JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Setelah seharian menatap layar untuk rangkaian rapat daring, banyak pekerja merasakan kelelahan yang jauh lebih hebat daripada rapat tatap muka. Fenomena yang kini populer dengan istilah “Zoom Fatigue” ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang mendalam dalam teori komunikasi.
Para ahli komunikasi menggunakan studi Kinesics untuk membedah masalah ini. Oleh karena itu, rasa lemas yang Anda rasakan bukan karena Anda malas, melainkan karena otak Anda sedang mengalami kelebihan beban informasi yang tidak sinkron.
Hilangnya Isyarat Tubuh dalam Kotak Digital
Komunikasi manusia bersifat holistik. Saat berbicara langsung, kita menyerap informasi dari gerakan tangan, posisi kaki, hingga energi yang terpancar dari postur tubuh lawan bicara. Namun demikian, platform seperti Zoom atau Teams memangkas semua itu menjadi potongan gambar kepala dan bahu saja.
Akibatnya, kita kehilangan sebagian besar “data” non-verbal yang sangat krusial bagi naluri sosial kita. Pasalnya, otak manusia secara alami mencari konfirmasi visual untuk mempercayai apa yang orang lain katakan. Ketika isyarat tubuh ini hilang, otak terus mencari tanpa henti, yang akhirnya menguras cadangan energi mental kita secara cepat.
Mengapa Otak Bekerja Ekstra di Balik Layar?
Interaksi melalui video menuntut perhatian yang sangat intens. Di dunia nyata, kita jarang sekali menatap wajah seseorang dari jarak dekat secara terus-menerus dalam waktu lama. Namun, di layar monitor, wajah lawan bicara sering kali terlihat lebih besar dan lebih dekat daripada aslinya.
Beberapa faktor pemicu kelelahan otak antara lain:
- Interpretasi Mikro-Ekspresi: Otak harus bekerja lebih keras untuk menangkap detail kecil pada wajah yang mungkin buram akibat koneksi internet.
- Efek Cermin: Kita cenderung terus memantau wajah sendiri di layar (self-view). Tindakan ini memicu evaluasi diri yang konstan dan meningkatkan tingkat kecemasan sosial.
- Gangguan Ritem Akibat Latensi: Keterlambatan suara hanya beberapa milidetik saja sudah cukup untuk mengacaukan ritme percakapan alami. Hal ini membuat kita merasa interaksi tersebut tidak tulus atau penuh kecanggangan.
Selanjutnya, beban kognitif ini bertambah karena kita harus memastikan diri kita selalu terlihat “hadir” dan penuh perhatian di depan kamera, sebuah performa yang menguras stamina emosional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tips Menjaga Efektivitas Komunikasi Daring
Anda tidak harus memusuhi teknologi rapat daring. Strategi yang tepat dapat membantu Anda meminimalisir dampak kelelahan tanpa mengurangi produktivitas kerja.
Langkah praktis yang para ahli sarankan antara lain:
- Gunakan Fitur “Hide Self-View”: Jangan biarkan Anda menatap wajah sendiri sepanjang rapat. Hal ini secara drastis akan menurunkan beban evaluasi diri.
- Berikan Jarak pada Kamera: Menempatkan kamera sedikit lebih jauh memungkinkan lawan bicara melihat gerakan tangan Anda, sehingga pesan tersampaikan secara lebih organik.
- Terapkan Jeda Audio: Sesekali, matikan kamera jika agenda rapat memungkinkan. Mendengarkan suara saja tanpa beban memproses video memberikan kesempatan bagi saraf mata dan otak untuk beristirahat sejenak.
- Hargai Latensi: Sadarilah bahwa gangguan teknis adalah hal yang lumrah. Jangan terburu-buru memberikan reaksi negatif saat terjadi jeda komunikasi.
Menuju Komunikasi Digital yang Sehat
Rapat daring di tahun 2026 telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekonomi global. Meskipun begitu, kita tetap harus menyadari batasan biologis manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi fisik.
Pada akhirnya, memahami alasan di balik Zoom Fatigue melalui kacamata Kinesics membantu kita untuk lebih berempati pada diri sendiri dan rekan kerja. Melalui pengaturan waktu layar yang bijak dan teknik komunikasi yang lebih sadar, kita dapat membangun lingkungan kerja digital yang tetap efektif namun tetap memanusiakan setiap pelakunya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















