JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Harga minyak sawit mentah (CPO) global berpeluang besar untuk melonjak tajam dalam waktu dekat. Secara spesifik, para analis memproyeksikan bahwa harga komoditas tersebut dapat menyentuh $1,500 per ton metrik.
Kenaikan tajam ini diperkirakan akan berlangsung pada paruh kedua tahun 2026. Beberapa faktor utama meliputi tingginya harga minyak mentah dunia, program biodiesel domestik, serta ancaman cuaca buruk.
Dampak Biodiesel B50 dan Pasar Energi
Direktur Eksekutif Palm Oil Strategic Policy Institute (Paspi), Tungkot Sipayung, menjelaskan hubungan erat antara harga CPO dan pasar energi. Menurutnya, kerusakan sumur minyak akibat konflik Timur Tengah membutuhkan waktu pemulihan yang lama. Oleh sebab itu, harga minyak mentah dunia diperkirakan akan terus bertahan tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bank Dunia memproyeksikan harga minyak mentah Brent akan rata-rata berada pada level $86 per barel tahun ini. Angka ini jauh melampaui perkiraan rata-rata tahun 2025 yang hanya sebesar $69 per barel.
Sementara itu, Indonesia bersiap menerapkan pencampuran biodiesel B50 secara mandatori mulai 1 Juli mendatang. Kebijakan ini tentu akan menyerap sebagian besar pasokan minyak sawit untuk kebutuhan dalam negeri. Akibatnya, volume ekspor Indonesia, selaku produsen CPO terbesar di dunia, akan mengalami penurunan drastis.
Proyeksi Harga Global dan Penyesuaian Tarif Kemendag
Ancaman fenomena cuaca El Niño juga berpotensi memangkas hasil panen kelapa sawit secara signifikan. Dengan demikian, keterbatasan pasokan ini akan mengerek harga CPO global ke tingkat tertinggi.
Bank Dunia memproyeksikan harga rata-rata CPO global tahun ini mencapai $1,089 per ton. Sebagai perbandingan, harga rata-rata CPO pada tahun lalu hanya sebesar $1,007 dolar AS per ton.
Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) juga menunjukkan tren yang serupa. Sebagai contoh, harga CIF Rotterdam pada kuartal pertama tahun ini menyentuh $1,356 dolar AS per ton.
Meskipun demikian, Kementerian Perdagangan justru menurunkan harga referensi CPO untuk periode Juni sebesar 1,9%. Langkah ini menempatkan harga referensi pada level $1.029,51 per ton. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Tommy Andana, menyebut keputusan ini lahir dari melemahnya permintaan ekspor dari India.
Transformasi Ekspor Melalui Danantara
Pemerintah Indonesia juga tengah melakukan reformasi struktural besar-besaran di sektor ekspor komoditas strategis. Selanjutnya, otoritas resmi meluncurkan operasional Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada 1 Juni kemarin. Lembaga baru ini bertugas mengelola sistem ekspor satu pintu (single-gate) mulai 1 Januari 2027.
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto, menilai DSI memiliki potensi besar untuk berkembang pesat. Oleh karena itu, ia menyarankan pemerintah untuk mencontoh kesuksesan Malaysia dalam mengelola industri perkebunan.
Suroto menyamakan peran Danantara dengan Federal Land Development Authority (FELDA) di Malaysia. Sedangkan, DSI dapat beroperasi secara profesional layaknya perusahaan FGV Holdings Berhad. Dengan demikian, Indonesia dapat mengintegrasikan aset perkebunan negara untuk menyejahterakan para petani swadaya secara berkelanjutan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












