WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Jutaan lansia di Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai belahan dunia lainnya berbondong-bondong menerima suntikan flu tahunan bulan ini. Pemerintah memandang program kesehatan masyarakat ini sangat efektif karena secara statistik mampu membagi dua risiko kematian selama musim dingin pada kelompok usia di atas 65 tahun.
Bahkan, beberapa data menunjukkan bahwa satu nyawa terselamatkan untuk setiap 200 vaksinasi. Namun, muncul bukti kuat yang menyarankan bahwa klaim ini mungkin berlebihan. Para ilmuwan kini mendesak pencarian cara tambahan untuk mencegah dampak mematikan dari virus flu.
Ketimpangan Data dan Realitas Statistik
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mencatat bahwa flu membunuh sekitar 36.000 orang setiap musim dingin di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30.000 korban merupakan lansia berusia 65 tahun ke atas. Angka ini mencakup sekitar 5% dari total 650.000 kematian musim dingin pada kelompok usia tersebut.
Peneliti Lone Simonsen dari George Washington University menyoroti sebuah anomali besar pada tahun 2005. Cakupan vaksinasi telah melonjak drastis dari 15% pada tahun 1980 menjadi sekitar 70% saat ini. Anehnya, jumlah kematian akibat flu di kalangan lansia tetap bertahan di angka 5%. “Bagaimana mungkin vaksinasi mencegah separuh kematian musim dingin, padahal flu hanya menyumbang 5% dari total kematian sejak 1980?” tanya Simonsen dalam risetnya.
Bias “Pengguna Sehat” dalam Penelitian
Epidemiolog Lisa Jackson dari Pusat Statistik Kesehatan di Seattle memberikan penjelasan yang lebih mendalam pada tahun 2006. Ia menganalisis basis data medis menggunakan metode statistik yang sama dengan studi-studi sebelumnya. Hasilnya menunjukkan bahwa manfaat maksimal dari suntikan flu justru terjadi di bulan-bulan sebelum musim flu dimulai.
Jackson menegaskan bahwa studi sebelumnya gagal memperhitungkan kondisi lansia yang sakit dan lemah. Kelompok yang sangat rentan ini biasanya kurang cenderung mencari vaksinasi, namun memiliki risiko kematian yang tinggi. Hal inilah yang memicu bias, sehingga vaksinasi tampak jauh lebih berharga daripada kenyataan yang sebenarnya.
Perdebatan Metodologi yang Terus Berlanjut
Meskipun kritik terus bermunculan, perdebatan ini belum berakhir. Kristin Nichol dari University of Minnesota tetap mempertahankan temuan bahwa vaksinasi mencegah sekitar setengah dari semua kematian di musim dingin. Nichol mengakui adanya potensi bias dalam surveinya, namun ia berpendapat bahwa peneliti mungkin meremehkan jumlah orang yang meninggal akibat komplikasi flu secara tidak langsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalah ini memiliki implikasi yang jauh lebih luas bagi dunia kedokteran. Metode statistik serupa juga digunakan untuk menganalisis efektivitas obat lain, seperti statin penurun kolesterol untuk pasien pneumonia, di mana uji coba acak (randomized trials) sulit dilakukan karena alasan etis. Oleh karena itu, memperbaiki metode statistik menjadi agenda utama untuk mengukur efektivitas intervensi medis di masa depan secara lebih akurat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















