WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Era tarif agresif pemerintahan Donald Trump menghadapi babak akhir di meja hijau. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS melalui Customs and Border Protection (CBP) mengonfirmasi kesiapan sistem pembayaran elektronik masif bagi para pelaku usaha impor mulai pekan depan.
Dalam konteks ini, pengumuman tersebut muncul melalui berkas pengadilan yang otoritas serahkan ke Pengadilan Perdagangan Internasional di New York pada hari Selasa. Oleh karena itu, Washington kini memulai proses restitusi keuangan terbesar dalam sejarah kebijakan dagang Amerika Serikat di tahun 2026 ini.
Peluncuran Sistem CAPE dan Mekanisme Pembayaran
Sistem yang pemerintah beri nama CAPE tersebut akan mengirimkan pengembalian dana secara bertahap kepada setiap perusahaan yang berhak. Secara khusus, para importir akan menerima satu kali pembayaran elektronik yang sudah mencakup akumulasi nilai tarif beserta bunga yang berlaku.
Berdasarkan data pengadilan, tantangan logistik dari operasi ini sangatlah besar. Sebanyak lebih dari 330.000 importir tercatat telah membayar tarif pada 53 juta kiriman barang impor sejak April 2025 lalu. Namun, hingga 9 April 2026, baru sekitar 56.497 importir yang berhasil menuntaskan seluruh proses administrasi guna mencairkan dana senilai $127 miliar.
Runtuhnya Dasar Hukum Tarif IEEPA
Langkah pengembalian dana ini merupakan konsekuensi hukum dari kekalahan telak administrasi Trump di Mahkamah Agung. Pada Februari 2026, hakim agung memutuskan bahwa penggunaan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) guna menetapkan tarif global bersifat inkonstitusional.
Dalam hal ini, Mahkamah Agung menilai presiden telah melampaui kewenangannya dalam menetapkan biaya tambahan impor secara sepihak tanpa persetujuan Kongres. Sebagai hasilnya, seluruh tarif yang pemerintah perkenalkan sejak tahun lalu resmi dinyatakan batal demi hukum. Keputusan ini memaksa CBP untuk segera memulihkan neraca keuangan para pengusaha yang terdampak oleh kebijakan “perang dagang” tersebut.
Paradoks Konsumen: Harga Barang Tetap Tinggi
Meskipun demikian, suntikan dana miliaran dolar ke kantong perusahaan ini diprediksi tidak akan membawa perubahan bagi rakyat jelata. Sebab, para pelaku usaha cenderung menggunakan dana tersebut guna memperkuat modal internal atau menambal kerugian operasional selama setahun terakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan, survei terbaru dari CNBC CFO Council mempertegas fenomena ini. Sebanyak 12 dari 25 Direktur Keuangan perusahaan besar menyatakan niatnya untuk mengajukan pengembalian tarif. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berencana membagikan dana tersebut kepada pelanggan melalui penurunan harga produk. Akibatnya, inflasi harga barang yang sudah terjadi sejak awal perang dagang kemungkinan besar akan tetap menetap di tingkat ritel tahun 2026 ini.
Menanti Stabilitas Arus Modal
Masa depan ekonomi domestik Amerika Serikat kini bergantung pada seberapa cepat likuiditas ini terserap kembali ke dalam sektor produktif. Pada akhirnya, pengembalian $166 miliar ini menjadi kemenangan moral bagi supremasi hukum di atas kekuasaan eksekutif.
Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah kegagalan taktis Trump dalam kebijakan tarif ini akan mengubah strategi ekonominya di masa depan. Di tahun 2026 yang penuh dengan ketidakpastian geopolitik, kepastian hukum perdagangan tetap menjadi pilar utama bagi kepercayaan investor global terhadap pasar Amerika Serikat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















