PAPUA, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah bergerak cepat merespons insiden penembakan pesawat perintis milik Smart Air di Bandara Koroway Batu, Papua Selatan.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, langsung pasang perhatian serius terhadap kondisi keamanan penerbangan perintis dan layanan publik di Papua.
Ia memerintahkan evaluasi cepat serta penguatan pengamanan demi memastikan keselamatan warga tetap terjaga.
Namun, insiden penembakan yang pecah pada Rabu, 11 Februari 2026, membuat situasi mendadak genting. Sebanyak 11 bandara di Papua terpaksa ditutup sementara.
Akibatnya, arus logistik tersendat, pelayanan kesehatan terganggu, dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah nyaris lumpuh.
Negara Tidak Mundur
Deputi Bidang Koordinasi Pertahanan Negara dan Kesatuan Bangsa, Purwito Hadi Wardhono, menegaskan pemerintah tidak akan mundur menghadapi ancaman terhadap objek vital nasional.
“Pemerintah mengambil langkah cepat, terukur, dan terkoordinasi. Kami evaluasi total sistem pengamanan penerbangan di Papua,” tegas Purwito, Sabtu (21/2/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, penutupan sementara bandara dilakukan sebagai langkah preventif demi menjamin keselamatan awak pesawat dan masyarakat. Selain itu, aparat TNI-Polri memperkuat pengamanan di sejumlah titik rawan.
Ia menekankan, gangguan terhadap bandara dan fasilitas publik merupakan ancaman serius terhadap keselamatan rakyat dan tidak akan ditoleransi.
“Aparat akan bertindak tegas sesuai hukum. Kami juga mengajak masyarakat tidak terprovokasi isu menyesatkan,” ujarnya.
Setelah evaluasi keamanan, pemerintah memutuskan membuka kembali Bandara Koroway Batu, Bandara Beoga, dan Bandara Iwur secara bertahap. Pembukaan dilakukan setelah pengamanan dinyatakan memadai.
Langkah ini diambil untuk memastikan konektivitas tetap terjaga, distribusi logistik kembali lancar, serta pelayanan publik di Papua tidak terputus.
Kronologi Penembakan
Pesawat Smart Air ditembaki sesaat setelah mendarat di Bandara Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Selatan. Pesawat berangkat dari Bandara Tanah Merah pukul 10.35 WIT dan membawa 13 penumpang.
Kelompok bersenjata melepaskan tembakan dari arah hutan di samping area bandara. Aksi brutal itu diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Batalyon Kanibal dan Semut Merah pimpinan Elkius Kobak.
Pesawat dipiloti Kapten Egon Erawan dan Kopilot Kapten Baskoro. Akibat serangan tersebut, pilot dan kopilot meninggal dunia. Sementara itu, seluruh penumpang, termasuk seorang balita, selamat.
Saat ini, aparat TNI dan Polri memperketat pengamanan bandara perintis serta jalur distribusi logistik di wilayah rawan.
Pemerintah juga melakukan koordinasi lintas kementerian untuk menjamin pasokan bahan pokok dan layanan kesehatan tetap berjalan.
Insiden ini menjadi alarm keras bagi keamanan penerbangan perintis di Papua. Pemerintah memastikan stabilitas dan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. (red)
Editor : Hadwan





















