Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Juni 2026 - 14:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran menegaskan bahwa negara-negara Arab di kawasan Teluk tidak berhak menuntut ganti rugi perang. Sebab, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyampaikan penolakan keras tersebut melalui akun media sosial pribadinya pada hari Minggu.

Penolakan atas Klaim Ganti Rugi Sepihak

Gharibabadi menyatakan bahwa aset keuangan Iran bukanlah barang rampasan perang bagi Amerika Serikat. Selain itu, ia juga menolak keras penggunaan dana tersebut sebagai sumber pembayaran ganti rugi untuk para sekutu Washington.

Pernyataan keras ini merespons laporan media mengenai rencana Amerika Serikat untuk menyita aset luar negeri milik Iran. Menurut laporan tersebut, pemerintah AS berencana mengalihkan aset Iran untuk membiayai pembangunan kembali infrastruktur sekutu Teluk yang rusak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, kabarnya telah menginstruksikan tim khusus untuk menghitung total kerusakan di kawasan tersebut. Namun, Gharibabadi menegaskan bahwa tindakan sepihak tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional yang sangat serius.

Baca Juga :  Konflik Agraria: Saat Sertifikat Tanah Kalah Melawan Izin Tambang

Serangan Balasan dan Tuduhan Agresi

Ketegangan bersenjata di kawasan Teluk memang terus memuncak setelah aksi saling serang dalam beberapa waktu terakhir. Sebagai contoh, militer Iran meluncurkan rentetan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada hari Sabtu.

Meskipun demikian, Komando Sentral AS mengeklaim berhasil mencegat sebagian besar rudal berbahaya tersebut sebelum mencapai target. Di sisi lain, serangan asimetris ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang luar biasa besar bagi industri energi global.

Lembaga riset Rystad Energy memproyeksikan biaya perbaikan infrastruktur energi di Timur Tengah dapat menembus USD 58 miliar. Oleh sebab itu, AS gencar mencari cara untuk membebankan biaya raksasa tersebut kepada pihak Tehran.

Baca Juga :  Xi Jinping Telepon Lula: China dan Brasil Siap Jadi Kekuatan Konstruktif

Syarat Mutlak Pengakhiran Konflik

Gharibabadi justru menuntut balik agar negara-negara Arab yang membantu agresi AS untuk membayar ganti rugi penuh kepada Iran. Sebab, mereka telah membiarkan fasilitas militer lokal menjadi titik peluncuran serangan udara ke wilayah kedaulatan Iran.

Dengan demikian, sengketa ganti rugi ini menjadi ganjalan baru yang cukup alot dalam proses perundingan damai. Padahal, Iran secara konsisten menuntut pencairan aset mereka yang membeku sebagai syarat mutlak untuk mengakhiri perang.

Selain pencairan dana, Tehran juga mendesak penghapusan sanksi ekonomi global secara menyeluruh. Pada akhirnya, dunia kini menanti apakah jalur diplomasi tertutup ini mampu meredakan badai konflik energi yang kian membara.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok
Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?
E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik
Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi
Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP
Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC
Fokus Hari Bhayangkara, Polri Resmi Menunda Operasi Patuh 2026
Tokoh Buruh Masuk Lingkaran Istana, Prabowo Lantik Said Iqbal Hari Ini

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 16:21 WIB

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Juni 2026 - 15:02 WIB

Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?

Senin, 8 Juni 2026 - 14:51 WIB

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Juni 2026 - 13:44 WIB

E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik

Senin, 8 Juni 2026 - 11:58 WIB

Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP

Berita Terbaru

Ketegangan baru di Selat Taiwan. Penjaga pantai Taiwan mengusir empat kapal pemerintah Tiongkok yang menerobos wilayah perairan selatan mereka setelah aksi saling lempar peringatan keras. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Jun 2026 - 16:21 WIB

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Jun 2026 - 14:51 WIB

Koalisi Eropa bersatu. Pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Ukraina membahas langkah darurat untuk memproduksi sistem penangkis rudal hipersonik Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik

Senin, 8 Jun 2026 - 13:44 WIB