar Tanpa Gula Berlebih untuk Berbuka

Jumat, 20 Februari 2026 - 18:45 WIB

Krisis Kesatuan Kanada: Alberta Gelar Referendum Batasi Imigran

Berita Terbaru

Minuman hangat seperti wedang jahe, susu kunyit, dan teh jahe lemon yang meningkatkan imun tubuh saat musim hujan. (Posnews/Bluebird Provisions on Unsplash)

NETIZEN

Kreasi Minuman Segar Tanpa Gula Berlebih untuk Berbuka

Jumat, 20 Feb 2026 - 18:55 WIB

Otonomi vs Federasi. Premier Alberta Danielle Smith mengumumkan referendum untuk membatasi jumlah imigran guna mengurangi beban berat pada layanan publik dan infrastruktur provinsi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Krisis Kesatuan Kanada: Alberta Gelar Referendum Batasi Imigran

Jumat, 20 Feb 2026 - 18:45 WIB