Jepang Menahan Diri Pasca-Serangan AS-Israel ke Iran

Minggu, 1 Maret 2026 - 15:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Navigasi di tengah bara. Pemerintah PM Sanae Takaichi memilih sikap netral saat mengamati dampak kematian Ayatollah Ali Khamenei terhadap keamanan energi dan keselamatan warga negara Jepang di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

Navigasi di tengah bara. Pemerintah PM Sanae Takaichi memilih sikap netral saat mengamati dampak kematian Ayatollah Ali Khamenei terhadap keamanan energi dan keselamatan warga negara Jepang di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Jepang secara resmi memilih untuk tidak memberikan dukungan maupun kritik terbuka atas serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sikap hati-hati ini muncul saat Tokyo terus mengumpulkan informasi intelijen mengenai situasi pasca-kematian Ayatollah Ali Khamenei yang mengguncang stabilitas Timur Tengah.

Perdana Menteri Sanae Takaichi segera menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga terkait guna menganalisis potensi gangguan pada transportasi laut dan udara. Oleh karena itu, fokus utama kabinet Takaichi saat ini adalah memitigasi dampak ekonomi nasional sembari memastikan keselamatan warga Jepang yang masih berada di kawasan konflik.

Dilema Aliansi dan Keamanan Energi

Sikap “menunggu dan melihat” yang Tokyo ambil mencerminkan posisi dilematis Jepang di panggung geopolitik. Di satu sisi, Amerika Serikat merupakan sekutu keamanan terlama dan terpenting bagi Jepang. Namun demikian, Jepang secara tradisional membangun hubungan persahabatan dengan Iran demi menjaga stabilitas pasokan minyak mentah.

Selanjutnya, kedaulatan jalur Selat Hormuz menjadi variabel paling krusial bagi Jepang yang miskin sumber daya. Jalur sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini merupakan urat nadi bagi kapal-kapal pengangkut minyak dan kargo menuju Jepang. Alhasil, setiap gangguan militer di wilayah tersebut akan berdampak langsung pada biaya energi dan inflasi di dalam negeri Jepang secara instan.

Baca Juga :  Krisis Taiwan: Beijing Pertegas Dukungan Unifikasi

Diplomasi Melalui Jalur Dialog

Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menyampaikan posisi resmi pemerintah dalam pembicaraan telepon dengan anggota G7 lainnya. Motegi menegaskan bahwa Jepang tetap mendukung upaya penyelesaian isu nuklir Iran “melalui jalur dialog”.

Meskipun begitu, Jepang secara tegas menyatakan bahwa pengembangan senjata nuklir oleh Teheran tidak boleh mendapatkan toleransi. “Jepang akan memaksimalkan upaya diplomatik dengan komunitas internasional guna meredam ketegangan,” ujar Motegi. Pernyataan ini menunjukkan keinginan Tokyo untuk tetap menjadi penengah yang rasional di tengah agresi militer yang kian memanas.

Perdebatan Politik di Diet

Ketegangan internasional ini merembat ke panggung politik domestik Jepang. Dalam program televisi nasional NHK pada hari Minggu, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Liberal (LDP), Shunichi Suzuki, menghindari kecaman terhadap serangan tersebut.

“Kita tidak bisa begitu saja mengutuk aksi tersebut, mengingat sikap Iran terhadap pengembangan nuklir selama ini,” tegas Suzuki. Sebaliknya, para anggota parlemen dari pihak oposisi memberikan teguran keras. Mereka berargumen bahwa serangan “dekapitasi” tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Oposisi mendesak pemerintah untuk bersikap lebih asertif dalam menentang penggunaan kekuatan militer sepihak yang membahayakan warga sipil.

Evakuasi dan Siaga Keamanan

Kementerian Luar Negeri Jepang telah mengeluarkan saran evakuasi bagi seluruh warga negaranya di Iran. Peringatan perjalanan juga diperluas ke negara-negara tetangga di Timur Tengah seiring meningkatnya risiko balasan militer dari proksi Iran.

Pada akhirnya, krisis di Teheran menjadi ujian berat bagi visi “Jepang yang Kuat” milik Takaichi. Pemerintah kini harus berpacu dengan waktu untuk mengamankan alternatif pasokan energi jika Selat Hormuz benar-benar tertutup akibat perang terbuka. Dunia kini menanti apakah Jepang mampu mempertahankan profil diplomatik “kawan bagi semua” atau terpaksa memihak dalam konfrontasi global yang kian tajam di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rusia Bersedia Terima Usulan Jaminan Keamanan dari Amerika Serikat
Pemuda Tewas Leher Nyaris Putus di Kebun Kopi Lampung Barat, Pelaku Diciduk di Sumsel
Kejatuhan El Mencho: Mengapa Kematian Gembong Meksiko Belum Melumpuhkan Jaringan Kartel di AS?
Kontrakan Prostitusi Online di Bogor Digerebek, 9 Orang Diamankan Polisi
Dua Debt Collector Penusuk Advokat di Tangsel Masih Buron, Polda Metro Kejar DPO
KPK Ingatkan Gratifikasi Parsel Lebaran 2026, ASN Wajib Lapor via GOL
Konflik Iran-Israel Lumpuhkan Penerbangan Global di Timur Tengah
Langit Kabul Membara: Pasukan Taliban Balas Serangan Udara Militer Pakistan

Berita Terkait

Minggu, 1 Maret 2026 - 19:17 WIB

Rusia Bersedia Terima Usulan Jaminan Keamanan dari Amerika Serikat

Minggu, 1 Maret 2026 - 19:01 WIB

Pemuda Tewas Leher Nyaris Putus di Kebun Kopi Lampung Barat, Pelaku Diciduk di Sumsel

Minggu, 1 Maret 2026 - 18:12 WIB

Kejatuhan El Mencho: Mengapa Kematian Gembong Meksiko Belum Melumpuhkan Jaringan Kartel di AS?

Minggu, 1 Maret 2026 - 17:56 WIB

Kontrakan Prostitusi Online di Bogor Digerebek, 9 Orang Diamankan Polisi

Minggu, 1 Maret 2026 - 17:26 WIB

KPK Ingatkan Gratifikasi Parsel Lebaran 2026, ASN Wajib Lapor via GOL

Berita Terbaru

Kemajuan di meja perundingan. Kepala staf Presiden Zelenskyy mengungkapkan bahwa Moskow bersedia menerima jaminan keamanan AS bagi Ukraina, meskipun pertemuan tingkat tinggi antar-presiden masih menemui jalan buntu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Rusia Bersedia Terima Usulan Jaminan Keamanan dari Amerika Serikat

Minggu, 1 Mar 2026 - 19:17 WIB