JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa takut untuk berjalan sendirian di malam hari? Perasaan ini sering kali muncul setelah menonton rangkaian berita kriminal di televisi atau media sosial. Meskipun data kepolisian menunjukkan angka kejahatan di lingkungan Anda menurun, rasa cemas tersebut tetap ada.
Fenomena ini merupakan inti dari studi psikologi komunikasi yang kita kenal sebagai Cultivation Theory. Oleh karena itu, kita perlu memahami mekanisme “penanaman” persepsi oleh media. Pemahaman ini krusial agar kita tidak terjebak dalam ketakutan yang tidak berdasar.
Mean World Syndrome: Dunia yang Jahat di Mata Penonton
George Gerbner memperkenalkan istilah Mean World Syndrome guna mendeskripsikan kondisi kognitif penonton media tingkat berat. Pasalnya, media cenderung menonjolkan aspek kekerasan, konflik, dan tragedi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan rating atau keterlibatan (engagement) yang tinggi.
Akibatnya, penonton mulai membangun keyakinan bahwa dunia luar adalah tempat yang penuh ancaman. Individu yang terpapar konten kekerasan secara intensif merasa lebih rentan menjadi korban kejahatan. Bahkan, rasa takut ini mendorong masyarakat untuk mendukung kebijakan keamanan yang lebih represif. Langkah ini sering kali membatasi kebebasan sipil, meskipun ancaman nyata di lapangan sebenarnya sangat rendah.
Efek “Tetesan”: Bagaimana Media Membentuk Pandangan Dunia?
Berbeda dengan teori yang melihat dampak media secara instan, Teori Kultivasi berfokus pada efek yang terakumulasi. Gerbner mengibaratkan proses ini seperti tetesan air yang perlahan-lahan membentuk pola pada batu.
Selanjutnya, paparan media secara terus-menerus melakukan hal-hal berikut:
- Pengarusutamaan (Mainstreaming): Media menyeragamkan pandangan dunia dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda. Hal ini menciptakan satu narasi dominan yang sering kali penuh kecemasan.
- Resonansi: Efek kultivasi akan semakin kuat ketika penonton melihat kejadian di layar yang mirip dengan pengalaman pribadinya. Hal ini melipatgandakan rasa takut yang mereka rasakan.
- Normalisasi Kekerasan: Sering melihat kekerasan membuat individu menganggap kriminalitas sebagai bagian yang “normal”. Mereka pun merasa bahwa konflik adalah bagian kehidupan manusia yang tak terhindarkan.
Dengan demikian, media tidak hanya memberi tahu kita apa yang harus kita pikirkan. Media secara perlahan mengubah cara kita merasakan lingkungan sekitar secara permanen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Realitas Statistik vs Citra Media Massa
Kesenjangan antara kenyataan dengan representasi media sering kali sangat lebar. Di banyak negara pada tahun 2026, kemajuan teknologi keamanan telah menurunkan angka kriminalitas fisik secara signifikan.
Namun demikian, di layar ponsel dan televisi kita, jumlah konten kekerasan justru meningkat. Hal ini terjadi akibat kecepatan distribusi informasi digital. Pasalnya, berita mengenai keberhasilan pembangunan jarang mendapatkan tempat di algoritma media sosial. Petugas nilai menganggap konten damai kurang “menjual”. Alhasil, masyarakat mengalami disorientasi informasi; mereka lebih memercayai “kebenaran dramatis” di layar daripada “kebenaran statistik” di dunia nyata.
Mengembalikan Literasi di Tengah Ketakutan
Teori Kultivasi mengingatkan kita bahwa kita adalah apa yang kita konsumsi secara mental. Pada akhirnya, ketakutan massal yang berlebihan hanya akan merugikan kohesi sosial dan kesehatan mental bangsa.
Oleh sebab itu, langkah bijak yang harus kita ambil adalah dengan meningkatkan literasi media. Cobalah untuk membatasi konsumsi berita negatif. Carilah data pembanding dari sumber statistik resmi. Sadarilah bahwa media memiliki motif komersial dalam setiap dramatisasi kontennya. Dengan bersikap kritis terhadap setiap gambar di layar, kita dapat merebut kembali ketenangan pikiran. Kita dapat melihat dunia dengan perspektif yang lebih adil dan objektif.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















