Diplomasi di Tengah Krisis: Misi Sulit Sanae Takaichi Menemui Donald Trump

Jumat, 13 Maret 2026 - 14:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Navigasi di tengah konflik. PM Sanae Takaichi akan bertolak ke Washington guna membahas serangan militer AS-Israel ke Iran, sembari menginstruksikan kapal-kapal Jepang untuk menjauhi Teluk Persia demi keamanan energi. Dok: Reuters.

Navigasi di tengah konflik. PM Sanae Takaichi akan bertolak ke Washington guna membahas serangan militer AS-Israel ke Iran, sembari menginstruksikan kapal-kapal Jepang untuk menjauhi Teluk Persia demi keamanan energi. Dok: Reuters.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Sanae Takaichi akan melakukan kunjungan krusial ke Washington pekan depan untuk bertemu Presiden Donald Trump. Takaichi berjanji akan bersikap “terbuka” kepada Trump mengenai dampak berat perang Iran terhadap Jepang. Pertemuan pada 19 Maret ini menjadi ujian besar bagi hubungan personal kedua pemimpin yang sebelumnya cukup akrab.

Jepang saat ini sangat menderita akibat konflik di Timur Tengah. Sebagai ekonomi terbesar keempat dunia, Jepang mengimpor 95 persen minyaknya dari wilayah tersebut. Sebanyak 70 persen pasokan energi tersebut harus melewati Selat Hormuz yang kini praktis tertutup. Kondisi ini membuat biaya impor Jepang membengkak drastis.

Beban Ekonomi dan Melemahnya Yen

Krisis energi ini menghantam Jepang dari dua arah sekaligus. Selain harga minyak yang menembus $100 per barel, nilai tukar Yen terus merosot terhadap Dolar AS. Kondisi ini membuat harga setiap barel minyak mentah menjadi jauh lebih mahal bagi pasar domestik. Takaichi pun mengambil langkah darurat dengan melepas cadangan minyak strategis nasional.

Baca Juga :  Trump Pilih Kevin Warsh Jadi Ketua The Fed

Tekanan ekonomi ini mulai menggerus popularitas Takaichi di dalam negeri. Padahal, ia baru saja memenangkan pemilu dengan kemenangan besar empat pekan lalu. Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan biaya energi akan memicu lonjakan harga pangan. Biaya produksi pupuk yang bergantung pada gas alam berisiko membuat harga bahan pokok melonjak kembali.

Dilema Dukungan dan Keamanan Nasional

Dalam ranah diplomatik, Takaichi bersikap sangat hati-hati. Ia menahan diri untuk tidak mengkritik perang secara langsung agar tidak memicu kemarahan Trump. Tokyo tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Amerika Serikat adalah penjamin utama keamanan Jepang dengan 60.000 tentara di wilayah mereka.

Namun, Takaichi khawatir fokus Washington mulai terpecah dari Asia-Pasifik. Laporan terbaru menunjukkan dua kapal perusak AS yang biasanya berbasis di Jepang telah bergeser ke Laut Arab. Jepang ingat betul bagaimana sumber daya AS tersedot selama puluhan tahun di Afghanistan dan Irak. Takaichi perlu memastikan bahwa Trump tetap waspada terhadap ancaman multifaset dari Tiongkok.

Baca Juga :  TamΓ‘m Shud: Misteri Mayat di Pantai Adelaide

Diplomasi Investasi senilai $550 Miliar

Untuk meluluhkan hati Trump, Jepang membawa modal besar berupa komitmen investasi. Tokyo menjanjikan investasi senilai $550 miliar di Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, Jepang berharap Trump menurunkan tarif impor dari 25 persen menjadi 15 persen. Janji ini tetap berlaku meski Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global Trump bulan lalu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pekan depan, kedua pihak kemungkinan akan mengumumkan rincian proyek infrastruktur baru senilai $36 miliar. Takaichi akan menggunakan hubungan pribadinya untuk meyakinkan Trump bahwa stabilitas ekonomi Jepang sangat penting bagi strategi AS. Ia ingin Trump melihat bahwa ancaman Tiongkok, baik secara ekonomi maupun keamanan, tetap menjadi tantangan jangka panjang yang tidak boleh terabaikan oleh konflik di Timur Tengah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Beirut Membara: Serangan Israel Sasar Jantung Kota, 800 Ribu Warga Lebanon Mengungsi
Mojtaba Khamenei Bersumpah Tutup Selat Hormuz
Korea Utara Tuduh Tokyo Persiapkan Invasi Ulang
Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 4,3 Kg Ganja di Depok, Satu Pengedar Ditangkap
KPK Bongkar Skandal Kuota Haji: Gus Yaqut Diduga Terima Fee Percepatan Rp84 Juta per Jamaah
BMKG Peringatkan Banjir Rob Lebaran 2026, Puluhan Wilayah Pesisir Indonesia Terancam
Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Jakarta Cerah Berawan, Bogor dan Depok Diguyur Hujan
Polisi Tangkap Dukun Pengganda Uang di Depok, Ribuan Dolar Palsu Disita

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 16:30 WIB

Beirut Membara: Serangan Israel Sasar Jantung Kota, 800 Ribu Warga Lebanon Mengungsi

Jumat, 13 Maret 2026 - 16:00 WIB

Mojtaba Khamenei Bersumpah Tutup Selat Hormuz

Jumat, 13 Maret 2026 - 15:30 WIB

Korea Utara Tuduh Tokyo Persiapkan Invasi Ulang

Jumat, 13 Maret 2026 - 14:51 WIB

Diplomasi di Tengah Krisis: Misi Sulit Sanae Takaichi Menemui Donald Trump

Jumat, 13 Maret 2026 - 10:28 WIB

Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 4,3 Kg Ganja di Depok, Satu Pengedar Ditangkap

Berita Terbaru

Konfrontasi tanpa akhir. Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menegaskan Selat Hormuz tetap tertutup, sementara Benjamin Netanyahu mengeluarkan ancaman pembunuhan secara terbuka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mojtaba Khamenei Bersumpah Tutup Selat Hormuz

Jumat, 13 Mar 2026 - 16:00 WIB

Foto, Ketegangan di Asia Timur meningkat. Korea Utara menuduh percepatan pengembangan rudal jarak jauh Jepang sebagai persiapan untuk melakukan

INTERNASIONAL

Korea Utara Tuduh Tokyo Persiapkan Invasi Ulang

Jumat, 13 Mar 2026 - 15:30 WIB