Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Sri Lanka Saat NATO Cegat Rudal di Turki

Kamis, 5 Maret 2026 - 06:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Konflik tanpa batas. Perang udara yang bermula di Teheran kini meluas hingga ke perairan Sri Lanka dan menyeret wilayah NATO, saat putra Ali Khamenei bersiap merebut takhta kepemimpinan tertinggi Iran. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Konflik tanpa batas. Perang udara yang bermula di Teheran kini meluas hingga ke perairan Sri Lanka dan menyeret wilayah NATO, saat putra Ali Khamenei bersiap merebut takhta kepemimpinan tertinggi Iran. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID – Saat Charles Darwin melamar untuk menjadi pendamping Kapten Robert Fitzroy dalam pelayaran kapal Beagle, ia hampir ditolak karena sebuah alasan yang tak masuk akal bagi standar modern: bentuk hidungnya. Fitzroy adalah penganut setia fisiognomi, sebuah keyakinan bahwa karakter seseorang terpancar dari rupa wajahnya.

Bagi Fitzroy, hidung Darwin tidak memancarkan energi yang cukup untuk seorang petualang. Beruntung bagi sejarah sains dunia, dahi Darwin dianggap mampu menutupi kekurangan hidungnya, sehingga ia tetap diizinkan ikut dalam misi yang nantinya melahirkan teori evolusi tersebut. Kisah ini menjadi pengingat betapa kuatnya pengaruh kesan pertama wajah dalam menentukan nasib seseorang.

Sejarah Panjang Fisiognomi: Dari Yunani ke Pseudosains

Ide bahwa wajah adalah jendela jiwa bukanlah hal baru. Bangsa Yunani kuno sudah mempraktikkannya, namun popularitasnya memuncak pada abad ke-18 melalui penyair Swiss, Johann Lavater. Di masa Darwin, fisiognomi dianggap sebagai pengetahuan umum yang diterima luas.

Namun demikian, seiring berjalannya waktu, subjek ini mulai petugas kaitkan dengan frenologi (studi tonjolan tengkorak) yang akhirnya kehilangan reputasi pada akhir abad ke-19. Sejak saat itu, fisiognomi resmi dianggap sebagai pseudosains. Meskipun begitu, insting manusia untuk menghakimi sesamanya berdasarkan penampilan tidak pernah benar-benar hilang. Dalam waktu hanya 0,1 detik saat melihat wajah asing, otak kita secara otomatis memberikan label: peduli, agresif, kompeten, atau ekstrovert.

Baca Juga :  DJ Donny Jadi Korban Teror Beruntun, Polisi Selidiki Bom Molotov dan Bangkai Ayam

“Butiran Kebenaran” dalam Riset Modern

Sejumlah psikolog kini mulai meneliti kembali apakah ada dasar nyata di balik penilaian cepat tersebut. Pada tahun 1966, psikolog di University of Michigan menemukan bahwa penilaian mahasiswa terhadap orang asing yang baru mereka temui selama 15 menit ternyata akurat untuk tiga sifat: ekstroversi, hati nurani, dan keterbukaan.

Selanjutnya, peneliti dari UK, Anthony Little dan David Perrett, menguji kembali temuan ini menggunakan foto. Hasilnya menunjukkan kaitan yang konsisten antara wajah dan kepribadian, terutama pada tingkat ekstroversi yang ekstrem. Bahkan, studi dari Brock University, Kanada, menemukan data yang lebih spesifik pada atlet hoki es. Mereka menemukan bahwa pemain dengan wajah yang lebih lebar secara statistik cenderung mendapatkan lebih banyak hukuman karena tindakan kekerasan di lapangan.

Teori Generalisasi Berlebihan dan Ancaman Persepsi

Mengapa otak kita begitu siap menghakimi wajah? Alexander Todorov dari Princeton University mengajukan teori “generalisasi berlebihan” (overgeneralisation). Menurutnya, kemampuan ini merupakan hasil evolusi manusia untuk segera mendeteksi emosi dan niat buruk orang lain demi pertahanan diri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasalnya, otak kita menyederhanakan semua respons menjadi dua faktor utama: seberapa tepercaya wajah tersebut dan seberapa dominan penampilannya. Meskipun penilaian ini tidak selalu akurat, ia sering kali menjadi “ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya” (self-fulfilling prophecy). Jika seseorang terus-menerus petugas perlakukan sebagai orang yang tidak jujur karena wajahnya, ia mungkin akhirnya akan berperilaku sesuai dengan ekspektasi negatif tersebut.

Baca Juga :  Aliansi Jepang-AS Runtuh Jika Tokyo Diam Saat Krisis Taiwan

Paradoks Wajah “Baby-Face”

Fenomena menarik lainnya muncul pada pria berwajah kekanak-kanakan (baby-faced). Secara alami, wajah imut memicu respons pengasuhan pada amigdala otak manusia. Namun, terdapat sebuah kelokan tak terduga yang petugas sebut sebagai self-defeating prophecy.

Data menunjukkan bahwa pria berwajah baby-face rata-rata memiliki pendidikan yang lebih baik, lebih asertif, dan lebih banyak memenangkan medali militer dibandingkan rekan mereka yang berwajah dewasa. Hal ini terjadi karena mereka berusaha keras untuk melawan ekspektasi masyarakat yang menganggap mereka lemah. Namun, sisi gelapnya adalah mereka juga memiliki statistik lebih tinggi untuk menjadi pelaku kriminal—sebut saja gembong Al Capone sebagai contoh nyatanya.

Pada akhirnya, kepribadian kita juga dapat membentuk wajah kita. Sebuah studi menemukan bahwa orang tua yang pemarah cenderung terlihat galak bahkan saat mereka mencoba berekspresi netral. Kerutan dan garis wajah akibat kemarahan selama bertahun-tahun seolah “membeku” dan meninggalkan jejak permanen. Sains membuktikan bahwa hubungan antara wajah dan jiwa adalah dialog dua arah yang kompleks, yang terus membentuk cara kita berinteraksi di dunia sosial yang semakin visual ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Awal dan Lebih Kering, Puncak Agustus
Penguasa Padang Rumput: Menelusuri Evolusi dan Sains di Balik Keluarga Bovidae
Imigrasi Bogor Bongkar Sindikat Scam Online 13 WN Jepang di Sentul City
Kasus Utang Berujung Penculikan, Ibu Jadi Otak Aksi di Bangkalan
Sains di Balik Gelitik: Mengapa Kita Tertawa?
Istana Gelar Bukber dengan Ulama Hari Ini, Isu Timur Tengah dan BoP Jadi Sorotan
Bahasa Tanpa Suara: Menyingkap Rahasia Sains di Balik Isyarat Tubuh
Diduga Curi Labu Siam, Lansia Tewas Dianiaya Tetangga di Cianjur, Pelaku Ditangkap Polisi

Berita Terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:27 WIB

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Awal dan Lebih Kering, Puncak Agustus

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:19 WIB

Penguasa Padang Rumput: Menelusuri Evolusi dan Sains di Balik Keluarga Bovidae

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:44 WIB

Imigrasi Bogor Bongkar Sindikat Scam Online 13 WN Jepang di Sentul City

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:20 WIB

Kasus Utang Berujung Penculikan, Ibu Jadi Otak Aksi di Bangkalan

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:05 WIB

Sains di Balik Gelitik: Mengapa Kita Tertawa?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Lebih dari sekadar geli. Sains mengungkap bahwa gelitik adalah refleks saraf yang bergantung pada kejutan, sementara humor merupakan proses kognitif kompleks yang melibatkan pusat kesenangan di otak. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Sains di Balik Gelitik: Mengapa Kita Tertawa?

Kamis, 5 Mar 2026 - 08:05 WIB