Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Politik adalah cermin manusia. Melalui kacamata Realisme Klasik Hans Morgenthau, kita memahami bahwa konflik global bukan sekadar masalah teknis diplomatik, melainkan manifestasi dari dorongan biologis manusia untuk mendominasi. Dok: Istimewa.

Politik adalah cermin manusia. Melalui kacamata Realisme Klasik Hans Morgenthau, kita memahami bahwa konflik global bukan sekadar masalah teknis diplomatik, melainkan manifestasi dari dorongan biologis manusia untuk mendominasi. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa dunia tidak pernah benar-benar mencapai perdamaian abadi meskipun institusi internasional telah menjanjikannya selama berabad-abad? Jawaban yang paling jujur, menurut para penganut Realisme Klasik, tidak terletak pada rusaknya sistem, melainkan pada apa yang ada di dalam hati setiap manusia.

Hans Morgenthau, arsitek utama teori ini, menegaskan bahwa politik adalah perjuangan memperebutkan kekuasaan. Oleh karena itu, untuk memahami mengapa perang tetap pecah di tahun 2026, kita tidak boleh hanya melihat pada draf perjanjian diplomatik. Kita harus berani melihat pada sifat dasar kekuasaan itu sendiri.

1. Animus Dominandi: Akar Biologis Keinginan Berkuasa

Morgenthau memperkenalkan konsep yang ia sebut sebagai animus dominandi. Istilah ini merujuk pada dorongan naluriah manusia untuk mendominasi sesamanya. Berbeda dengan kebutuhan biologis untuk makan atau berlindung, hasrat berkuasa tidak memiliki batas akhir yang memuaskan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasalnya, kekuasaan bukan sekadar alat untuk mencapai tujuan, melainkan tujuan itu sendiri. Manusia secara alami ingin diakui, dihormati, dan ditaati. Alhasil, dalam skala internasional, dorongan ini bertransformasi menjadi kebijakan luar negeri yang ekspansif. Ketika seorang pemimpin merasa negaranya memiliki kekuatan, ia akan cenderung menggunakannya untuk memperluas pengaruhnya. Sifat haus kekuasaan ini bersifat tetap dan tidak akan pernah bisa dihapuskan oleh kemajuan teknologi atau pendidikan moral.

Baca Juga :  Gangguan di Terminal 1: Polisi Selidiki Tas Tak Bertuan di Bandara Perth

2. Ego Pemimpin: Unsur Manusia dalam Kebijakan Luar Negeri

Meskipun sistem internasional bersifat anarkis, kebijakan sebuah negara tetaplah hasil keputusan individu. Realisme Klasik memberikan ruang besar bagi analisis terhadap psikologi dan ambisi personal para pemimpin dunia.

Selanjutnya, kebijakan luar negeri sering kali merupakan proyeksi dari ego sang pemimpin. Sebagai contoh, keinginan seorang presiden untuk mencatatkan namanya dalam sejarah atau rasa tidak aman (insecurity) pribadinya dapat mendorong negara ke dalam petualangan militer yang berisiko tinggi. Bahkan, Morgenthau mengingatkan bahwa kepentingan nasional sering kali “petugas definisikan sebagai kekuasaan” oleh para elit politik. Ego ini membuat meja perundingan menjadi sangat emosional dan sulit diprediksi, karena bagi seorang pemimpin, kekalahan diplomatik sering kali dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat pribadinya.

3. Kritik terhadap Moralitas Universal di Dunia yang Anarkis

Salah satu poin paling kontroversial dari pemikiran Morgenthau adalah pemisahannya antara moralitas individu dan moralitas politik. Ia berargumen bahwa tidak ada standar moral universal yang bisa menjadi pedoman bagi tindakan negara.

Baca Juga :  Bukti Baru Kejahatan Perang Jepang: Rusia Serahkan Arsip Unit 731 ke China

Meskipun begitu, banyak pihak mencoba membungkus ambisi kekuasaan mereka dengan bahasa moralitas atau hukum internasional. Morgenthau menyebut tindakan ini sebagai “ideologi” yang berbahaya. Sebab, memaksakan visi moral satu negara kepada negara lain justru akan memicu konflik yang lebih besar. Bagi seorang negarawan, kebajikan tertinggi bukanlah kepatuhan pada aturan abstrak, melainkan kebijaksanaan (prudence) untuk menjaga kelangsungan hidup negaranya. Oleh sebab itu, mengabaikan realitas kekuasaan demi mengejar utopia moral hanya akan membawa bangsa pada bencana.

Kesimpulan: Menghadapi Realitas yang Pahit

Realisme Klasik menawarkan pandangan yang mungkin terasa kelam, namun sangat jujur. Selama manusia masih menjadi penggerak politik, maka ambisi dan persaingan kekuasaan akan selalu ada.

Pada akhirnya, perdamaian hanya bisa tercapai melalui keseimbangan kekuatan (balance of power), bukan melalui janji-janji hampa mengenai persaudaraan universal. Kita harus menerima bahwa konflik adalah konsekuensi alami dari keberagaman ambisi manusia. Dengan memahami batasan dari sifat dasar kita, para pemimpin dunia di tahun 2026 diharapkan dapat lebih bijaksana dalam mengelola persaingan, agar nafsu berkuasa tidak berubah menjadi api yang membakar seluruh peradaban manusia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Viral Pelajar Dibacok di Palmerah Jakarta Barat, Korban Alami 7 Jahitan
Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru
Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga
Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius
Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:30 WIB

Viral Pelajar Dibacok di Palmerah Jakarta Barat, Korban Alami 7 Jahitan

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:12 WIB

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:07 WIB

Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga

Kamis, 11 Juni 2026 - 05:35 WIB

Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Berita Terbaru

Mengamankan jalur energi regional. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan PM Malaysia Anwar Ibrahim memperkuat kemitraan maritim serta jaminan pasokan LNG di tengah krisis Timur Tengah. (David Mareuil/Pool Photo via AP)

INTERNASIONAL

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Jun 2026 - 06:12 WIB

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB