NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat dan sekutu Barat terlibat bentrokan diplomatik sengit dengan Rusia dan China di markas PBB pada Kamis. Washington menggunakan panggung Dewan Keamanan untuk memperkuat pembenaran atas perang yang mereka luncurkan terhadap Iran. Perdebatan ini menyoroti perpecahan tajam mengenai ambisi nuklir Teheran.
Rusia dan China sempat mencoba memblokir diskusi mengenai Komite 1737 yang bertugas mengawasi sanksi PBB terhadap Iran. Namun, upaya tersebut gagal setelah pemungutan suara berakhir dengan skor 11-2 untuk keunggulan AS. Washington pun melangkah maju untuk menekan penegakan embargo senjata dan pembekuan aset keuangan Iran.
Tuduhan Perlindungan terhadap Teheran
Utusan AS untuk PBB, Mike Waltz, melontarkan tuduhan keras terhadap Moskow dan Beijing. Ia menuduh kedua negara tersebut sengaja menghalangi kerja komite sanksi untuk melindungi mitra mereka, Iran. Menurut Waltz, semua anggota PBB seharusnya menerapkan embargo senjata dan melarang perdagangan teknologi rudal dengan Teheran.
Waltz menegaskan bahwa sanksi tersebut bertujuan untuk mengatasi ancaman program nuklir dan dukungan Iran terhadap terorisme. Ia merujuk pada laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang menyebut Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen. Sejauh ini, Iran menjadi satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang memiliki stok uranium pada tingkat setinggi itu.
Rusia dan China Sebut AS Tebar Histeria
Duta Besar Rusia, Vasily Nebenzya, membalas tuduhan tersebut dengan menyebut AS sedang memicu “histeria”. Ia berpendapat bahwa rencana Iran untuk memiliki senjata nuklir tidak pernah terbukti dalam laporan IAEA. Menurutnya, Washington sengaja menciptakan narasi tersebut untuk membenarkan petualangan militer baru di Timur Tengah.
Senada dengan Rusia, perwakilan China Fu Cong menyebut Washington sebagai “penghasut” krisis nuklir Iran. China menilai AS menggunakan kekuatan militer secara terang-terangan saat proses negosiasi masih berlangsung. Tindakan ini dianggap merusak upaya diplomatik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Dukungan Sekutu dan Ambang Batas Nuklir
Inggris dan Prancis berdiri kokoh di samping Amerika Serikat. Mereka menegaskan bahwa pengenaan kembali sanksi terhadap Iran sangat beralasan. Prancis bahkan menyatakan bahwa IAEA tidak lagi mampu menjamin sifat damai dari program nuklir Teheran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan laporan intelijen Barat, stok nuklir Iran saat ini sudah cukup untuk memproduksi sepuluh perangkat nuklir. Meskipun Presiden Donald Trump mengeklaim Iran bisa memiliki senjata nuklir dalam dua minggu, beberapa sumber intelijen AS menyebut klaim tersebut berlebihan. Namun, Washington tetap menjadikan risiko nuklir ini sebagai alasan utama untuk menghancurkan situs-situs strategis di Iran.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















