Pasal 169 UU Pemilu Digugat ke MK, Advokat Soroti Potensi Nepotisme Capres-Cawapres

Kamis, 26 Februari 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Mahkamah Konstitusi (MK). (Posnews/Ist)

Gedung Mahkamah Konstitusi (MK). (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dua advokat, Raden Nuh dan Dian Amalia, menggugat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Mereka secara tegas menggugat Pasal 169 yang mengatur syarat pencalonan presiden dan wakil presiden.

Permohonan uji materi itu telah teregistrasi dengan Nomor Perkara 81/PUU-XXIV/2026.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui permohonan tersebut, pemohon meminta MK menafsirkan ulang Pasal 169 UU Pemilu agar secara eksplisit melarang konflik kepentingan berbasis hubungan keluarga dengan presiden atau wakil presiden yang sedang menjabat.

Dalam petitumnya, pemohon mendesak MK menyatakan Pasal 169 UU Pemilu bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai bahwa syarat pencalonan presiden dan/atau wakil presiden wajib bebas dari konflik kepentingan akibat hubungan darah atau semenda dengan presiden dan/atau wakil presiden aktif dalam satu periode kekuasaan.

Baca Juga :  Diskon Tol Lebaran 2026, Jasa Marga Pangkas Tarif 30 Persen di 9 Ruas Tol

Soroti Celah Nepotisme dan Konflik Kepentingan

Pemohon menilai Pasal 169 yang tidak memuat batasan tegas soal konflik kepentingan justru membuka ruang nepotisme.

Selain itu, norma tersebut berpotensi memicu tekanan kekuasaan dan membenarkan praktik penyimpangan dalam proses demokrasi.

Mereka menegaskan ketentuan itu bertentangan dengan prinsip negara hukum demokratis, asas keadilan, serta hak konstitusional warga negara untuk mendapatkan pemilu yang jujur dan berintegritas.

Bahkan, mereka menyebut norma tersebut berpotensi melanggar Pasal 1 ayat (2) dan (3), Pasal 22E, Pasal 27 ayat (1), serta Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

Minta MK Tegaskan Prinsip Jurdil dan Level Playing Field

Selanjutnya, pemohon menekankan bahwa pemilu konstitusional harus menjamin prinsip jujur dan adil (jurdil) serta menghadirkan level playing field bagi seluruh kandidat.

Baca Juga :  Polres Metro Jakarta Utara Aman Usai Didatangi Massa, Polisi Perketat Patroli

Jika Pasal 169 tetap tidak mengatur larangan nepotisme, maka ketimpangan sistemik akan sulit dihindari.

Menurut mereka, kandidat yang memiliki hubungan keluarga dengan presiden atau wakil presiden aktif berpotensi memperoleh akses terhadap sumber daya negara (state resources).

Kondisi ini dapat mencederai objektivitas hukum sekaligus membuka peluang penyalahgunaan kekuasaan.

Mereka juga menilai Pasal 169 UU Pemilu memungkinkan presiden yang sedang menjabat mengusung anak, saudara, atau kerabat dekat sebagai calon presiden maupun wakil presiden.

Padahal, presiden aktif memegang posisi strategis dalam struktur kekuasaan negara yang berkaitan dengan jalannya pemerintahan dan penyelenggaraan pemilu.

Karena itu, pemohon meminta MK memberikan tafsir konstitusional yang tegas dan progresif.

Mereka mendorong agar regulasi pencalonan presiden dan wakil presiden benar-benar menjamin integritas, menutup celah konflik kepentingan, serta memperkuat demokrasi yang bersih dan berkeadilan. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Suami Bunuh Istri di Kamar Kos Grogol, Polisi Sita Palu Berdarah
Modus Ganjal ATM Digagalkan di Pamulang, 3 Pelaku Ditangkap Warga
Pegawai KPK Jadi Tersangka, Diduga Bocorkan Kasus Bupati Pemalang
Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 81,5 Persen, Penegakan Hukum Jadi Faktor Terkuat
Hindari Amukan Massa, Polisi Evakuasi Sopir Kontainer Diduga Teler Tramadol
Polisi Bongkar Gudang Obat Keras di Tanah Abang, Tangkap 5 Orang
Sopir Kontainer Diduga Mabuk Tabrak 2 Mobil dan Motor di Plumpang
Budaya Evaluasi Jadi Kunci Reformasi DPD RI

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 15:03 WIB

Suami Bunuh Istri di Kamar Kos Grogol, Polisi Sita Palu Berdarah

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:44 WIB

Modus Ganjal ATM Digagalkan di Pamulang, 3 Pelaku Ditangkap Warga

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:20 WIB

Pegawai KPK Jadi Tersangka, Diduga Bocorkan Kasus Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:46 WIB

Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 81,5 Persen, Penegakan Hukum Jadi Faktor Terkuat

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:56 WIB

Hindari Amukan Massa, Polisi Evakuasi Sopir Kontainer Diduga Teler Tramadol

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB