BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Israel dan Lebanon berpeluang melakukan dialog langsung dalam waktu dekat. Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan kemungkinan terobosan diplomatik ini pada hari Sabtu. Langkah tersebut menjadi sejarah besar karena kedua negara secara formal masih dalam status perang sejak 1948.
Tiga pejabat Lebanon mengonfirmasi bahwa Beirut sedang membentuk delegasi untuk perundingan tersebut. Namun, pemerintah Lebanon masih menunggu kepastian mengenai kerangka waktu acara. Presiden Joseph Aoun menuntut gencatan senjata penuh sebagai syarat utama sebelum negosiasi dimulai.
Delegasi Lintas Agama dan Boikot Kelompok Syiah
Pemerintah Lebanon telah memilih perwakilan dari kalangan Kristen, Muslim Sunni, dan Druze. Langkah ini bertujuan untuk menunjukkan persatuan nasional di meja perundingan. Lokasi pertemuan kemungkinan besar berada di Paris atau Siprus dengan melibatkan menantu Donald Trump, Jared Kushner.
Namun, aliansi Syiah pimpinan Ketua Parlemen Nabih Berri menolak ikut serta. Berri meyakini bahwa Israel tidak akan memberikan konsensus apa pun kepada delegasi Lebanon. Perpecahan internal ini mencerminkan ketegangan antara pemerintah resmi dengan kekuatan bersenjata Hezbollah yang selama ini dianggap sebagai “negara dalam negara”.
Peringatan Militer Israel terhadap Ambulans
Di medan tempur, militer Israel mengeluarkan peringatan yang sangat serius. Mereka menuduh Hezbollah menggunakan ambulans secara ekstensif untuk kepentingan militer. Juru bicara militer Israel, Avichai Adraee, menegaskan bahwa praktik tersebut harus segera berhenti.
Israel mengancam akan menyerang setiap fasilitas medis yang terbukti menjadi basis teroris. “Kami akan bertindak sesuai hukum internasional terhadap aktivitas militer di dalam ambulans,” tulis Adraee di media sosial X. Namun, pihak Hezbollah membantah keras tuduhan penggunaan fasilitas medis untuk keperluan perang tersebut.
Ancaman “Gaza-isasi” Beirut dan Korban Medis
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 26 petugas medis tewas sejak serangan bermula pada 2 Maret. Tekanan psikologis juga meningkat setelah pesawat Israel menjatuhkan selebaran di atas langit Beirut. Selebaran itu mengancam akan menghancurkan Lebanon seperti kehancuran yang terjadi di Gaza.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, Israel terus mengintensifkan kampanye militernya terhadap posisi Hezbollah di seluruh Lebanon. Pimpinan Hezbollah, Naim Qassem, menyatakan kelompoknya siap menghadapi konfrontasi jangka panjang. Situasi kemanusiaan kian kritis dengan lebih dari 800.000 warga yang kini terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















