Sekjen PBB Serukan Gencatan Senjata Penuh dan Tanpa Syarat

Selasa, 24 Februari 2026 - 16:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesan perdamaian dari New York. Menjelang peringatan empat tahun invasi, Sekjen PBB António Guterres menyebut konflik Ukraina sebagai

Pesan perdamaian dari New York. Menjelang peringatan empat tahun invasi, Sekjen PBB António Guterres menyebut konflik Ukraina sebagai "noda bagi kesadaran kolektif" dan mendesak pemulihan integritas wilayah secara hukum. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, kembali meluncurkan desakan keras untuk mengakhiri peperangan di Ukraina. Ia menuntut adanya gencatan senjata total tanpa syarat sebagai langkah awal menuju perdamaian yang komprehensif.

Seruan ini muncul dalam pernyataan resmi guna memperingati empat tahun dimulainya krisis Ukraina yang jatuh pada tanggal 24 Februari. Oleh karena itu, Guterres mendesak seluruh pihak untuk segera kembali ke meja perundingan guna menghentikan pertumpahan darah yang terus meluas.

Krisis sebagai “Noda Kesadaran Kolektif”

Dalam pidatonya, Guterres memberikan gambaran suram mengenai dampak konflik yang telah berlangsung selama 48 bulan tersebut. Ia melabeli krisis ini sebagai “noda pada kesadaran kolektif kita”.

Selanjutnya, ia menekankan bahwa perang ini tetap menjadi ancaman nyata bagi perdamaian dan keamanan regional maupun internasional. Pasalnya, stabilitas ekonomi dan geopolitik dunia terus terganggu selama solusi diplomatik belum tercapai. “Semakin lama krisis ini berlangsung, semakin mematikan dampaknya,” ujar Guterres, seraya menyoroti penderitaan warga sipil yang terus menanggung beban terberat dari operasi militer di lapangan.

Baca Juga :  Dugaan Gratifikasi Mengguncang Pemda Subang, GPI Minta KPK Turun Tangan

Landasan Hukum bagi Perdamaian Adil

Guterres memberikan garis bawah yang sangat tebal mengenai syarat perdamaian yang dapat diterima oleh komunitas internasional. Menurutnya, perdamaian tidak boleh sekadar penghentian senjata, melainkan harus bersifat “adil”.

Untuk mencapai hal tersebut, setiap kesepakatan wajib selaras dengan:

  • Piagam PBB: Menjunjung tinggi norma hukum antar-bangsa.
  • Resolusi PBB Terkait: Mengikuti panduan komunitas global yang telah disepakati.
  • Integritas Wilayah: Menghormati kemerdekaan dan kedaulatan penuh Ukraina sesuai batas-batas wilayah yang sah.

Dengan demikian, PBB secara eksplisit menolak solusi yang mencederai kedaulatan nasional sebuah negara anggota. PBB menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi dalam setiap upaya internasional yang bertujuan mengakhiri konflik ini secara bermartabat.

Baca Juga :  Trump Mundur Teratur: Batalkan Tarif dan Opsi Militer

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peran PBB di Tengah Kebuntuan Global

Pernyataan ini muncul saat diplomasi global seringkali terbentur oleh kepentingan kekuatan besar di Dewan Keamanan. Meskipun begitu, Sekjen PBB tetap konsisten memposisikan organisasi dunia tersebut sebagai mediator utama yang netral.

Pada akhirnya, dunia internasional kini menanti apakah seruan dari New York ini mampu menggerakkan kemauan politik para pemimpin di Moskow, Kyiv, dan Washington. Di tengah peringatan empat tahun invasi, pesan Guterres menjadi pengingat bagi seluruh pemimpin dunia bahwa keamanan global hanya bisa pulih melalui penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekuatan senjata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Ulang Norma Internasional di Era Digital
Skandal Epstein Guncang Inggris: Mantan Dubes Peter Mandelson Ditangkap Polisi
Guncangan Perdagangan Global: Trump Ancam Tarif Lebih Tinggi Pasca-Kekalahan di Mahkamah Agung
Kecelakaan Bus Transjakarta dan Ojol di Gunung Sahari, Pengendara Luka
Polisi Tangkap Pria Ngaku Aparat Usai Aniaya 3 Pegawai SPBU Cipinang
Anak Pejabat Mamuju Tersangka Tabrak 2 Warga, Tak Ditahan karena Masih di Bawah Umur
PINTAR BI 2026: Cara Mudah Tukar Uang Baru Jelang Ramadan dan Idulfitri
Skandal AI di Kanada: Pemerintah Panggil Pimpinan OpenAI Terkait Kegagalan Deteksi Dini Penembakan Massal

Berita Terkait

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:00 WIB

Menata Ulang Norma Internasional di Era Digital

Selasa, 24 Februari 2026 - 17:39 WIB

Skandal Epstein Guncang Inggris: Mantan Dubes Peter Mandelson Ditangkap Polisi

Selasa, 24 Februari 2026 - 17:30 WIB

Guncangan Perdagangan Global: Trump Ancam Tarif Lebih Tinggi Pasca-Kekalahan di Mahkamah Agung

Selasa, 24 Februari 2026 - 17:23 WIB

Kecelakaan Bus Transjakarta dan Ojol di Gunung Sahari, Pengendara Luka

Selasa, 24 Februari 2026 - 17:03 WIB

Polisi Tangkap Pria Ngaku Aparat Usai Aniaya 3 Pegawai SPBU Cipinang

Berita Terbaru

Ilustrasi, Mendefinisikan ulang ruang siber. Melalui kacamata Konstruktivisme, persaingan teknologi AI dan siber bukan merupakan takdir konflik. Hal ini merupakan peluang untuk membangun norma baru yang kooperatif. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menata Ulang Norma Internasional di Era Digital

Selasa, 24 Feb 2026 - 19:00 WIB