Benarkah Penurunan Kematian 50 Persen Terlalu Berlebihan?

Jumat, 6 Februari 2026 - 09:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Mengevaluasi statistik medis. Jutaan lansia menerima vaksin flu setiap tahun, namun para peneliti kini mempertanyakan apakah manfaat nyata vaksin ini sesuai dengan angka yang selama ini dipublikasikan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Mengevaluasi statistik medis. Jutaan lansia menerima vaksin flu setiap tahun, namun para peneliti kini mempertanyakan apakah manfaat nyata vaksin ini sesuai dengan angka yang selama ini dipublikasikan. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Jutaan lansia di Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai belahan dunia lainnya berbondong-bondong menerima suntikan flu tahunan bulan ini. Pemerintah memandang program kesehatan masyarakat ini sangat efektif karena secara statistik mampu membagi dua risiko kematian selama musim dingin pada kelompok usia di atas 65 tahun.

Bahkan, beberapa data menunjukkan bahwa satu nyawa terselamatkan untuk setiap 200 vaksinasi. Namun, muncul bukti kuat yang menyarankan bahwa klaim ini mungkin berlebihan. Para ilmuwan kini mendesak pencarian cara tambahan untuk mencegah dampak mematikan dari virus flu.

Ketimpangan Data dan Realitas Statistik

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mencatat bahwa flu membunuh sekitar 36.000 orang setiap musim dingin di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30.000 korban merupakan lansia berusia 65 tahun ke atas. Angka ini mencakup sekitar 5% dari total 650.000 kematian musim dingin pada kelompok usia tersebut.

Peneliti Lone Simonsen dari George Washington University menyoroti sebuah anomali besar pada tahun 2005. Cakupan vaksinasi telah melonjak drastis dari 15% pada tahun 1980 menjadi sekitar 70% saat ini. Anehnya, jumlah kematian akibat flu di kalangan lansia tetap bertahan di angka 5%. “Bagaimana mungkin vaksinasi mencegah separuh kematian musim dingin, padahal flu hanya menyumbang 5% dari total kematian sejak 1980?” tanya Simonsen dalam risetnya.

Baca Juga :  Hujan Ringan Siang Ini, Waspada Wilayah Jakarta Selatan dan Timur

Bias “Pengguna Sehat” dalam Penelitian

Epidemiolog Lisa Jackson dari Pusat Statistik Kesehatan di Seattle memberikan penjelasan yang lebih mendalam pada tahun 2006. Ia menganalisis basis data medis menggunakan metode statistik yang sama dengan studi-studi sebelumnya. Hasilnya menunjukkan bahwa manfaat maksimal dari suntikan flu justru terjadi di bulan-bulan sebelum musim flu dimulai.

Jackson menegaskan bahwa studi sebelumnya gagal memperhitungkan kondisi lansia yang sakit dan lemah. Kelompok yang sangat rentan ini biasanya kurang cenderung mencari vaksinasi, namun memiliki risiko kematian yang tinggi. Hal inilah yang memicu bias, sehingga vaksinasi tampak jauh lebih berharga daripada kenyataan yang sebenarnya.

Baca Juga :  Wang Yi Puji Jerman, Sindir Keras Jepang Soal Sejarah dan Taiwan

Perdebatan Metodologi yang Terus Berlanjut

Meskipun kritik terus bermunculan, perdebatan ini belum berakhir. Kristin Nichol dari University of Minnesota tetap mempertahankan temuan bahwa vaksinasi mencegah sekitar setengah dari semua kematian di musim dingin. Nichol mengakui adanya potensi bias dalam surveinya, namun ia berpendapat bahwa peneliti mungkin meremehkan jumlah orang yang meninggal akibat komplikasi flu secara tidak langsung.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masalah ini memiliki implikasi yang jauh lebih luas bagi dunia kedokteran. Metode statistik serupa juga digunakan untuk menganalisis efektivitas obat lain, seperti statin penurun kolesterol untuk pasien pneumonia, di mana uji coba acak (randomized trials) sulit dilakukan karena alasan etis. Oleh karena itu, memperbaiki metode statistik menjadi agenda utama untuk mengukur efektivitas intervensi medis di masa depan secara lebih akurat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas
Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara
Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi
Kunjungan Trump ke Beijing: Diplomasi Dagang di Tengah Pukulan Hukum Mahkamah Agung
Ambisi Militer Takaichi: Jepang Akhiri Era Pasifis dan Perkuat Kapabilitas Serangan Balik
Inggris Pertimbangkan UU untuk Hapus Andrew Mountbatten-Windsor dari Garis Suksesi

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:10 WIB

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:57 WIB

ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:37 WIB

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:52 WIB

Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:39 WIB

Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi

Berita Terbaru

Zelensky sedang memberikan pidato pada konferensi beberapa bulan yang lalu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 15:37 WIB