JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih satu filter atau memikirkan satu baris caption? Tindakan sederhana ini sebenarnya adalah bagian dari proses komunikasi yang sangat kompleks.
Sosiolog Erving Goffman menjelaskan bahwa dalam interaksi sosial, setiap manusia pada dasarnya sedang “berakting”. Oleh karena itu, Instagram di tahun 2026 telah bertransformasi menjadi teater global tempat miliaran orang mempraktikkan seni manajemen panggung setiap harinya.
Panggung Depan vs Panggung Belakang Digital
Goffman membagi ruang interaksi menjadi dua area utama: Front Stage (Panggung Depan) dan Back Stage (Panggung Belakang). Di era analog, kedua ruang ini memiliki batas fisik yang sangat jelas.
Saat ini, linimasa atau feed Instagram merupakan Front Stage kita. Di sanalah kita menampilkan pencapaian karier, foto liburan yang estetik, hingga momen bahagia bersama pasangan. Sebaliknya, Back Stage adalah realitas di balik layar yang penuh dengan cucian menumpuk, jerawat, kegagalan kerja, hingga rasa kesepian. Namun, teknologi digital mulai meruntuhkan sekat tersebut. Kehadiran fitur seperti Instagram Stories atau Close Friends sebenarnya merupakan upaya pengguna untuk memberikan akses terbatas ke “panggung belakang” mereka, namun tetap dengan kurasi yang terjaga.
Obsesi terhadap Kurasi dan Manajemen Kesan
Manajemen kesan adalah upaya sengaja untuk mengontrol persepsi orang lain terhadap diri kita. Pasalnya, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk mendapatkan validasi sosial.
Pengguna Instagram sering kali melakukan tindakan-tindakan berikut guna menjaga estetika panggung mereka:
- Penyuntingan Berlebihan: Mengubah fitur wajah atau warna lingkungan agar sesuai dengan standar kecantikan tertentu.
- Kurasi Pengalaman: Hanya mengunggah momen-momen puncak (highlight reels) dan menyembunyikan perjuangan di baliknya.
- Narasi Palsu: Membangun citra gaya hidup mewah yang mungkin tidak sesuai dengan kondisi finansial yang sebenarnya.
Selanjutnya, perilaku ini menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi penonton lainnya. Alhasil, lingkaran setan kompetisi citra diri ini terus berputar dan membuat kejujuran menjadi barang langka di ruang siber.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dampak Psikologis: Pudarnya Identitas Asli
Bahaya terbesar dari manajemen panggung yang berlebihan adalah hilangnya batas antara siapa kita sebenarnya dan siapa yang kita perankan. Ketika seseorang terus-menerus berakting demi mendapatkan “like”, mereka berisiko mengalami disonansi kognitif.
Selain itu, kelelahan digital (digital burnout) menjadi penderitaan umum bagi para kreator konten. Mereka merasa tertekan untuk selalu terlihat bahagia dan sukses setiap saat. Bahkan, penelitian psikologi menunjukkan bahwa ketergantungan pada validasi digital dapat menurunkan harga diri (self-esteem) saat performa di panggung depan tidak mendapatkan respon sesuai harapan. Identitas digital yang terlalu sempurna pada akhirnya justru memenjarakan identitas asli penggunanya.
Menuju Keaslian di Tengah Filter
Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teknologi atas fenomena ini. Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat yang memperbesar kecenderungan alami manusia untuk ingin disukai.
Oleh sebab itu, langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental adalah dengan menyadari bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah sebuah “pertunjukan”. Cobalah untuk sesekali menunjukkan sisi rapuh atau ketidaksempurnaan. Dengan merangkul keaslian (authenticity), kita tidak hanya membebaskan diri dari beban panggung depan, tetapi juga membantu orang lain untuk merasa cukup dengan diri mereka sendiri. Dunia digital akan menjadi tempat yang lebih sehat saat kita berhenti berakting dan mulai kembali menjadi manusia seutuhnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















